Selasa, 24 Januari 2023

Pendidikan yang Memerdekakan: Upaya membangun lingkungan belajar yang berpihak pada murid dan memunculkan karakter dari profil Pelajar Pancasila

 

Pendidikan  yang Memerdekakan:

Upaya membangun lingkungan belajar yang berpihak pada murid dan memunculkan karakter dari profil Pelajar Pancasila

 

Oleh:

Teguh Basuki

(CPP Gelombang 1 Angkatan 8 Kelas 27 Tahun 2023)

 

Perbedaan Pendidikan Dan Pengajaran, Apa? 

Ki Hadjar Dewantara (KHD) menyatakan pengajaran merupakan bagian dari proses pendidikan dalam rangka memberi ilmu yang berfaedah untuk kecakapan hidup anak baik secara lahir maupun batin. Sedangkan Pendidikan adalah memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 

Jadi menurut KHD (1961), pendidikan dan pengajaran merupakan usaha untuk menyiapkan dan menyediakan  segala kepentingan hidup manusia, baik kepentingan hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya.

Dalam hal ini, upaya penyelenggaraan pendidikan perlu diarahkan menuju lingkungan belajar yang berpihak pada murid. Mengapa? Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab, maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. 

Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan. Di sinilah pentingnya peran pendidik untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpihak pada murid. Pendidik seyogyanya memiliki kesiapan dan kemampuan untuk menuntun murid dengan tetap bertumpu pada kodrat anak, baik kodrat alam maupun kodrat jaman. Dengan demikian, dibutuhkan lingkungan belajar yang bertumpu pada kebutuhan dan kepentingan murid serta dan masa depannya.

Di ranah pembelajaran, diperlukan kesiapan guru untuk memberikan kemerdekaan dalam memilih, konten, model, media, dan tagihan pembelajaran. Implikasinya, guru perlu merancang pembelajaran yang bertumpu pada kebutuhan dan kepentingan siswa. Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka, model pembelajaran tersebut, yaitu pembelajaran berdiferensiasi, yaitu pembelajaran yang mengakomodir keragaman dan keunikan kondisi (kodrat siswa) beserta lingkungan budaya dan masyarakatnya.

 

Menuntun Anak Didik, Bagaimana?

Cara menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD  mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik, namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh, namun ia tidak akan optimal. Dalam hal proses “menuntun” ini, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka, namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, “ waspadalah, carilah barang-barang yang bermanfaat untuk kita, yang dapat menambah kekayaan kita dalam hal kultur lahir atau batin. Jangan hanya meniru. Hendaknya barang baru tersebut dilaraskan lebih dahulu”. KHD menggunakan ‘barang-barang’ sebagai simbol dari tersedianya hal-hal yang dapat kita tiru, namun selalu menjadi pertimbangan bahwa Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.

 KHD mengusung system among, yaitu ing ngarso sung tulodho (memberi contoh), ing madya mangun karso (memberi semangat), tut wuri handayani (mendorong perubahan). Sistem among ini perlu diterapkan guru untuk menuntun siswa dalam rangka memerdekaan siswa secara lahir maupun bathin sesuai kultur budaya masyarakat. Maksudnya, bahwa pendidikan memberi tuntunan (menuntun) terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 

Dalam hal ini, siswa harus dimerdekakan melalui pendidikan baik secara lahir maupun bathin. Dengan demikian, pendidikan haruslah berpihak pada kepentingan anak, baik kepentingan untuk tumbuh kembang anak secara lahir, maupun tumbuh kembang anak secara bathin.

Metode atau system among sangatlah cocok untuk memerdekan siswa sehingga siswa memiliki kemerdekaan dan merasa bahagia. Metode among siswa menggunakan latihan dan permainan dalam pembelajaran pancaindra untuk anak-anak sangatlah mencolok. Hal ini karena pelajaran pancaindra dan permainan kanak-kanak tidak bisa dipisahkan. Dalam kayakinan Ki Hadjar, Taman Siswa memiliki kepercayaan bahwa segala tingkah laku dan keadaan anak-anak sudah diisi Sang Maha-among segala alat-alat yang bersifat mendidik anak. Itulah sebabnya dalam praktik pengajarannya Ki Hadjar memasukan unsur-unsur kebudayaan dalam permainan anak-anak.

 

Belajar Sambil Bermain, Bagaimana?

Bagaimana pendapat para tokoh pemikir pendidikan dalam sejarah? Montessori lebih mementingkan pelajaran panca indera, namun permainan anak tidaklah dipentingkan. Sebaliknya, Frobel, bagaimana? Ia memberi pelajaran panca-indera pula, namun ia lebih mengutamakan permainan anak. Namun, demikian, anak masih diperintah dimana guru bertindak lebih superior. Taman Siswa  yang didirikan KHD mengawinkan keduanya, yaitu sistem Montessori maupun Frobel, dimana pelajaran panca indera dan permainan anak itu tidak terpisah. 

KHD percaya, permainan tradisional memiliki manfaat melatih tabiat tertib dan teratur. Selain itu, permainan anak-anak memiliki kedudukan sangat penting di negara RI, karena sebagian besar permainan anak disertai nyanyian dan hal itu membuktikan adanya musikalitas pada anak-anak. oleh karena itu, bentuk permainan di TK, misalnya dapat berupa permainan dengan nyanyian dan atau dengan lagu dan gerak berirama. 

Dari alam menuju budaya Belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar selalu mengandung nilai-nilai pendidikan, baik sisi fisik maupun psikologis. Dalam permainan selalu ada ruang untuk pancaindra anak berkembang secara teratur berdasarkan prinsip tumbuh kembang anak secara alami. Selain itu, dalam permainan juga selalu sesuai kodrat anak-anak yang selaras dengan alam sekitar sehingga spontanitas anak juga tumbuh alami. 

KHD juga berpendapat, kesenian untuk anak-anak dapat dilakukan melalui permainan, khususnya latihan kesenian suara, tari, dan sandiwara. Semuanya itu dasar pendidikan budi pekerti, sebagaimana Ki Hadjar mengemukakan, "Permainan kanak-kanak adalah kesenian kanak-kanak yang sungguh pun amat sederhana bentuk dan isinya namun memenuhi syarat-syarat etis dan estetis, dengan semboyan: dari natur ke arah kultur".

 Jika budaya sekolah berkembang sesuai prinsip yang searah alam sekitar sebagai akibat efek proses belajar dengan bermain, bisa dikatakan, sekolah itu sesungguhnya sedang menyemai budi pekerti yang halus dan tertib pada diri seorang anak. Jika kebijakan bermain bisa diterapkan para guru di sekolah, tanpa ada sedikit pun keraguan menjalankannya apalagi ketakukan karena ujian nasional dsb, sesungguhnya kita sedang menyemai kreativitas anak tanpa batas untuk tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang berbudi pekerti luhur dan berkarakter kuat.

Bermain adalah salah satu cara membentuk kepribadian dan kecerdasan anak. Dalam melakukan aktivitas bermain, anak tidak menyadari kalau dirinya juga belajar. Mereka bermain dengan perasaan senang, lucu, spontan, dan tidak ada unsur paksaan. Anak yang selalu gembira akan memiliki pertumbuhan badan dan perkembangan jiwa yang baik. Karena itulah penting terus menyadarkan para guru agar selalu melakukan aktivitas bermain kedalam skema belajar-mengajar sehari-hari.

