Warisan terbesar Guru adalah Buku, Fiksi, Non Fiksi, Atau satu huruf Alif sekalipun! Agar mengundang banyak tanya bagi anak-didik kita? Maka, Menulislah seperti orang jatuh cinta (Kata Kang Mashuri, Penyair Muda Jawa Timur an) Tanpa Cinta dengan profesi kita. Kita memang tak membuahkan apa-apa. Hanya getah dan busa tak bermakna Yang kita wariskan. Dan, itu racun bagi anak didik kita! Mengapa kita tak meracik anti virus (Buku) yang menyehatkan Dan membahagiakan anak-didik kita?
Minggu, 22 Januari 2023
Senin, 16 Januari 2023
Dimensi Kompetensi Kepala Sekolah, Apa Saja?
Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin
Pemimpin (leader) adalah seorang yang mempunyai sifat-sifat kepemimpinan personality atau authority (berwibawa). Ia disegani dan memiliki wibawa terhadap bawahannya karena kecakapan dan kemampuan serta didukung oleh perilakunya yang baik. Pemimpin juga harus bisa memimpin organisasi formal dan informal, serta menjadi panutan bagi para bawahannya. Biasanya kepemimpinannya adalah bertipe partisipatif leader dan berfalsafah pimpinan untuk bawahan.
Kepemimpinan dalam bidang pendidikan lebih mengarah kepada pendayagunaan seluruh potensi organisasi serta memposisikan bawahan sebagai penentu keberhasilan pencapaian organisasi, maka sentuhan terhadap faktor-faktor yang dapat meningkatkan moral kerja dan semangat untuk berprestasi menjadi fokus utama. Sehingga pimpinan memiliki fungsi dasar mengarahkan dan menggerakkan seluruh bawahannya untuk bergerak pada arah atau tujuan yang sama.
Tugas pokok kepala sekolah sebagai pemimpin adalah mengatur situasi, mengendalikan kegiatan kelompok / organisasi / lembaga, dan dapat menjadi juru bicara kelompok. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, terutama untuk mendayagunakan masyarakat dan lingkungan sekitar, kepala sekolah dituntut untuk berperan ganda, baik sebagai catalyst, solution givers, process helpers, dan resource linker.
Sebagai Catalyst, maksudnya adalah kepala sekolah mampu meyakinkan pihak lain akan perlunya perubahan kepada kondisi yang lebih baik. Solution giver, artinya kepala sekolah mengingatkan tentang tujuan akhir dari perubahan. Process helper, artinya kepala sekolah ikut terlibat membantu kelancaran proses perubahan, menyelesaikan masalah dan membina hubungan antar pihak terkait. Sedangkan Resource linker, artinya kepala sekolah dapat menghubungkan orang dengan sumber dana yang dibutuhkan.
Kepala Sekolah Sebagai Manajer
Apa itu pengertian manajer? Gorton & Alston dalam bukunya yang berjudul School Leadership & Administration: Important Concepts, Casestudies, & Simulations mengemukakan bahwa manager are people who do things right, are leaders all people who do the right things and good managers handle the routine daily jobs. yang artinya: manajer adalah orang-orang yang melakukan hal-hal dengan benar, adalah pemimpin semua orang yang melakukan hal-hal yang benar dan manajer yang baik menangani pekerjaan rutin sehari-hari.
Kepala sekolah sebagai manajer memiliki peranan vital terhadap keberhasilan sebuah sekolah. Kepala sekolah adalah pemimpin sekolah yang bertanggung jawab mewujudkan tujuan sekolah. Menurut Wahjosumidjo, fungsi manajerial kepala sekolah tidak lepas dari kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan usaha anggota organisasi serta memberdayakan sumber daya pendidikan yang tersedia secara optimal untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
Fungsi kepala sekolah sebagai seorang manajer setidaknya dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Perencanaan (planning)
Menurut Rohmat dalam bukunya Kepemimpinan Pendidikan, Konsep dan Aplikasi mengatakan bahwa sebagai manajer, kepala sekolah harus menjalaknkan fungsi manajemen yang berhubungan dengan aspek perencanaan seperti:
- menentukan tujuan sekolah
- merumuskan program pendidikan
- menyusun strategi pengembangan
- menentukan standarisasi pencapaian tujuan
2. Pengorganisasian (organizing)
Masih dalam buku Wahjosumidjo, menurut Stoner, ada delapan macam fungsi seorang manajer dalam suatu organisasi:
- bekerja dengan dan melalui orang lain
- bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan
- mampu menghadapi berbagai persoalan, meski waktu dan sumber daya terbatas
- berpikir realistis dan konseptual
- menjadi juru penengah
- berpikir seperti seorang politisi
- mampu menjadi diplomat
- mampu mengambil keputusan sulit
3. Penggerakan (actuating)
Penggerakan adalah aktivitas seorang manajer dalam memerintah, menugaskan, menjuruskan, mengarahkan serta menuntun bawahan dan personil organisasi untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan dalam mencapai tujuan.
