Senin, 16 Januari 2023

Dimensi Kompetensi Kepala Sekolah, Apa Saja?

Salah satu tugas kepala sekolah yang paling krusial adalah perannya sebagai pemimpin dan manajer. Memahami tugas dan fungsi kepala sekolah dapat membantu meningkatkan kinerja kepala sekolah secara umum, yang dapat berdampak pada peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

Dimensi Kompetensi Manajerial

Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin

Pemimpin (leader) adalah seorang yang mempunyai sifat-sifat kepemimpinan personality atau authority (berwibawa). Ia disegani dan memiliki wibawa terhadap bawahannya karena kecakapan dan kemampuan serta didukung oleh perilakunya yang baik. Pemimpin juga harus bisa memimpin organisasi formal dan informal, serta menjadi panutan bagi para bawahannya. Biasanya kepemimpinannya adalah bertipe partisipatif leader dan berfalsafah pimpinan untuk bawahan.

Kepemimpinan dalam bidang pendidikan lebih mengarah kepada pendayagunaan seluruh potensi organisasi serta memposisikan bawahan sebagai penentu keberhasilan pencapaian organisasi, maka sentuhan terhadap faktor-faktor yang dapat meningkatkan moral kerja dan semangat untuk berprestasi menjadi fokus utama. Sehingga pimpinan memiliki fungsi dasar mengarahkan dan menggerakkan seluruh bawahannya untuk bergerak pada arah atau tujuan yang sama.

Tugas pokok kepala sekolah sebagai pemimpin adalah mengatur situasi, mengendalikan kegiatan kelompok / organisasi / lembaga, dan dapat menjadi juru bicara kelompok. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, terutama untuk mendayagunakan masyarakat dan lingkungan sekitar, kepala sekolah dituntut untuk berperan ganda, baik sebagai catalyst, solution givers, process helpers, dan resource linker.

Sebagai Catalyst, maksudnya adalah kepala sekolah mampu meyakinkan pihak lain akan perlunya perubahan kepada kondisi yang lebih baik. Solution giver, artinya kepala sekolah mengingatkan tentang tujuan akhir dari perubahan. Process helper, artinya kepala sekolah ikut terlibat membantu kelancaran proses perubahan, menyelesaikan masalah dan membina hubungan antar pihak terkait. Sedangkan Resource linker, artinya kepala sekolah dapat menghubungkan orang dengan sumber dana yang dibutuhkan.

Kepala Sekolah Sebagai Manajer

Apa itu pengertian manajer? Gorton & Alston dalam bukunya yang berjudul School Leadership & Administration: Important Concepts, Casestudies, & Simulations mengemukakan bahwa manager are people who do things right, are leaders all people who do the right things and good managers handle the routine daily jobs. yang artinya: manajer adalah orang-orang yang melakukan hal-hal dengan benar, adalah pemimpin semua orang yang melakukan hal-hal yang benar dan manajer yang baik menangani pekerjaan rutin sehari-hari.

Kepala sekolah sebagai manajer memiliki peranan vital terhadap keberhasilan sebuah sekolah. Kepala sekolah adalah pemimpin sekolah yang bertanggung jawab mewujudkan tujuan sekolah. Menurut Wahjosumidjo, fungsi manajerial kepala sekolah tidak lepas dari kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan usaha anggota organisasi serta memberdayakan sumber daya pendidikan yang tersedia secara optimal untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Fungsi kepala sekolah sebagai seorang manajer setidaknya dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Perencanaan (planning)

Menurut Rohmat dalam bukunya Kepemimpinan Pendidikan, Konsep dan Aplikasi mengatakan bahwa sebagai manajer, kepala sekolah harus menjalaknkan fungsi manajemen yang berhubungan dengan aspek perencanaan seperti:

  1. menentukan tujuan sekolah
  2. merumuskan program pendidikan
  3. menyusun strategi pengembangan
  4. menentukan standarisasi pencapaian tujuan
2. Pengorganisasian (organizing)

Masih dalam buku Wahjosumidjo, menurut Stoner, ada delapan macam fungsi seorang manajer dalam suatu organisasi:

  1. bekerja dengan dan melalui orang lain
  2. bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan
  3. mampu menghadapi berbagai persoalan, meski waktu dan sumber daya terbatas
  4. berpikir realistis dan konseptual
  5. menjadi juru penengah
  6. berpikir seperti seorang politisi
  7. mampu menjadi diplomat
  8. mampu mengambil keputusan sulit
3. Penggerakan (actuating)

Penggerakan adalah aktivitas seorang manajer dalam memerintah, menugaskan, menjuruskan, mengarahkan serta menuntun bawahan dan personil organisasi untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan dalam mencapai tujuan.