 Sebagaimana diyakini KHD, jika aktivitas belajar dilakukan sambil bermain, bentuk permainan haruslah dipahami landasan filosofinya agar pada saat yang sama anak juga dapat belajar tentang konteks budaya dan tradisi yang melingkupi aktivitas bermain tersebut. Selain itu, bermain juga diyakini sebagai bentuk metode belajar sangat efektif, bahkan untuk orang dewasa sekalipun. Sering kita jumpai dalam sebuah pelatihan, jika orang dewasa kita ajak bermain, mereka tak ada bedanya dengan anak kecil ketika bermain, yaitu tertawa, bergerak, dan lain sebagainya. Hal ini relevan dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)

Pada dasarnya konsep pembelajaran Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang dikembvangkan dewasa ini mengembalikan kembali filosofi KHD mengenai pendidikan, yaitu pendidikan yang memanusiakan dan memerdekakan.

 Pendidikan yang memanusiakan dan memerdekaan adalah konsep pendidikan yang mengantarkan anak didik pada pertumbuhan dan perkembangan dalam menemukan, mengembangkan, serta menjadikan anak didik sebagai manusia yang utuh dan penuh atas dirinya. Dengan demikian, pendidikan haruslah menghamba kepada anak didik kita. Pendidikan yang menghamba pada anak  menekankan pada minat, kebutuhan dan kemampuan individu, menghadirkan model dan metode belajar yang menggali motivasi untuk membangun habit anak menjadi pembelajar sejati, selalu ingin tahu terhadap informasi dan pengetahuan, suka dan senang membaca. Pembelajaran yang seperti ini sekaligus dapat mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan di era mendatang seperti kreativitas, inovatif, kepemimpinan, rasa percaya diri, kemandirian, kedisiplinan, kekritisan dalam berpikir, daya nalar yang tinggi, kemampuan berkomunikasi dan bekerja dalam tim, serta wawasan global untuk dapat selalu beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan. Dalam hal ini, pendidikan budi pekerti tak bisa terabaikan.

Peran Keluarga dalam Pendidikan Budi Pekerti, Apa?

Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Lebih lanjut KHD menjelaskan, keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. 

Keluarga merupakan tempat bersemainya pendidikan yang sempurna bagi anak untuk melatih kecerdasan budi-pekerti (pembentukan watak individual). Keluarga juga merupakan sebuah ekosistem kecil untuk mempersiapkan hidup anak dalam bermasyarakat dibanding dengan institusi pendidikan lainnya. Alam keluarga menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan teladan, tuntunan, pengajaran dari orang tua. Keluarga juga dapat menjadi tempat untuk berinteraksi sosial antara kakak dan adik sehingga kemandirian dapat tercipta karena anak-anak saling belajar antara satu dengan yang lain dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, peran orang tua sebagai guru, penuntun, dan pemberi teladan menjadi sangat penting dalam pertumbuhan karakter baik anak.

Salah satu dasar pemikiran KHD tentang pendidikan adalah anak bukan Tabularasa. Pada dasar pemikiran ini, KHD mengibaratkan “Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa”. Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar. Anak bukan kertas kosong, melainkan benih kehidupan yang utuh. Saya menafsirkan kodrat anak menurut Ki Hajar Dewantara sebagai kecerdasan majemuk anak. Selain karena suka dengan kecerdasan majemuk, saya melihat benang merah antara kodrat dengan kecerdasan majemuk. 

Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa anak telah dianugerahi kemampuan belajar sejak lahir. Selaras dengan pengertian kecerdasan majemuk sebagai kemampuan yang dibawa sejak lahir dalam mengolah informasi, untuk menyelesaikan persoalan dan menciptakan karya.

 

Kesimpulan  

       Kaitan filosofi dan prinsip pendidikan yang memerdekakan dengan tujuan pendidikan untuk membentuk profil Pelajar Pancasila, bagaimana? Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. 

Dengan demikian, pendidikan yang kita berikan harus sesuai dengan tuntunan alam dan zamannya. Saat ini setiap anak harus memiliki keterampilan abad 21 yang meliputi creativity thinking, critical thinking, comunication dan collaboration. Siswa harus kreatif, mampu berpikir kritis, mampu berkomunikasi dengan baik, dan mampu berkolaborasi dengan baik. Oleh karena itu, pemikiran besar yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu semboyan Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani perlu dimplementasikan guru melalui layanan pendidikan yang memerdekan siswa melalui penciptaan lingkungan belajar yang berpusat pada kepentingan murid, murid, dan murid. Bagaimana pendapat Anda?

 

Sumber Referensi:

Dewantara, Ki Hajar (1961), Pemikiran, Konsepsi, Keteladan, Sikap Merdeka. Penerbit: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, Yogyakarta

Kusuma, Oscarina Dewi dan Siti Luthfah (2022), Praktek Pembelajaran Yang Berpihak Pada Murid, Modul 2.1., KemdikbudRistek, Jakarta

Nurcahyani, Andri Dkk. (2022), Budaya Positif, Modul 1.4, KemdikbudRistek, Jakarta

Petrus Rafael, Simon (2022), Refleksi Fil osofis Pendidikan Nasional - Ki Hadjar Dewantara, Modul 1.1., KemdikbudRistek, Jakarta

http://bukik.com/ajaran-ki-hajar-dewantara/

https://sekolahmenyenangkan.or.id/pendidikan-yang-berhamba-pada-anak/

https://mediaindonesia.com/opini/123897/bermain-sebagai-pengalaman-belajar-autentik

https://www.imrantululi.net/berita/detail/refleksi-filosofis-pendidikan-nasional-ki-hadjar-dewantara

 

 

Senin, 16 Januari 2023

Dimensi Kompetensi Kepala Sekolah, Apa Saja?

Salah satu tugas kepala sekolah yang paling krusial adalah perannya sebagai pemimpin dan manajer. Memahami tugas dan fungsi kepala sekolah dapat membantu meningkatkan kinerja kepala sekolah secara umum, yang dapat berdampak pada peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

Dimensi Kompetensi Manajerial

Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin

Pemimpin (leader) adalah seorang yang mempunyai sifat-sifat kepemimpinan personality atau authority (berwibawa). Ia disegani dan memiliki wibawa terhadap bawahannya karena kecakapan dan kemampuan serta didukung oleh perilakunya yang baik. Pemimpin juga harus bisa memimpin organisasi formal dan informal, serta menjadi panutan bagi para bawahannya. Biasanya kepemimpinannya adalah bertipe partisipatif leader dan berfalsafah pimpinan untuk bawahan.

Kepemimpinan dalam bidang pendidikan lebih mengarah kepada pendayagunaan seluruh potensi organisasi serta memposisikan bawahan sebagai penentu keberhasilan pencapaian organisasi, maka sentuhan terhadap faktor-faktor yang dapat meningkatkan moral kerja dan semangat untuk berprestasi menjadi fokus utama. Sehingga pimpinan memiliki fungsi dasar mengarahkan dan menggerakkan seluruh bawahannya untuk bergerak pada arah atau tujuan yang sama.

Tugas pokok kepala sekolah sebagai pemimpin adalah mengatur situasi, mengendalikan kegiatan kelompok / organisasi / lembaga, dan dapat menjadi juru bicara kelompok. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, terutama untuk mendayagunakan masyarakat dan lingkungan sekitar, kepala sekolah dituntut untuk berperan ganda, baik sebagai catalyst, solution givers, process helpers, dan resource linker.

Sebagai Catalyst, maksudnya adalah kepala sekolah mampu meyakinkan pihak lain akan perlunya perubahan kepada kondisi yang lebih baik. Solution giver, artinya kepala sekolah mengingatkan tentang tujuan akhir dari perubahan. Process helper, artinya kepala sekolah ikut terlibat membantu kelancaran proses perubahan, menyelesaikan masalah dan membina hubungan antar pihak terkait. Sedangkan Resource linker, artinya kepala sekolah dapat menghubungkan orang dengan sumber dana yang dibutuhkan.