4. Pengawasan (controlling)
Menurut Ralph Tyler yang dikutip Arikunto dalam bukunya Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai.
- Menyusun perencanaan sekolah.
- Mengelola program pembelajaran.
- Mengelola kesiswaan.
- Mengelola sarana dan prasarana.
- Mengelola personal sekolah.
- Mengelola keuangan sekolah.
- Mengelola hubungan sekolah dan masyarakat.
- Mengelola administrasi sekolah.
Dimensi Kompentensi Kewirausahaan
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengembang kewirausahaan, seorang kepala sekolah harus memenuhi kriteria kompetensi sebagai gerikut:
- Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah
- Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif
- Memiliki motivasi kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah
- Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang terjadi di sekolah/madrasah
- Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan sekolah/madrasah sebagai sumber balajar
Rincian Tugas Kepala Sekolah Dalam Pengembangan Kewirausahaan
Kepala sekolah memiliki tugas mengadakan pengembangan kewirausahaan terhadap kedelapan standar nasional pendidikan dengan memperkuat jiwa (naluri) kewirausahaan, yaitu menciptakan inovasi, kerja keras, memiliki motivasi yang kuat dan semangat pantang menyerah.
Naluri (jiwa) kewirausahaan ini sangat bermanfaat untuk pengembangan sekolah dengan lebih optimal sehingga dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi dan bermuara kepada peningkatan kualitas sekolah yang dipimpinnya. Selain itu, jiwa kewirausahaan yang kuat yang dimiliki oleh kepala sekolah sangat bermanfaat bagi pelaksanaan kurikulum secara utuh serta pengembangan sekolah dalam menghadapi era digital dan pengembangan industri yang sedang berlangsung saat ini.
Adapun langkah-langkah yang diperlukan untuk mengembangkan program kewirausahaan di sekolah adalah diantaranya dengan meningkatkan jiwa kewirausahaan dan mengembangkan program kewirausahaan di sekolah. Peningkatan jiwa kewirausahaan dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan seperti:
- mengidentifikasi perilaku inovatif;
- mengidentifikasi perilaku kerja keras;
- mengidentifikasi motivasi yang kuat;
- mengidentifikasi perilaku pantang menyerah; dan
- mengidentifikasi jiwa kewirausahaan.
Kegiatan mengidentifikasi perilaku-perilaku kewirausahaan tersebut bertujuan untuk mengukur kekuatan jiwa kewirausahaan kepala sekolah agar dapat memenuhi standar kompetensi kewirausahaan kepala sekolah sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Kegiatan yang dilakukan untuk pengembangan program kewirausahaan adalah mengidentifikasi apa saja program inovatif, program perilaku kerja keras, program motivasi yang kuat, program pantang menyerah yang sudah dikembangkan dan yang belum dikembangkan di sekolah.