4. Pengawasan (controlling)

Menurut Ralph Tyler yang dikutip Arikunto dalam bukunya Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai.

 

Singkatnya, tugas Manajerial kepala sekolah, meliputi:
  • Menyusun perencanaan sekolah.
  • Mengelola program pembelajaran.
  • Mengelola kesiswaan.
  • Mengelola sarana dan prasarana.
  • Mengelola personal sekolah.
  • Mengelola keuangan sekolah.
  • Mengelola hubungan sekolah dan masyarakat.
  • Mengelola administrasi sekolah.

Dimensi Kompentensi Kewirausahaan

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengembang kewirausahaan, seorang kepala sekolah harus memenuhi kriteria kompetensi sebagai gerikut:

  1. Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah
  2. Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif
  3. Memiliki motivasi kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah
  4. Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang terjadi di sekolah/madrasah
  5. Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan sekolah/madrasah sebagai sumber balajar

Rincian Tugas Kepala Sekolah Dalam Pengembangan Kewirausahaan

Kepala sekolah memiliki tugas mengadakan pengembangan kewirausahaan terhadap kedelapan standar nasional pendidikan dengan memperkuat jiwa (naluri) kewirausahaan, yaitu menciptakan inovasi, kerja keras, memiliki motivasi yang kuat dan semangat pantang menyerah.

Naluri (jiwa) kewirausahaan ini sangat bermanfaat untuk pengembangan sekolah dengan lebih optimal sehingga dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi dan bermuara kepada peningkatan kualitas sekolah yang dipimpinnya. Selain itu, jiwa kewirausahaan yang kuat yang dimiliki oleh kepala sekolah sangat bermanfaat bagi pelaksanaan kurikulum secara utuh serta pengembangan sekolah dalam menghadapi era digital dan pengembangan industri  yang sedang berlangsung saat ini.

Adapun langkah-langkah yang diperlukan untuk mengembangkan program kewirausahaan di sekolah adalah diantaranya dengan meningkatkan jiwa kewirausahaan dan mengembangkan program kewirausahaan di sekolah. Peningkatan jiwa kewirausahaan dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan seperti:

  1. mengidentifikasi perilaku inovatif;
  2. mengidentifikasi perilaku kerja keras;
  3. mengidentifikasi motivasi yang kuat;
  4. mengidentifikasi perilaku pantang menyerah; dan
  5. mengidentifikasi jiwa kewirausahaan.

Kegiatan mengidentifikasi perilaku-perilaku kewirausahaan tersebut bertujuan untuk mengukur kekuatan jiwa kewirausahaan kepala sekolah agar dapat memenuhi standar kompetensi kewirausahaan kepala sekolah sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Kegiatan yang dilakukan untuk pengembangan program kewirausahaan adalah mengidentifikasi apa saja program inovatif, program perilaku kerja keras, program motivasi yang kuat, program pantang menyerah yang sudah dikembangkan dan yang belum dikembangkan di sekolah. 

 Dimensi Kompetensi Supervisi

A. Tugas Kepala Sekolah Sebagai Administrator

Dalam menjalankan fungsi dan pekerjaannya sebagai administrator, kepala sekolah harus mampu melaksanakan dan melaksanakan dengan baik. Untuk itu kepala sekolah harus kreatif, memiliki ide-ide dan inisiatif yang menunjang perkembangan sekolah. Rangkaian tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah

1 . Membuat perencanaan

Perencanaan yang harus dilakukan oleh kepala sekolah antara lain menyusun program tahunan sekolah yang mencakup program pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, dan penyediaan fasilitas-fasilitas yang diperlukan. Perencanaan ini selanjutnya dimanifestasikan dalam rencana tahunan sekolah yang disusun dalam dua semester program. Program pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, sarana dan prasarana

2. Kepala sekolah bertugas menyusun struktur organisasi sekolah

Organisasi memainkan peran penting dalam fungsi administrasi karena merupakan tempat pelaksanaan semua kegiatan administrasi. Selain itu, dilihat dari fungsinya organisasi juga menetapkan dan menyusun hubungan kerja seluruh anggota organisasi agar tidak terjadi tumpang tindih dalam melakukan tugas masing-masing. Organisasi penyusunan merupakan tugas kepala sekolah sebagai administrator pendidikan. Sebelum ditetapkan, proses penyusunan organisasi sebaiknya dirundingkan bersama-sama dengan seluruh anggota agar hasil yang diperoleh benar-benar merupakan kesepakatan bersama. Selain membuat susunan struktur organisasi, kepala sekolah juga bertanggung jawab untuk mendelegasikan tugas-tugas dan berwenang kepada setiap anggota administrasi sekolah sesuai dengan struktur organisasi yang ada.