Kepala Sekolah Sebagai Manajer

Apa itu pengertian manajer? Gorton & Alston dalam bukunya yang berjudul School Leadership & Administration: Important Concepts, Casestudies, & Simulations mengemukakan bahwa manager are people who do things right, are leaders all people who do the right things and good managers handle the routine daily jobs. yang artinya: manajer adalah orang-orang yang melakukan hal-hal dengan benar, adalah pemimpin semua orang yang melakukan hal-hal yang benar dan manajer yang baik menangani pekerjaan rutin sehari-hari.

Kepala sekolah sebagai manajer memiliki peranan vital terhadap keberhasilan sebuah sekolah. Kepala sekolah adalah pemimpin sekolah yang bertanggung jawab mewujudkan tujuan sekolah. Menurut Wahjosumidjo, fungsi manajerial kepala sekolah tidak lepas dari kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan usaha anggota organisasi serta memberdayakan sumber daya pendidikan yang tersedia secara optimal untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Fungsi kepala sekolah sebagai seorang manajer setidaknya dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Perencanaan (planning)

Menurut Rohmat dalam bukunya Kepemimpinan Pendidikan, Konsep dan Aplikasi mengatakan bahwa sebagai manajer, kepala sekolah harus menjalaknkan fungsi manajemen yang berhubungan dengan aspek perencanaan seperti:

  1. menentukan tujuan sekolah
  2. merumuskan program pendidikan
  3. menyusun strategi pengembangan
  4. menentukan standarisasi pencapaian tujuan
2. Pengorganisasian (organizing)

Masih dalam buku Wahjosumidjo, menurut Stoner, ada delapan macam fungsi seorang manajer dalam suatu organisasi:

  1. bekerja dengan dan melalui orang lain
  2. bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan
  3. mampu menghadapi berbagai persoalan, meski waktu dan sumber daya terbatas
  4. berpikir realistis dan konseptual
  5. menjadi juru penengah
  6. berpikir seperti seorang politisi
  7. mampu menjadi diplomat
  8. mampu mengambil keputusan sulit
3. Penggerakan (actuating)

Penggerakan adalah aktivitas seorang manajer dalam memerintah, menugaskan, menjuruskan, mengarahkan serta menuntun bawahan dan personil organisasi untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan dalam mencapai tujuan.

4. Pengawasan (controlling)

Menurut Ralph Tyler yang dikutip Arikunto dalam bukunya Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai.

 

Singkatnya, tugas Manajerial kepala sekolah, meliputi:
  • Menyusun perencanaan sekolah.
  • Mengelola program pembelajaran.
  • Mengelola kesiswaan.
  • Mengelola sarana dan prasarana.
  • Mengelola personal sekolah.
  • Mengelola keuangan sekolah.
  • Mengelola hubungan sekolah dan masyarakat.
  • Mengelola administrasi sekolah.

Dimensi Kompentensi Kewirausahaan

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengembang kewirausahaan, seorang kepala sekolah harus memenuhi kriteria kompetensi sebagai gerikut:

  1. Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah
  2. Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif
  3. Memiliki motivasi kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah
  4. Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang terjadi di sekolah/madrasah
  5. Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan sekolah/madrasah sebagai sumber balajar

Rincian Tugas Kepala Sekolah Dalam Pengembangan Kewirausahaan

Kepala sekolah memiliki tugas mengadakan pengembangan kewirausahaan terhadap kedelapan standar nasional pendidikan dengan memperkuat jiwa (naluri) kewirausahaan, yaitu menciptakan inovasi, kerja keras, memiliki motivasi yang kuat dan semangat pantang menyerah.

Naluri (jiwa) kewirausahaan ini sangat bermanfaat untuk pengembangan sekolah dengan lebih optimal sehingga dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi dan bermuara kepada peningkatan kualitas sekolah yang dipimpinnya. Selain itu, jiwa kewirausahaan yang kuat yang dimiliki oleh kepala sekolah sangat bermanfaat bagi pelaksanaan kurikulum secara utuh serta pengembangan sekolah dalam menghadapi era digital dan pengembangan industri  yang sedang berlangsung saat ini.

Adapun langkah-langkah yang diperlukan untuk mengembangkan program kewirausahaan di sekolah adalah diantaranya dengan meningkatkan jiwa kewirausahaan dan mengembangkan program kewirausahaan di sekolah. Peningkatan jiwa kewirausahaan dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan seperti:

  1. mengidentifikasi perilaku inovatif;
  2. mengidentifikasi perilaku kerja keras;
  3. mengidentifikasi motivasi yang kuat;
  4. mengidentifikasi perilaku pantang menyerah; dan
  5. mengidentifikasi jiwa kewirausahaan.

Kegiatan mengidentifikasi perilaku-perilaku kewirausahaan tersebut bertujuan untuk mengukur kekuatan jiwa kewirausahaan kepala sekolah agar dapat memenuhi standar kompetensi kewirausahaan kepala sekolah sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Kegiatan yang dilakukan untuk pengembangan program kewirausahaan adalah mengidentifikasi apa saja program inovatif, program perilaku kerja keras, program motivasi yang kuat, program pantang menyerah yang sudah dikembangkan dan yang belum dikembangkan di sekolah. 

 Dimensi Kompetensi Supervisi

A. Tugas Kepala Sekolah Sebagai Administrator

Dalam menjalankan fungsi dan pekerjaannya sebagai administrator, kepala sekolah harus mampu melaksanakan dan melaksanakan dengan baik. Untuk itu kepala sekolah harus kreatif, memiliki ide-ide dan inisiatif yang menunjang perkembangan sekolah. Rangkaian tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah

1 . Membuat perencanaan

Perencanaan yang harus dilakukan oleh kepala sekolah antara lain menyusun program tahunan sekolah yang mencakup program pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, dan penyediaan fasilitas-fasilitas yang diperlukan. Perencanaan ini selanjutnya dimanifestasikan dalam rencana tahunan sekolah yang disusun dalam dua semester program. Program pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, sarana dan prasarana

2. Kepala sekolah bertugas menyusun struktur organisasi sekolah

Organisasi memainkan peran penting dalam fungsi administrasi karena merupakan tempat pelaksanaan semua kegiatan administrasi. Selain itu, dilihat dari fungsinya organisasi juga menetapkan dan menyusun hubungan kerja seluruh anggota organisasi agar tidak terjadi tumpang tindih dalam melakukan tugas masing-masing. Organisasi penyusunan merupakan tugas kepala sekolah sebagai administrator pendidikan. Sebelum ditetapkan, proses penyusunan organisasi sebaiknya dirundingkan bersama-sama dengan seluruh anggota agar hasil yang diperoleh benar-benar merupakan kesepakatan bersama. Selain membuat susunan struktur organisasi, kepala sekolah juga bertanggung jawab untuk mendelegasikan tugas-tugas dan berwenang kepada setiap anggota administrasi sekolah sesuai dengan struktur organisasi yang ada.

3. Kepala sekolah sebagai koordinator dalam organisasi sekolah

Pengoordinasian organisasi sekolah ini merupakan tanggung jawab dari kepala sekolah. Dalam melakukan koordinasi ini sebaiknya kepala sekolah bekerja sama dengan berbagai pihak dalam organisasi agar koordinasi yang dilakukan dapat menyelesaikan semua hambatan dan halangan yang ada.