A. Tugas Kepala Sekolah Sebagai Administrator
Dalam menjalankan fungsi dan pekerjaannya sebagai administrator, kepala sekolah harus mampu melaksanakan dan melaksanakan dengan baik. Untuk itu kepala sekolah harus kreatif, memiliki ide-ide dan inisiatif yang menunjang perkembangan sekolah. Rangkaian tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah
1 . Membuat perencanaan
Perencanaan yang harus dilakukan oleh kepala sekolah antara lain menyusun program tahunan sekolah yang mencakup program pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, dan penyediaan fasilitas-fasilitas yang diperlukan. Perencanaan ini selanjutnya dimanifestasikan dalam rencana tahunan sekolah yang disusun dalam dua semester program. Program pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, sarana dan prasarana
2. Kepala sekolah bertugas menyusun struktur organisasi sekolah
Organisasi memainkan peran penting dalam fungsi administrasi karena merupakan tempat pelaksanaan semua kegiatan administrasi. Selain itu, dilihat dari fungsinya organisasi juga menetapkan dan menyusun hubungan kerja seluruh anggota organisasi agar tidak terjadi tumpang tindih dalam melakukan tugas masing-masing. Organisasi penyusunan merupakan tugas kepala sekolah sebagai administrator pendidikan. Sebelum ditetapkan, proses penyusunan organisasi sebaiknya dirundingkan bersama-sama dengan seluruh anggota agar hasil yang diperoleh benar-benar merupakan kesepakatan bersama. Selain membuat susunan struktur organisasi, kepala sekolah juga bertanggung jawab untuk mendelegasikan tugas-tugas dan berwenang kepada setiap anggota administrasi sekolah sesuai dengan struktur organisasi yang ada.
3. Kepala sekolah sebagai koordinator dalam organisasi sekolah
Pengoordinasian organisasi sekolah ini merupakan tanggung jawab dari kepala sekolah. Dalam melakukan koordinasi ini sebaiknya kepala sekolah bekerja sama dengan berbagai pihak dalam organisasi agar koordinasi yang dilakukan dapat menyelesaikan semua hambatan dan halangan yang ada.
4. Kepala sekolah mengatur kepegawaian dalam organisasi sekolah
Berbagai tugas yang berhubungan dengan kepegawaian merupakan wewenang kepala sekolah sepenuhnya. Kepala sekolah mempunyai wewenang untuk mengangkat pegawai, mempromosikan, menempatkan dan atau menerima pegawai baru. Pengelolaan kepegawaian ini akan berjalan dengan baik jika kepala sekolah memperhatikan kesinambungan antara pemberian tugas dan dengan kondisi dan kemampuan pelaksanaannya.
B. Tugas Kepala Sekolah Sebagai Supervisor
Supervisi merupakan salah satu tugas pokok dalam administrasi pendidikan dan bukan hanya merupakan tugas pekerjaan para inspektur maupun pengawas saja melainkan juga tugas kepala sekolah terhadap pegawai-pegawai sekolahnya.
1. Pengawasan
Sebelum menjabarkan tugas seorang kepala sekolah sebagai supervisor, kita perlu mengingat kembali pengertian supervisi. Pengawasan adalah kegiatan yang menentukan kondisi atau syarat-syarat esensial yang akan menjamin tercapainya tujuan pendidikan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka mandat kepala sekolah sebagai supervisor sedang mempelajari, mencari dan menentukan syarat-syarat apa saja yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya. Kepala sekolah harus jeli meneliti syarat-syarat apa yang telah ada dan tercukupi, dan apa yang belum ada atau kurang maksimal.
2. Prinsip Pengawasan
Dari penjelasan di atas kita dapat mengetahui berapa banyak dan tanggung jawab besar kepala sekolah sebagai supervisor. Oleh karena itu, seperti yang dikatakan oleh Moh. Rifai, MA untuk menjalankan pengawasan tindakan-tindakan sebaik-baiknya, kepala sekolah memberi perhatian kepada beberapa prinsip di bawah ini:
- Pengawasan harus bersifat konstruktif, yaitu pada yang dibimbing dan diawasi harus menimbulkan dorongan untuk bekerja.
- Pengawasan kecanduan berdasarkan keadaan dan kenyataan yang sebenarnya (realistis dan mudah dilaksanakan).
- Supervisi harus dapat memberi perasaan aman pada guru-guru/pegawai sekolah yang disupervisi.
- Pengawasan harus sederhana dan informal dalam pelaksanaannya.
- Pengawasan harus berdasarkan hubungan profesional, bukan atas dasar hubungan pribadi.
- Pengawasan harus selalu memperhitungkan kesanggupan, sikap dan mungkin kelonggaran guru-guru/pegawai sekolah.
- Supervisi tidak bersifat mendesa (otoriter), karena dapat menimbulkan perasaan gelisahatau antisipasi dari guru-guru/pegawai.
- Pengawasan tidak boleh didasaran atas pangkat pangkat, pangkat atau kekuasaan pribadi.
- Pengawasan tidak boleh bersifat menemukan kesalahan dan kekurangan (ingat bahwa pengawasan tidak sama dengan inspeksi).
- Pengawas tidak boleh mengharapkan hasil terlalu cepat dan tidak boleh merasa kecewa.
- Pengawasan bersifat preventif, korektif dan kooperatif. Preventif artinya berusaha jangan sampai timbul/terjadi hal-hal yang negatif, mengusahakan memenuhi syarat-syarat sebelum terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Korektif artinya mencari-cari kesalahan atau kekurangan serta upaya perbaikan yang dilakukan bersama-sama oleh supervisor dan orang-orang yang disupervisi
Sumber:
https://www.mysch.id/blog/detail/125/tugas-kepala-sekolah
Minggu, 08 Januari 2023
Menyusun Latar Belakang Masalah PTK, Bagaimana?
Di bagian BAB I, Pendahuluan, ada Sub Bab, yaitu Latar Belakang Masalah.
Dalam berbagai forum guru sering mengeluh tentang sulitnya membuat latar belakang masalah PTK. Latar belakang masalah PTK tentu maksudnya adalah alasan alasan mengapa seorang guru perlu melakukan PTK.
Banyak kelemahan yang ditemukan yang membuat analisis permasalahan menjadi tidak tajam. Ketajaman analisis permasalahan berpengaruh pada tindakan tindakan yang akan diambil.
Kelemahan yang yang dijumpai ketika para peneliti adalah dalam menyusun latar belakang masalah biasanya disebabkan karena:
1)permasalahan tidak diambil dari permasalahan nyata di kelas terkesan dibuat buat; tidak menyertakan data data yang mendukung analisis masalah tersebut;
2) tidak ditemukan celah atau potensi untuk perbaikan /tindakan yang akan dilakukan;
3) masalah terlalu luas (rumusan tidak fokus);
4)latar belakang masalah tidak ditunjukan alasan pemilihan alternatif pemecahan masalah;
5)dan rumusan masalah tidak mencerminkan adanya tindakan dan gambaran perubahan tingkah laku.
Menulis latar belakang dengan baik mutlak perlu dilakukan mengingat bagian ini merupakan komponen penting dalam proposal PTK yang selanjutnya akan dimasukan juga dalam Laporan PTK.
Mengingat begitu pentingnya bagian latar belakang masalah ini, maka paling tidak bagian ini memuat beberapa unsur penting yang tercermin dalam beberapa paragraf yang bertautan satu sama lain.
Latar belakang Masalah PTK setidaknya berisi paragraf yang memuat hal-hal yang seharusnya (ideal) dan kenyataan yang terjadi.
Masalah merupakan kesenjangan antara yang diharapkan (hal-hal yang ideal) dan kenyataan yang dihadapi. Peneliti ingin mempersempit jarak antara kedua hal tersebut atau memperbaiki kesenjangan yang ada.
Oleh karenanya, dalam latar belakang juga dijelaskan alasan mengapa kesenjangan tersebut diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya serta bagaimana dampaknya jika masalah tersebut dibiarkan berlarut larut.
Latar belakang masalah PTK yang baik setidaknya memiliki beberapa unsur berikut:
(1)Kondisi ideal di dalam kelas/pembelajaran yang diharapkan oleh guru/peneliti;
(2) Kenyataan yang saat ini sedang terjadi yang dihadapi guru/peneliti;
(3) Kesenjangan antara kondisi ideal dengan kenyataan yang dihadapi beserta penyebab munculnya kesenjangan tersebut. Penyebab munculnya masalah ini disebut juga dengan akar masalah;
(4) Urgensi penyelesaian masalah, atau dengan kata lain dampak-dampak negatif jika permasalahan di kelas/pembelajaran guru tersebut tidak diselesaikan;
(5) Alternatif solusi/pemecahan masalah berupa tindakan yang diperkirakan dapat menyelesaikan masalah. Jika kelima hal tersebut termuat dalam latar belakang masalah sebuah penelitian tindakan kelas, maka latar belakang tersebut dapat dikatakan baik.