4. Kepala sekolah mengatur kepegawaian dalam organisasi sekolah

Berbagai tugas yang berhubungan dengan kepegawaian merupakan wewenang kepala sekolah sepenuhnya. Kepala sekolah mempunyai wewenang untuk mengangkat pegawai, mempromosikan, menempatkan dan atau menerima pegawai baru. Pengelolaan kepegawaian ini akan berjalan dengan baik jika kepala sekolah memperhatikan kesinambungan antara pemberian tugas dan dengan kondisi dan kemampuan pelaksanaannya.

B. Tugas Kepala Sekolah Sebagai Supervisor

Supervisi merupakan salah satu tugas pokok dalam administrasi pendidikan dan bukan hanya merupakan tugas pekerjaan para inspektur maupun pengawas saja melainkan juga tugas kepala sekolah terhadap pegawai-pegawai sekolahnya.

1. Pengawasan

Sebelum menjabarkan tugas seorang kepala sekolah sebagai supervisor, kita perlu mengingat kembali pengertian supervisi. Pengawasan adalah kegiatan yang menentukan kondisi atau syarat-syarat esensial yang akan menjamin tercapainya tujuan pendidikan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka mandat kepala sekolah sebagai supervisor sedang mempelajari, mencari dan menentukan syarat-syarat apa saja yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya. Kepala sekolah harus jeli meneliti syarat-syarat apa yang telah ada dan tercukupi, dan apa yang belum ada atau kurang maksimal.

2. Prinsip Pengawasan

Dari penjelasan di atas kita dapat mengetahui berapa banyak dan tanggung jawab besar kepala sekolah sebagai supervisor. Oleh karena itu, seperti yang dikatakan oleh Moh. Rifai, MA untuk menjalankan pengawasan tindakan-tindakan sebaik-baiknya, kepala sekolah memberi perhatian kepada beberapa prinsip di bawah ini:

  1. Pengawasan harus bersifat konstruktif, yaitu pada yang dibimbing dan diawasi harus menimbulkan dorongan untuk bekerja.
  2. Pengawasan kecanduan berdasarkan keadaan dan kenyataan yang sebenarnya (realistis dan mudah dilaksanakan).
  3. Supervisi harus dapat memberi perasaan aman pada guru-guru/pegawai sekolah yang disupervisi.
  4. Pengawasan harus sederhana dan informal dalam pelaksanaannya.
  5. Pengawasan harus berdasarkan hubungan profesional, bukan atas dasar hubungan pribadi.
  6. Pengawasan harus selalu memperhitungkan kesanggupan, sikap dan mungkin kelonggaran guru-guru/pegawai sekolah.
  7. Supervisi tidak bersifat mendesa (otoriter), karena dapat menimbulkan perasaan gelisahatau antisipasi dari guru-guru/pegawai.
  8. Pengawasan tidak boleh didasaran atas pangkat pangkat, pangkat atau kekuasaan pribadi.
  9. Pengawasan tidak boleh bersifat menemukan kesalahan dan kekurangan (ingat bahwa pengawasan tidak sama dengan inspeksi).
  10. Pengawas tidak boleh mengharapkan hasil terlalu cepat dan tidak boleh merasa kecewa.
  11. Pengawasan bersifat preventif, korektif dan kooperatif. Preventif artinya berusaha jangan sampai timbul/terjadi hal-hal yang negatif, mengusahakan memenuhi syarat-syarat sebelum terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Korektif artinya mencari-cari kesalahan atau kekurangan serta upaya perbaikan yang dilakukan bersama-sama oleh supervisor dan orang-orang yang disupervisi

 Sumber:

https://www.mysch.id/blog/detail/125/tugas-kepala-sekolah



Minggu, 08 Januari 2023

Menyusun Latar Belakang Masalah PTK, Bagaimana?


Di bagian BAB I, Pendahuluan, ada Sub Bab, yaitu Latar Belakang Masalah.
Dalam berbagai forum guru sering mengeluh tentang sulitnya membuat latar belakang masalah PTK. Latar belakang masalah PTK tentu maksudnya adalah alasan alasan mengapa seorang guru perlu melakukan PTK.

Banyak kelemahan yang ditemukan yang membuat analisis permasalahan menjadi tidak tajam. Ketajaman analisis permasalahan berpengaruh pada tindakan tindakan yang akan diambil.

Kelemahan yang yang dijumpai ketika para peneliti adalah dalam menyusun latar belakang masalah biasanya disebabkan karena:

1)permasalahan tidak diambil dari permasalahan nyata di kelas terkesan dibuat buat; tidak menyertakan data data yang mendukung analisis masalah tersebut;

2) tidak ditemukan celah atau potensi untuk perbaikan /tindakan yang akan dilakukan;

3) masalah terlalu luas (rumusan tidak fokus);

4)latar belakang masalah tidak ditunjukan alasan pemilihan alternatif pemecahan masalah;

5)dan rumusan masalah tidak mencerminkan adanya tindakan dan gambaran perubahan tingkah laku.

Menulis latar belakang dengan baik mutlak perlu dilakukan mengingat bagian ini merupakan komponen penting dalam proposal PTK yang selanjutnya akan dimasukan juga dalam Laporan PTK.

Mengingat begitu pentingnya bagian latar belakang masalah ini, maka paling tidak bagian ini memuat beberapa unsur penting yang tercermin dalam beberapa paragraf yang bertautan satu sama lain.

Latar belakang Masalah PTK setidaknya berisi paragraf yang memuat hal-hal yang seharusnya (ideal) dan kenyataan yang terjadi.

Masalah merupakan kesenjangan antara yang diharapkan (hal-hal yang ideal) dan kenyataan yang dihadapi. Peneliti ingin mempersempit jarak antara kedua hal tersebut atau memperbaiki kesenjangan yang ada.

Oleh karenanya, dalam latar belakang juga dijelaskan alasan mengapa kesenjangan tersebut diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya serta bagaimana dampaknya jika masalah tersebut dibiarkan berlarut larut.

Latar belakang masalah PTK yang baik setidaknya memiliki beberapa unsur berikut:

(1)Kondisi ideal di dalam kelas/pembelajaran yang diharapkan oleh guru/peneliti;


(2) Kenyataan yang saat ini sedang terjadi yang dihadapi guru/peneliti;


(3) Kesenjangan antara kondisi ideal dengan kenyataan yang dihadapi beserta penyebab munculnya kesenjangan tersebut. Penyebab munculnya masalah ini disebut juga dengan akar masalah;


(4) Urgensi penyelesaian masalah, atau dengan kata lain dampak-dampak negatif jika permasalahan di kelas/pembelajaran guru tersebut tidak diselesaikan; 


(5) Alternatif solusi/pemecahan masalah berupa tindakan yang diperkirakan dapat menyelesaikan masalah. Jika kelima hal tersebut termuat dalam latar belakang masalah sebuah penelitian tindakan kelas, maka latar belakang tersebut dapat dikatakan baik.



Berikut ini, contoh Latar Belakang Masalah, yaitu:

Contoh 1:

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pada pembelajaran IPA, pemahaman terhadap konsep-konsep esensial sangat penting. Pemahaman terhadap konsep-konsep esensial yang baik akan membuat peserta didik menempatkan konsep-konsep tersebut dalam sistem memori jangka panjang (long term memory) dan dapat menggunakannya untuk berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi (higher level thinking) seperti pemecahan masalah dan berpikir kreatif. Pemahaman konsep-konsep esensial yang baik semestinya akan mempermudah mereka dalam mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah.