Berikut ini, contoh Latar Belakang Masalah, yaitu:
Contoh 1:
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pada pembelajaran IPA, pemahaman terhadap konsep-konsep esensial sangat penting. Pemahaman terhadap konsep-konsep esensial yang baik akan membuat peserta didik menempatkan konsep-konsep tersebut dalam sistem memori jangka panjang (long term memory) dan dapat menggunakannya untuk berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi (higher level thinking) seperti pemecahan masalah dan berpikir kreatif. Pemahaman konsep-konsep esensial yang baik semestinya akan mempermudah mereka dalam mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah.
Kenyataan saat ini di kelas VIIIB SMP Negeri 4 Amuntai masih jauh dari kondisi ideal tersebut. Pemahaman terhadap konsep-konsep esensial pada mata pelajaran IPA untuk materi bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari masih rendah (rata-rata kelas 63,28). Selain itu jumlah peserta didik yang berhasil mencapai dan melampaui KKM kurang dari 75%. KKM mata pelajaran IPA pada Tahun Pelajaran 2010/2011 yang lalu adalah ≥ 61. Jumlah peserta didik yang berhasil mencapai dan melampaui KKM yang kurang dari 75% ini menyebabkan guru harus melakukan pembelajaran remedial secara klasikal. Kemudian, KKM mata pelajaran IPA pada Tahun Pelajaran 2011/2012 ini telah ditingkatkan menjadi ≥ 65, hal ini juga berarti bahwa kemungkinan persentase peserta didik yang tidak dapat mencapai KKM yang dinaikkan tersebut semakin besar.
Beberapa kemungkinan penyebab rendahnya pemahaman peserta didik tentang materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari sehingga berakibat pada rendahnya nilai rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal yang tidak tercapai adalah: (1) materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari merupakan materi yang sangat banyak mengandung konsep-konsep bidang kimia dengan istilah-istilah yang sulit diingat dan dipahami; (2) strategi pembelajaran yang digunakan masih belum cukup untuk memfasilitasi pemerolehan pehamaman bagi peserta didik.
Kondisi demikian apabila terus dibiarkan akan berdampak buruk terhadap kualitas pembelajaran mata pelajaran IPA di Kelas VIIIB tersebut khususnya, dan di SMPN 4 Amuntai secara keseluruhan. Padahal, materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari merupakan salah satu materi esensial dalam kurikulum. Hal ini tercermin dari selalu termuatnya materi ini dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Ujian Nasional (UN) pada 3 tahun terakhir ini.
Salah satu alternatif pemecahan masalah di atas yang mungkin untuk dilaksanakan oleh guru adalah melaksanakan pembelajaran IPA dengan menggunakan strategi memory cycle. Menurut Sprenger (2005), pembelajaran yang dilakukan dengan stretegi memory cycle yang terdiri dari 7 langkah (reach, reflect, recode, reinforce, rehearse, review, dan retrieve) memungkinkan peserta didik untuk dapat menyimpan konsep-konsep esensial yang diberikan dalam memori jangka panjang (long term memory) dan memungkinkan mereka untuk menggunakan konsep-konsep saat berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi (higher level thinking).
Contoh 2: Latar Belakang Masalah
Proses belajar akan terjadi jika pengetahuan yang dipelajari bermakna bagi pembelajar (Freudental, 1991 dalam buku Ariyadi Wijaya, 2011:3). Pembelajaran matematika selama ini dipandang sebagai alat yang siap pakai. Pandangan ini mendorong guru bersikap cenderung memberi tahu konsep dan cara menggunakannya. Pembelajaran matematika terfokus pada guru, sehingga siswa cenderung pasif. Guru yang mendominasi kegiatan pembelajaran di kelas. Selain itu masih terdapat metode konvensional yang diterapkan, membuat suasana pembelajaran di kelas monoton. Metode pembelajaran yang sering dilaksanakan, biasanya ceramah, guru yang menjelaskan materi pembelajaran, memberikan rumus dan siswa disuruh menghafal rumus tersebut tanpa mengetahui konsep rumus tersebut didapat dari mana. Pembelajaran yang demikian tidak kondusif sehingga membuat siswa menjadi sasaran pembelajaran yang pasif, dan hanya menerima konsep dari guru saja. Tidak semua siswa dapat menghafal dengan baik tanpa memahami suatu konsep. Hal ini berimplikasi pada hasil belajar siswa yang rendah atau tidak sesuai dengan target yang ingin dicapai dalam suatu proses pembelajaran.
Permasalahan serupa tentang rendahnya hasil belajar matematika juga terjadi pada siswa kelas V SDN Malangrejo. Berdasarkan pengamatan pada proses pembelajaran matematika di kelas V SD Malangrejo Ngemplak, diperoleh data mengenai hasil belajar yang rendah. Rendahnya hasil belajar ini dilihat dari hasil perolehan nilai Tes Kendali Mutu (TKM) untuk mata pelajaran matematika semester 1 tahun pelajaran 2011/2012, yang mana data tersebut dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa lebih dari 50% siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM), hal ini ditunjukan dengan nilai rata-rata kelas yang masih di bawah KKM. Padahal jika dilihat dari penetapan KKM nya, KKM di SD Malangrejo itu masih tergolong rendah yaitu 60. Rendahnya hasil belajar matematika ini dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain proses pembelajarannya, siswa, guru, lingkungan kelas, maupun materinya sendiri. Dilihat dari proses pembelajarannya, yaitu pembelajaran masih bersifat konvensional, dimana guru kebanyakan menggunakan metode ceramah dan siswa diminta untuk mendengarkan dan menghafal rumus-rumus yang sudah ada. Padahal jika hanya dengan menghafal saja tanpa tahu konsepnya maka siswa akan lebih mudah untuk melupakan rumus tersebut. Alat peraga yang dimiliki sekolah juga masih terbatas.
Faktor siswa juga mempengaruhi rendahnya hasil belajar matematika. Siswa kelas V SD Malangrejo masih cenderung pasif saat mengikuti pembelajaran matematika. Siswa diminta untuk duduk diam memperhatikan penjelasan dari guru, sedangkan siswa yang duduk di bangku belakang asyik bermain sendiri atau berbicara dengan temannya. Guru juga berpengaruh terhadap hasil belajar anak. Guru hanya menggunakan metode ceramah, dan kurang inovatif dalam pembelajaran membuat siswa cepat bosan dan malas untuk belajar. Guru hanya terfokus untuk mengejar materi yang harus disampaikan kepada anak dan kurang memperhatikan kebermaknaan pengetahuan tersebut, sehingga kurang memberikan kesempatan pada anak untuk aktif menemukan sendiri konsepnya.
Lingkungan kelas turut berpengaruh terhadap hasil belajar. Ruang kelas V berukuran 7 x 8 m, didukung dengan jendela dan ventilasi yang cukup memadai. Penataan meja siswa masih bersifat konvensional dan ruangan belum difasilitasi alat peraga yang memadai untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Penataan meja seperti ini menjadikan siswa yang duduk di baris paling belakang merasa kurang diperhatikan oleh guru, sehingga menimbulkan potensi bagi siswa untuk bicara sendiri dengan temannya.
Kompetensi pelajaran matematika turut serta dalam menentukan hasil belajar. Kompetensi pelajaran matematika cukup luas, antara konsep yang satu dengan konsep yang lain saling berkesinambungan. Seorang siswa yang belum menguasai suatu konsep awal dengan tuntas, maka untuk tingkat selanjutnya akan sulit pula untuk mengikuti pelajaran tersebut. Sebagai contoh tentang konsep perkalian. Konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang ada di kelas II, namun apabila seorang anak belum bisa memahami dan menguasai konsep ini dengan baik dan sudah naik ketingkat selanjutnya, maka anak akan semakin kesulitan sehingga akan membentuk persepsi dalam dirinya bahwa matematika itu pelajaran yang sulit.
Berdasarkan penjelasan tersebut, solusi untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN Malangrejo, Kecamatan Ngemplak adalah dengan menerapkan pendekatan matematika realistik. Suatu ilmu
Singkatnya, Latar Belakang Masalah seharusnya mengandung 5 unsur penting, yang minimal tergambar dalam 5 paragraf yang saling menyatu dan berhubungan satu sama lain membentuk pondasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan oleh guru/peneliti. Kelima (5) unsur penting itu wajib ada, yaitu:
1) Kondisi ideal di dalam kelas/pembelajaran yang diharapkan oleh guru/peneliti.