Kenyataan saat ini di kelas VIIIB SMP Negeri 4 Amuntai masih jauh dari kondisi ideal tersebut. Pemahaman terhadap konsep-konsep esensial pada mata pelajaran IPA untuk materi bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari masih rendah (rata-rata kelas 63,28). Selain itu jumlah peserta didik yang berhasil mencapai dan melampaui KKM  kurang dari 75%. KKM mata pelajaran IPA pada Tahun Pelajaran 2010/2011 yang lalu adalah ≥ 61. Jumlah peserta didik yang berhasil mencapai dan melampaui KKM yang kurang dari 75% ini menyebabkan guru harus melakukan pembelajaran remedial secara klasikal. Kemudian, KKM mata pelajaran IPA pada Tahun Pelajaran 2011/2012 ini telah ditingkatkan menjadi ≥ 65, hal ini juga berarti bahwa kemungkinan persentase peserta didik yang tidak dapat mencapai KKM yang dinaikkan tersebut semakin besar.

Beberapa kemungkinan penyebab rendahnya pemahaman peserta didik tentang materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari sehingga berakibat pada rendahnya nilai rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal yang tidak tercapai adalah: (1) materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari merupakan materi yang sangat banyak mengandung konsep-konsep bidang kimia dengan istilah-istilah yang sulit diingat dan dipahami; (2) strategi pembelajaran yang digunakan masih belum cukup untuk memfasilitasi pemerolehan pehamaman bagi peserta didik.

Kondisi demikian apabila terus dibiarkan akan berdampak buruk terhadap kualitas pembelajaran mata pelajaran IPA di Kelas VIIIB tersebut khususnya, dan di SMPN 4 Amuntai secara keseluruhan. Padahal, materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari merupakan salah satu materi esensial dalam kurikulum. Hal ini tercermin dari selalu termuatnya materi ini dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Ujian Nasional (UN) pada 3 tahun terakhir ini.

Salah satu alternatif pemecahan masalah di atas yang mungkin untuk dilaksanakan oleh guru adalah melaksanakan pembelajaran IPA dengan menggunakan strategi memory cycle. Menurut Sprenger (2005), pembelajaran yang dilakukan dengan stretegi memory cycle yang terdiri dari 7 langkah (reach, reflect, recode, reinforce, rehearse, review, dan retrieve) memungkinkan peserta didik untuk dapat menyimpan konsep-konsep esensial yang diberikan dalam memori jangka panjang (long term memory) dan memungkinkan mereka untuk menggunakan konsep-konsep saat berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi (higher level thinking).


Contoh 2: Latar Belakang Masalah

Proses belajar akan terjadi jika pengetahuan yang dipelajari bermakna bagi pembelajar (Freudental, 1991 dalam buku Ariyadi Wijaya, 2011:3). Pembelajaran matematika selama ini dipandang sebagai alat yang siap pakai. Pandangan ini mendorong guru bersikap cenderung memberi tahu konsep dan cara menggunakannya. Pembelajaran matematika terfokus pada guru, sehingga siswa cenderung pasif. Guru yang mendominasi kegiatan pembelajaran di kelas. Selain itu masih terdapat metode konvensional yang diterapkan, membuat suasana pembelajaran di kelas monoton. Metode pembelajaran yang sering dilaksanakan, biasanya ceramah, guru yang menjelaskan materi pembelajaran, memberikan rumus dan siswa disuruh menghafal rumus tersebut tanpa mengetahui konsep rumus tersebut didapat dari mana. Pembelajaran yang demikian tidak kondusif sehingga membuat siswa menjadi sasaran pembelajaran yang pasif, dan hanya menerima konsep dari guru saja. Tidak semua siswa dapat menghafal dengan baik tanpa memahami suatu konsep. Hal ini berimplikasi pada hasil belajar siswa yang rendah atau tidak sesuai dengan target yang ingin dicapai dalam suatu proses pembelajaran.

Permasalahan serupa tentang rendahnya hasil belajar matematika juga terjadi pada siswa kelas V SDN Malangrejo. Berdasarkan pengamatan pada proses pembelajaran matematika di kelas V SD Malangrejo Ngemplak, diperoleh data mengenai hasil belajar yang rendah. Rendahnya hasil belajar ini dilihat dari hasil perolehan nilai Tes Kendali Mutu (TKM) untuk mata pelajaran matematika semester 1 tahun pelajaran 2011/2012, yang mana data tersebut dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.


Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa lebih dari 50% siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM), hal ini ditunjukan dengan nilai rata-rata kelas yang masih di bawah KKM. Padahal jika dilihat dari penetapan KKM nya, KKM di SD Malangrejo itu masih tergolong rendah yaitu 60. Rendahnya hasil belajar matematika ini dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain proses pembelajarannya, siswa, guru, lingkungan kelas, maupun materinya sendiri. Dilihat dari proses pembelajarannya, yaitu pembelajaran masih bersifat konvensional, dimana guru kebanyakan menggunakan metode ceramah dan siswa diminta untuk mendengarkan dan menghafal rumus-rumus yang sudah ada. Padahal jika hanya dengan menghafal saja tanpa tahu konsepnya maka siswa akan lebih mudah untuk melupakan rumus tersebut. Alat peraga yang dimiliki sekolah juga masih terbatas.

Faktor siswa juga mempengaruhi rendahnya hasil belajar matematika. Siswa kelas V SD Malangrejo masih cenderung pasif saat mengikuti pembelajaran matematika. Siswa diminta untuk duduk diam memperhatikan penjelasan dari guru, sedangkan siswa yang duduk di bangku belakang asyik bermain sendiri atau berbicara dengan temannya. Guru juga berpengaruh terhadap hasil belajar anak. Guru hanya menggunakan metode ceramah, dan kurang inovatif dalam pembelajaran membuat siswa cepat bosan dan malas untuk belajar. Guru hanya terfokus untuk mengejar materi yang harus disampaikan kepada anak dan kurang memperhatikan kebermaknaan pengetahuan tersebut, sehingga kurang memberikan kesempatan pada anak untuk aktif menemukan sendiri konsepnya.

Lingkungan kelas turut berpengaruh terhadap hasil belajar. Ruang kelas V berukuran 7 x 8 m, didukung dengan jendela dan ventilasi yang cukup memadai. Penataan meja siswa masih bersifat konvensional dan ruangan belum difasilitasi alat peraga yang memadai untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Penataan meja seperti ini menjadikan siswa yang duduk di baris paling belakang merasa kurang diperhatikan oleh guru, sehingga menimbulkan potensi bagi siswa untuk bicara sendiri dengan temannya.
Kompetensi pelajaran matematika turut serta dalam menentukan hasil belajar. Kompetensi pelajaran matematika cukup luas, antara konsep yang satu dengan konsep yang lain saling berkesinambungan. Seorang siswa yang belum menguasai suatu konsep awal dengan tuntas, maka untuk tingkat selanjutnya akan sulit pula untuk mengikuti pelajaran tersebut. Sebagai contoh tentang konsep perkalian. Konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang ada di kelas II, namun apabila seorang anak belum bisa memahami dan menguasai konsep ini dengan baik dan sudah naik ketingkat selanjutnya, maka anak akan semakin kesulitan sehingga akan membentuk persepsi dalam dirinya bahwa matematika itu pelajaran yang sulit.

Berdasarkan penjelasan tersebut, solusi untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN Malangrejo, Kecamatan Ngemplak adalah dengan menerapkan pendekatan matematika realistik. Suatu ilmu
Singkatnya, Latar Belakang Masalah seharusnya mengandung 5 unsur penting, yang minimal tergambar dalam 5 paragraf yang saling menyatu dan berhubungan satu sama lain membentuk pondasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan oleh guru/peneliti. Kelima (5) unsur penting itu wajib ada, yaitu:

1) Kondisi ideal di dalam kelas/pembelajaran yang diharapkan oleh guru/peneliti.

2) Kondisi saat ini (yang sedang terjadi) di dalam kelas/pembelajaran guru/peneliti.

3) Kesenjangan (gap) antara kondisi ideal (no.1) dengan kondisi saat ini (no.2) beserta penyebab munculnya kesenjangan (gap), dengan kata lain akar permasalahan yang muncul/sumber masalah.

3) Urgensi penyelesaian masalah, atau dengan kata lain dampak-dampak negatif jika permasalahan di kelas/pembelajaran guru tersebut tidak diselesaikan.
3) Alternatif solusi/pemecahan masalah berupa tindakan (action) terbaik yang diperkirakan dapat menyelesaikan masalah.

Sumber:
https://www.tipsbelajarmatematika.com/2016/09/menulis-latar-belakang-masalah.html?

http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2012/05/ptk-cara-menulis-latar-belakang-masalah.html?m=1

https://www.tipsbelajarmatematika.com/2016/04/contoh-latar-belakang-masalah.html?m=1

Sabtu, 07 Januari 2023

Judul PTK, Bagaimana?

Bagaimanakah Merumuskan Judul Penelitian Tindakan Kelas?


Persiapan Guru Sebelum Melaksanakan Penelitian
Banyak kalangan guru merasa kebingungan saat merumuskan judul penelitian tindakan kelas (PTK). 

Perlu diketahui bahwa PTK adalah upaya guru untuk mendiagnosa problem pembelajaran di kelas melalui penelitian sesuai bidang tugasnya. PTK menjadi vital bagi guru untuk perbaikan pembelajaran. Dengan demikian, PTK seyogyanya dilakukan guru secara riil sesuai kelas dan mata pelajaran yang diampu. 

Sebelum guru melaksanakan PTK ini, dibutuhkan persiapan bagi guru sebagai berikut: 

1) Guru mendokumentasikan proses pembelajaran berupa jurnal pembelajaran (catatan yang berisi diskripsi dan situasi siswa, kelas, dan guru); 

2) Guru mendokumentasikan hasil pengamatan dan penilaian (tes) terkait aktifitas dan prestasi siswa dalam pembelajaran; 

3) Guru melakukan dan mendokumentasikan hasil refleksi pembelajaran.

Refleksi Guru Terhadap Pembelajaran, Bagaimana?
Apa sajakah yang memprihatinkan bagi guru terhadap pembelajaran yang telah dilakukan? Dalam hal ini, guru  mengumpulkan dan menganalisis permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran. 

Ada 3 hal yang biasanya menjadi fokus dalam PTK, yaitu: 

1) Bagaimanakah prestasi belajar siswa?
2) Bagaimanakah aktifitas belajar siswa?; 
3) Bagaimanakah motivasi belajar siswa? 

Dengan demikian, refleksi guru ini merupakan langkah awal sebelum guru melaksanakan PTK.

Rumusan Judul PTK, Bagaimana?
Judul PTK mengacu pada hasil refleksi guru terhadap pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan berikut akan membantu guru untuk merumuskan judul penelitian, yaitu: 

1. Apa yang ingin Anda tingkatkan?

2. Apa pendekatan /setrategi/model / metode/tehnik pembelajaran yang Anda pilih sebagai upaya peningkatan tersebut?

3. Bagi siswa yang mana?

4. Dimana Anda melakukan penelitian ini?

5. Kapan Anda melakukan penelitian?

Jawaban dari beberapa pertanyaan di atas akan menjadi judul PTK. Contohnya, sebagai berikut: 

Peningkatan Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris Melalui Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw  Bagi Siswa Kelas VII A SMP Negeri 1 Sudimoro Pada Tema Nature  Semester Ganjil Tahun Pelajaran 1994/1995.

Berdasarkan judul PTK di atas, diketahui sebagai berikut:

1. Guru ingin meningkatkan prestasi belajar siswa, yaitu ketrampilan berbicara Bahasa Inggris;

2. Guru memilih penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw;

3. Guru ingin meneliti siswa sesuai kelas yang diampu, yaitu Kelas VII A;

4. Guru melakukan penelitian di kelas VII A SMP Negeri 1 Sudimoro;

5. Penelitian dilakukan pada semester ganjil Tahun Pelajaran 1994/1995.

 Berikut contoh beberapa judul PTK yang ringkas, antara lain (https://www.kangjo.net/berita/detail/30-contoh-judul-penelitian-tindakan-kelas-ptk-guru-smp):

1. Peningkatan Hasil Belajar Materi Could I Have One Melalui Media Gambar Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Benua Lima 
    Contoh Laporan PTK SMP, silahkan DOWNLOAD DISINI
 
2. Peningkatan Hasil Belajar Materi Clothes Menggunakan Strategi KWL (Know, Want to know, Learner) Siswa Kelas VIIIb  SMPN 1 Benua Lima
Contoh Laporan PTK SMP, silahkan DOWNLOAD DISINI
 
3. Peningkatan Hasil Belajar Materi The Transportation Menggunakan Media Game Who Wants To Be Millionaire Siswa Kelas IXb SMPN 1 Benua Lima
Contoh Laporan PTK SMP, silahkan DOWNLOAD DISINI
 
4. Peningkatan Hasil Belajar Materi Keragaman Sosial dan Budaya Indonesia Menggunakan               Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Benua Lima
Contoh Laporan PTK SMP, Silahkan DOWNLOAD DISINI
 
5. Peningkatan Hasil Belajar Materi Pranata Sosial dalam Kehidupan Masyarakat Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD  Siswa Kelas VIIIa SMPN 1 Benua Lima
Contoh Laporan PTK SMP, Silahkan DOWNLOAD DISINI
 
6. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Operasi Hitung Aljabar Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Benua Lima
Contoh: Laporan PTK SMP
 
7. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Operasi Hitung Aljabar Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Benua Lima
Contoh: Laporan PTK SMP, materi operasi hitung aljabar

8. Peningkatan Hasil Belajar Materi Geometri Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments  Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Benua Lima
Contoh: Laporan PTK SMP, materi Geometri
 
9. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Pythagoras Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD  Siswa Kelas VIIIc SMPN 1 Paku
Contoh: Laporan PTK SMP
 
10.Peningkatan Hasil Belajar Materi Geometri Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Paku
Contoh: Laporan PTK SMP
 
11.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Operasi Hitung Aljabar Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Paku
Contoh: Laporan PTK SMP
 
12. Peningkatan Hasil Belajar Materi Membangun Karakter Bangsa Melalui Sastra Menggunakan Pembelajaran Model STAD  Siswa Kelas IXe SMPN 1 Dusun Tengah
Contoh: Laporan PTK SMP
 
13.Peningkatan Hasil Belajar Materi HAM menurut Iman Kristen Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe KWL Siswa Kelas VIIIA SMPN 1 Benua Lima
Contoh: Laporan PTK SMP
 
14.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Klasifikasi Makhluk Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Siswa Kelas VIIA SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
15.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Peredaran Darah Pada Manusia Menggunakan Strategi KWL Siswa Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
16.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Koordinasi Dan Alat Indra Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Siswa Kelas IXa SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
17.Peningkatan Hasil Belajar Materi HAM menurut Iman Kristen Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe KWL Siswa Kelas VIIB SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
18.Peningkatan Hasil Belajar Materi Ketrampilan Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL Siswa Kelas VIIIa SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
19.Peningkatan Hasil Belajar Materi Lingkungan Menggunakan Media Gambar Siswa Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
20.Peningkatan Hasil Belajar Materi Membangun Karakter Bangsa Melalui Sastra Menggunakan Model Scramble Siswa Kelas IXb SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
21.Peningkatan Hasil Belajar Materi Ketrampilan Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL Siswa Kelas VIIIa SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
22.Peningkatan Hasil Belajar Materi Lingkungan Menggunakan Media Gambar Siswa Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
23.Peningkatan Hasil Belajar Materi Membangun Karakter Bangsa Melalui Sastra Menggunakan Model Scramble Siswa Kelas IXb SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
24.Peningkatan Hasil Belajar Materi HAM menurut Iman Kristen Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe KWL Siswa Kelas IX SMPN Satu Atap 1 Dusun Timur
Contoh: Laporan PTK SMP
 