2) Kondisi saat ini (yang sedang terjadi) di dalam kelas/pembelajaran guru/peneliti.
3) Kesenjangan (gap) antara kondisi ideal (no.1) dengan kondisi saat ini (no.2) beserta penyebab munculnya kesenjangan (gap), dengan kata lain akar permasalahan yang muncul/sumber masalah.
3) Urgensi penyelesaian masalah, atau dengan kata lain dampak-dampak negatif jika permasalahan di kelas/pembelajaran guru tersebut tidak diselesaikan.
3) Alternatif solusi/pemecahan masalah berupa tindakan (action) terbaik yang diperkirakan dapat menyelesaikan masalah.
Sumber:
https://www.tipsbelajarmatematika.com/2016/09/menulis-latar-belakang-masalah.html?
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2012/05/ptk-cara-menulis-latar-belakang-masalah.html?m=1
https://www.tipsbelajarmatematika.com/2016/04/contoh-latar-belakang-masalah.html?m=1
Sabtu, 07 Januari 2023
Judul PTK, Bagaimana?
Kamis, 20 Oktober 2022
LDKS OSIS SMP Negeri 3 Ngadirojo, Bagaimana?
Pengertian kepemimpinan menurut Kartini Kartono (1994) adalah karakter khas, khususnya, mengambil situasi tertentu. Karena kelompok melakukan kegiatan tertentu dan memiliki tujuan dan berbagai peralatan khusus. Pemimpin kelompok dengan fitur karakteristik adalah fungsi dari situasi tertentu.
Kemudian menurut George R. Terry, pengertian kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam seseorang atau pemimpin dan pengaruh yang lain untuk mau bekerja secara sadar dalam kaitannya dengan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
William G. Scott (1962) berpendapat pengertian kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan yang diselenggarakan dalam kelompok dalam upaya mereka untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
Menurut Hemhill dan Coon (1995), pengertian kepemimpinan adalah sikap individu yang memimpin berbagai kegiatan kelompok terhadap tujuan yang akan dicapai bersama-sama.
Dari Rauch dan Behling (1984), pengertian kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir terhadap pencapaian tujuan.
Lalu pengertian kepemimpinan menurut Weschler dan Massarik (1961) adalah pengaruh antar pribadi, yang dijalankan dalam situasi tertentu, dan diarahkan melalui proses komunikasi, untuk mencapai tujuan tertentu atau lebih.
Terakhir, P. Pigors (1935) menyatakan bahwa pengertian kepemimpinan adalah proses mendorong dan mendorong melalui interaksi yang berhasil dari perbedaan individu, pengendalian kekuatan seseorang dalam mengejar tujuan bersama.
Fungsi Kepemimpinan
Fungsi Instruktif
Pemimpin berfungsi sebagai komunikator untuk menentukan semua aspek di dalam sebuah organisasi. Cara mengerjakan perintah, melaksanakan dan melaporkan hasil, dan tempat mengerjakan perintah harus diperhatikan agar setiap keputusan dapat berjalan efektif.
Fungsi Konsultatif
Pemimpin menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Komunikasi ini digunakan saat pemimpin hendak menetapkan kebijakan atau keputusan dan memerlukan pertimbangan dari kelompok yang dipimpinnya. Dengan begitu, keputusan pun dapat diambil secara efektif dan maksimal.
Fungsi Partisipasi
Fungsi partisipasi melibatkan anggota untuk ikut serta dalam setiap pengambilan kebijakan. Ini perlu dan bagus dilakukan agar orang yang dipimpinnya memiliki kesempatan untuk berpartisipasi menentukan apa yang akan dilaksanakan nantinya.
Fungsi Delegasi
Dalam fungsi delegasi, pemimpin harus bisa mempercayakan seseorang yang dipimpinnya, seperti pelimpahan wewenang dan turut andil dalam penentuan keputusan. Hal ini akan sangat membantu pekerjaan pemimpin dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, kerja sama antara pemimpin dan anggota sangat diperlukan.