25.Peningkatan Hasil Belajar Materi The Transportation Menggunakan Media Game Who Wants To Be Millionaire Siswa Kelas IXc SMPN 1 Pematang Karau
Contoh: Laporan PTK SMP
 
26. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Operasi Hitung Aljabar Menggunakan                    Pembelajaran Kooperatif Tipe JIGSAW Siswa Kelas VIIc SMPN 1 Pematang Karau
Contoh: Laporan PTK SMP
 
27. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Pythagoras Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Pematang Karau
Contoh: Laporan PTK SMP
 
28.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Klasifikasi Makhluk Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Siswa Kelas VIIB SMPN 1 Karusen Janang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
29.Peningkatan Hasil Belajar Materi The Transportation Menggunakan Media Game Who Wants To Be Millionaire Siswa Kelas IXc SMPN 1 Pematang Karau
Contoh: Laporan PTK SMP
 
30.Peningkatan Hasil Belajar Materi Keragaman Sosial dan Budaya Indonesia Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIb SMPN 1 Pematang karau
Contoh: Laporan PTK SMP

31.Peningkatan Hasil Belajar Materi Lingkungan Hidup Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments  Siswa Kelas VIIIa SMPN 1 Pematang Karau
 
32.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Operasi Hitung Aljabar Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe JIGSAW  Siswa Kelas VIIc SMPN 1 Pematang Karau

33.Peningkatan Hasil Belajar Materi Lingkungan Hidup Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments  Siswa Kelas VIIIa SMPN 1 Pematang Karau
 
34.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Operasi Hitung Aljabar Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe JIGSAW  Siswa Kelas VIIc SMPN 1 Pematang Karau
 
35.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Pythagoras Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples  Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Pematang Karau

36.Peningkatan Hasil Belajar Materi Geometri Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together  Siswa Kelas VIIIa SMPN 1 Pematang Karau
 
37.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Klasifikasi Makhluk Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Siswa Kelas VIIB SMPN 1 Karusen Janang
 
38.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Peredaran Darah Pada Manusia Menggunakan Strategi KWL Siswa Kelas VIIIa SMPN 1 Karusen Janang
 
39.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Koordinasi Dan Alat Indra Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Siswa Kelas IXa SMPN 1 Karusen Janang

40.Peningkatan Hasil Belajar Materi Could I Have One Melalui Media Gambar Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Benua Lima
 
41.Peningkatan Hasil Belajar Materi Clothes Menggunakan Strategi KWL  Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Benua Lima
 
42.Peningkatan Hasil Belajar Materi Keragaman Sosial dan Budaya Indonesia Menggunakan
Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Benua Lima
 
43.Peningkatan Hasil Belajar Materi Lingkungan Hidup Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments  Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Benua Lima
 
44.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Peredaran Darah Pada Manusia Menggunakan Metode STAD Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Benua Lima
 
45.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Operasi dan Sistem Aplikasi Melalui Media Pembelajaran Siswa Kelas VIIb SMPN 1 Benua Lima
 
46.Peningkatan Hasil Belajar Materi Clothes Menggunakan Strategi KWL  Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Paju Epat

47.Peningkatan Hasil Belajar Materi Keragaman Sosial dan Budaya Indonesia Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Karusen Janang
 
48.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Operasi dan Sistem Aplikasi Melalui Media Pembelajaran Siswa Kelas VIIb SMPN 1 Karusen Janang
 
49.Peningkatan Hasil Belajar Materi Keragaman Sosial dan Budaya Indonesia Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Paku
 
50.Peningkatan Hasil Belajar Materi Pranata Sosial dalam Kehidupan Masyarakat Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD  Siswa Kelas VIIID SMPN 1 Paku
 
51.Peningkatan Hasil Belajar Materi Lingkungan Hidup Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments  Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Paku
 
52.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Peredaran Darah Pada Manusia Menggunakan Strategi KWL Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Paku
 
53.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Koordinasi Dan Alat Indra Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Siswa Kelas IXc SMPN 1 Paku

54.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Klasifikasi Makhluk Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Siswa Kelas VIID SMPN 1 Paku
 
55.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Klasifikasi Makhluk Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Siswa Kelas VIIB SMPN 1 Paju Epat
 
56.Peningkatan Hasil Belajar Materi Membangun Karakter Bangsa Melalui Sastra Menggunakan Model Scramble Siswa Kelas IXb SMPN 1 Paju Epat
 
57.Peningkatan Hasil Belajar Materi HAM menurut Iman Kristen Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe KWL Siswa Kelas VIIIB SMPN 1 Paju Epat

58.Peningkatan Hasil Belajar Materi Membangun Karakter Bangsa melalui Sastra Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas IXb SMPN 1 Karusen Janang

59.Peningkatan Hasil Belajar Materi Peristiwa Bermakna Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD  Siswa Kelas IXa SMPN 1 Karusen Janang

60. Peningkatan Hasil Belajar Materi Hiburan Hati Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT  Siswa Kelas IXa SMPN 1 Karusen Janang


Kamis, 20 Oktober 2022

LDKS OSIS SMP Negeri 3 Ngadirojo, Bagaimana?

Kepemimpinan, Apa? 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian kepemimpinan adalah cara memimpin atau perihal pemimpin. Secara harfiah, kepemimpinan berasal dari kata “pimpin” yang artinya mengarahkan, membina, mengatur, menuntun, menunjukkan, atau memengaruhi.

Pemimpin bukan sekadar memerintah orang di bawahnya. Sosok pemimpin membantu diri mereka sendiri dan orang lain untuk melakukan hal yang benar. Mereka menetapkan arah, membangun visi yang menginspirasi, dan menciptakan sesuatu yang baru. Kepemimpinan adalah tentang memetakan ke mana Anda harus pergi untuk berhasil sebagai tim atau organisasi.

Dan ketika seorang pemimpin menetapkan tujuan, mereka juga harus menggunakan keterampilan manajemen mereka untuk membimbing orang-orang mereka ke tujuan yang tepat, dengan cara yang efektif dan efisien.

Pengertian kepemimpinan menurut Kartini Kartono (1994) adalah karakter khas, khususnya, mengambil situasi tertentu. Karena kelompok melakukan kegiatan tertentu dan memiliki tujuan dan berbagai peralatan khusus. Pemimpin kelompok dengan fitur karakteristik adalah fungsi dari situasi tertentu.

Kemudian menurut George R. Terry, pengertian kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam seseorang atau pemimpin dan pengaruh yang lain untuk mau bekerja secara sadar dalam kaitannya dengan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

William G. Scott (1962) berpendapat pengertian kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan yang diselenggarakan dalam kelompok dalam upaya mereka untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Menurut Hemhill dan Coon (1995), pengertian kepemimpinan adalah sikap individu yang memimpin berbagai kegiatan kelompok terhadap tujuan yang akan dicapai bersama-sama.

Dari Rauch dan Behling (1984), pengertian kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir terhadap pencapaian tujuan.

Lalu pengertian kepemimpinan menurut Weschler dan Massarik (1961) adalah pengaruh antar pribadi, yang dijalankan dalam situasi tertentu, dan diarahkan melalui proses komunikasi, untuk mencapai tujuan tertentu atau lebih.