Fungsi Pengendalian
Pemimpin harus mampu mengatur aktivitas dari para anggota agar tetap terarah. Pemimpin harus bisa memberi arahan, bimbingan, serta contoh yang baik terhadap anggota. Untuk mewujudkannya, seorang pemimpin perlu mengadakan kegiatan bimbingan, koordinasi, dan pengawasan.
Tujuan Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah proses di mana seseorang dapat mengarahkan, membimbing dan mempengaruhi perilaku dan pekerjaan orang lain menuju tujuan tertentu dalam situasi tertentu. Kepemimpinan adalah kemampuan seorang manajer untuk mendorong orang yang dia pimpin untuk bekerja dengan percaya diri dan semangat.
Oleh karena itu, salah satu tujuan kepemimpinan yaitu menjadi sarana untuk mencapai sebuah tujuan. Melalui kepemimpinan, setiap individu dapat memperhatikan cara seorang pemimpin untuk mewujudkan tujuan atau keinginannya. Dengan begitu, kepemimpinan bisa digunakan sebagai tolok ukur dalam mencapai tujuan tersebut.
Selain itu, kepemimpinan juga memiliki tujuan untuk memberi motivasi kepada orang lain. Hal ini sangat diperlukan sebagai salah satu cara untuk mempertahankan dan meningkatkan semangat kerja yang ada dalam diri orang yang dipimpinnya.
Pentingnya Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah bagian penting dari manajemen yang membantu memaksimalkan efisiensi dan untuk mencapai tujuan. Dikutip dari managementstudyguide.com, poin-poin berikut menunjukkan pentingnya kepemimpinan dalam suatu organisasi:
- Memulai inisiasi - Pemimpin adalah orang yang memulai pekerjaan dengan mengkomunikasikan kebijakan dan rencana kepada bawahan dari mana pekerjaan sebenarnya dimulai.
- Memberikan bimbingan - Seorang pemimpin tidak hanya mengawasi tetapi juga memainkan peran untuk membimbing bawahannya. Bimbingan di sini berarti menginstruksikan pada bawahan bagaimana cara mereka harus melakukan pekerjaan mereka secara efektif dan efisien.
- Menciptakan kepercayaan - Percaya diri merupakan faktor penting yang dapat dicapai melalui apresiasi upaya kerja bawahan, menjelaskan peran mereka dengan jelas dan memberi mereka pedoman untuk mencapai tujuan secara efektif.
- Membangun moral - Moral menunjukkan kesediaan karyawan terhadap pekerjaan mereka dan membuat mereka percaya diri sekaligus untuk memenangkan kepercayaan mereka. Seorang pemimpin dapat menjadi pendorong moral dengan mencapai kerjasama penuh sehingga mereka tampil dengan kemampuan terbaik saat bekerja.
- Membangun lingkungan kerja - Lingkungan kerja yang efisien membantu pertumbuhan yang sehat dan stabil. Oleh karena itu, hubungan antar manusia harus diperhatikan oleh seorang pemimpin. Dia harus memiliki kontak pribadi dengan karyawan dan harus mendengarkan masalah mereka dan membantu menyelesaikannya. Dia harus memperlakukan karyawan dengan istilah kemanusiaan.
- Koordinasi - Koordinasi dapat dicapai melalui rekonsiliasi kepentingan pribadi dengan tujuan organisasi. Sinkronisasi ini dapat dicapai melalui koordinasi yang tepat dan efektif yang seharusnya menjadi motif utama seorang pemimpin.
Tujuan dari pelatihan dasar kepemimpinan ini adalah mempersiapkan kader-kader pengurus OSIS baru untuk menjadi calon pengurus baru OSIS yang mampu menjadi pemimpin Tangguh dalam sebuah organisasi beserta unit-unitnya, yang :
- Beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa
- Berbudi Pekerti Luhur
- Memiliki Pengetahuan dan Keterampilan
- Sehat Jasmani dan Rohani
- Memiliki Rasa Tanggungjawab, Kemasyarakatan dan
kebangsaan - Berpikir Kreatif dan Inovatif
- Dapat Mengambil Keputusan
- Dapat Memecahkan masalah dengan baik
- Belajar dengan baik, kolaborasi, pengolahan dan
pengendalian diri.