Terakhir, P. Pigors (1935) menyatakan bahwa pengertian kepemimpinan adalah proses mendorong dan mendorong melalui interaksi yang berhasil dari perbedaan individu, pengendalian kekuatan seseorang dalam mengejar tujuan bersama.


Fungsi Kepemimpinan

Fungsi Instruktif

Pemimpin berfungsi sebagai komunikator untuk menentukan semua aspek di dalam sebuah organisasi. Cara mengerjakan perintah, melaksanakan dan melaporkan hasil, dan tempat mengerjakan perintah harus diperhatikan agar setiap keputusan dapat berjalan efektif.

Fungsi Konsultatif

Pemimpin menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Komunikasi ini digunakan saat pemimpin hendak menetapkan kebijakan atau keputusan dan memerlukan pertimbangan dari kelompok yang dipimpinnya. Dengan begitu, keputusan pun dapat diambil secara efektif dan maksimal.

Fungsi Partisipasi

Fungsi partisipasi melibatkan anggota untuk ikut serta dalam setiap pengambilan kebijakan. Ini perlu dan bagus dilakukan agar orang yang dipimpinnya memiliki kesempatan untuk berpartisipasi menentukan apa yang akan dilaksanakan nantinya.

Fungsi Delegasi

Dalam fungsi delegasi, pemimpin harus bisa mempercayakan seseorang yang dipimpinnya, seperti pelimpahan wewenang dan turut andil dalam penentuan keputusan. Hal ini akan sangat membantu pekerjaan pemimpin dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, kerja sama antara pemimpin dan anggota sangat diperlukan.

Fungsi Pengendalian

Pemimpin harus mampu mengatur aktivitas dari para anggota agar tetap terarah. Pemimpin harus bisa memberi arahan, bimbingan, serta contoh yang baik terhadap anggota. Untuk mewujudkannya, seorang pemimpin perlu mengadakan kegiatan bimbingan, koordinasi, dan pengawasan.


Tujuan Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah proses di mana seseorang dapat mengarahkan, membimbing dan mempengaruhi perilaku dan pekerjaan orang lain menuju tujuan tertentu dalam situasi tertentu. Kepemimpinan adalah kemampuan seorang manajer untuk mendorong orang yang dia pimpin untuk bekerja dengan percaya diri dan semangat.

Oleh karena itu, salah satu tujuan kepemimpinan yaitu menjadi sarana untuk mencapai sebuah tujuan. Melalui kepemimpinan, setiap individu dapat memperhatikan cara seorang pemimpin untuk mewujudkan tujuan atau keinginannya. Dengan begitu, kepemimpinan bisa digunakan sebagai tolok ukur dalam mencapai tujuan tersebut.

Selain itu, kepemimpinan juga memiliki tujuan untuk memberi motivasi kepada orang lain. Hal ini sangat diperlukan sebagai salah satu cara untuk mempertahankan dan meningkatkan semangat kerja yang ada dalam diri orang yang dipimpinnya.


Pentingnya Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah bagian penting dari manajemen yang membantu memaksimalkan efisiensi dan untuk mencapai tujuan. Dikutip dari managementstudyguide.com, poin-poin berikut menunjukkan pentingnya kepemimpinan dalam suatu organisasi:

  • Memulai inisiasi - Pemimpin adalah orang yang memulai pekerjaan dengan mengkomunikasikan kebijakan dan rencana kepada bawahan dari mana pekerjaan sebenarnya dimulai.
  • Memberikan bimbingan - Seorang pemimpin tidak hanya mengawasi tetapi juga memainkan peran untuk membimbing bawahannya. Bimbingan di sini berarti menginstruksikan pada bawahan bagaimana cara mereka harus melakukan pekerjaan mereka secara efektif dan efisien.
  • Menciptakan kepercayaan - Percaya diri merupakan faktor penting yang dapat dicapai melalui apresiasi upaya kerja bawahan, menjelaskan peran mereka dengan jelas dan memberi mereka pedoman untuk mencapai tujuan secara efektif.
  • Membangun moral - Moral menunjukkan kesediaan karyawan terhadap pekerjaan mereka dan membuat mereka percaya diri sekaligus untuk memenangkan kepercayaan mereka. Seorang pemimpin dapat menjadi pendorong moral dengan mencapai kerjasama penuh sehingga mereka tampil dengan kemampuan terbaik saat bekerja.
  • Membangun lingkungan kerja - Lingkungan kerja yang efisien membantu pertumbuhan yang sehat dan stabil. Oleh karena itu, hubungan antar manusia harus diperhatikan oleh seorang pemimpin. Dia harus memiliki kontak pribadi dengan karyawan dan harus mendengarkan masalah mereka dan membantu menyelesaikannya. Dia harus memperlakukan karyawan dengan istilah kemanusiaan.
  • Koordinasi - Koordinasi dapat dicapai melalui rekonsiliasi kepentingan pribadi dengan tujuan organisasi. Sinkronisasi ini dapat dicapai melalui koordinasi yang tepat dan efektif yang seharusnya menjadi motif utama seorang pemimpin.
Singkatnya, kepemimpinan merupakan sebuah bidang riset dan juga suatu keterampilan praktis yang mencakup kemampuan seseorang atau sebuah organisasi untuk "memimpin" atau membimbing orang lain, tim, atau seluruh organisasi.

LDKS
Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) adalah sebuah pelatihan dasar tentang segala hal yang berkaitan dengan kepemimpinan. Biasanya diberikan oleh Pengurus OSIS lama kepada calon Pengurus OSIS baru, baik untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas. Oleh karena itu, dalam melaksanakan tugas kepengurusan, diperlukan adanya   pembinaan atau latihan dasar untuk para pengurus OSIS agar   mereka paham tugas pokok dan tanggung jawab yang diemban.

LDKS meliputi pelatihan dasar tentang segala hal yang berkaitan dengan kepemimpinan, pengorganisasian dan perencanaan program kegiatan serta evaluasi kegiatan untuk memberikan bekal kepemimpinan kepada Pengurus OSIS baru yang nantinya akan menjadi pemimpin dari seluruh kesatuan OSIS. 

Tujuan dari pelatihan dasar kepemimpinan ini adalah mempersiapkan kader-kader pengurus OSIS baru untuk menjadi calon pengurus baru OSIS yang mampu menjadi pemimpin Tangguh dalam sebuah organisasi  beserta unit-unitnya, yang :

  • Beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  • Berbudi Pekerti Luhur
  • Memiliki Pengetahuan dan Keterampilan
  • Sehat Jasmani dan Rohani
  • Memiliki Rasa Tanggungjawab, Kemasyarakatan dan
    kebangsaan
  • Berpikir Kreatif dan Inovatif
  • Dapat Mengambil Keputusan
  • Dapat Memecahkan masalah dengan baik
  • Belajar dengan baik, kolaborasi, pengolahan dan
    pengendalian diri. 
Berbagai materi yang diajarkan mencakup kemampuan siswa dalam kecakapan mental, mampu berbicara di depan orang banyak, mengeluarkan pendapat, hingga pemikiran mengenai seorang pemimpin yang bijaksana. 
Khususnya LDKS OSIS SMP Negeri 3 Ngadirojo, matèri ditekankan pada: 
1) Tata kerja dan perilaku organisasi;
2) Komunikasi, Tata krama, dan Tata Tertib Siswa;
3) Penyusunan proposal dan pelaporan;
4) Tehnik persidangan dan pengambilan keputusan;
5) Korespondensi organisasi;
LDKS OSIS SMP Negeri 3 Ngadirojo dilaksanakan sejak tanggal 20 Oktober 2022 hingga 21 Oktober 2022 di ruang pertemuan SMP Negeri 3 Ngadirojo. 

Sumber:
Merdeka. Com