3. Kepala sekolah sebagai koordinator dalam organisasi sekolah

Pengoordinasian organisasi sekolah ini merupakan tanggung jawab dari kepala sekolah. Dalam melakukan koordinasi ini sebaiknya kepala sekolah bekerja sama dengan berbagai pihak dalam organisasi agar koordinasi yang dilakukan dapat menyelesaikan semua hambatan dan halangan yang ada.

4. Kepala sekolah mengatur kepegawaian dalam organisasi sekolah

Berbagai tugas yang berhubungan dengan kepegawaian merupakan wewenang kepala sekolah sepenuhnya. Kepala sekolah mempunyai wewenang untuk mengangkat pegawai, mempromosikan, menempatkan dan atau menerima pegawai baru. Pengelolaan kepegawaian ini akan berjalan dengan baik jika kepala sekolah memperhatikan kesinambungan antara pemberian tugas dan dengan kondisi dan kemampuan pelaksanaannya.

B. Tugas Kepala Sekolah Sebagai Supervisor

Supervisi merupakan salah satu tugas pokok dalam administrasi pendidikan dan bukan hanya merupakan tugas pekerjaan para inspektur maupun pengawas saja melainkan juga tugas kepala sekolah terhadap pegawai-pegawai sekolahnya.

1. Pengawasan

Sebelum menjabarkan tugas seorang kepala sekolah sebagai supervisor, kita perlu mengingat kembali pengertian supervisi. Pengawasan adalah kegiatan yang menentukan kondisi atau syarat-syarat esensial yang akan menjamin tercapainya tujuan pendidikan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka mandat kepala sekolah sebagai supervisor sedang mempelajari, mencari dan menentukan syarat-syarat apa saja yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya. Kepala sekolah harus jeli meneliti syarat-syarat apa yang telah ada dan tercukupi, dan apa yang belum ada atau kurang maksimal.

2. Prinsip Pengawasan

Dari penjelasan di atas kita dapat mengetahui berapa banyak dan tanggung jawab besar kepala sekolah sebagai supervisor. Oleh karena itu, seperti yang dikatakan oleh Moh. Rifai, MA untuk menjalankan pengawasan tindakan-tindakan sebaik-baiknya, kepala sekolah memberi perhatian kepada beberapa prinsip di bawah ini:

  1. Pengawasan harus bersifat konstruktif, yaitu pada yang dibimbing dan diawasi harus menimbulkan dorongan untuk bekerja.
  2. Pengawasan kecanduan berdasarkan keadaan dan kenyataan yang sebenarnya (realistis dan mudah dilaksanakan).
  3. Supervisi harus dapat memberi perasaan aman pada guru-guru/pegawai sekolah yang disupervisi.
  4. Pengawasan harus sederhana dan informal dalam pelaksanaannya.
  5. Pengawasan harus berdasarkan hubungan profesional, bukan atas dasar hubungan pribadi.
  6. Pengawasan harus selalu memperhitungkan kesanggupan, sikap dan mungkin kelonggaran guru-guru/pegawai sekolah.
  7. Supervisi tidak bersifat mendesa (otoriter), karena dapat menimbulkan perasaan gelisahatau antisipasi dari guru-guru/pegawai.
  8. Pengawasan tidak boleh didasaran atas pangkat pangkat, pangkat atau kekuasaan pribadi.
  9. Pengawasan tidak boleh bersifat menemukan kesalahan dan kekurangan (ingat bahwa pengawasan tidak sama dengan inspeksi).
  10. Pengawas tidak boleh mengharapkan hasil terlalu cepat dan tidak boleh merasa kecewa.
  11. Pengawasan bersifat preventif, korektif dan kooperatif. Preventif artinya berusaha jangan sampai timbul/terjadi hal-hal yang negatif, mengusahakan memenuhi syarat-syarat sebelum terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Korektif artinya mencari-cari kesalahan atau kekurangan serta upaya perbaikan yang dilakukan bersama-sama oleh supervisor dan orang-orang yang disupervisi

 Sumber:

https://www.mysch.id/blog/detail/125/tugas-kepala-sekolah



Minggu, 08 Januari 2023

Menyusun Latar Belakang Masalah PTK, Bagaimana?


Di bagian BAB I, Pendahuluan, ada Sub Bab, yaitu Latar Belakang Masalah.
Dalam berbagai forum guru sering mengeluh tentang sulitnya membuat latar belakang masalah PTK. Latar belakang masalah PTK tentu maksudnya adalah alasan alasan mengapa seorang guru perlu melakukan PTK.

Banyak kelemahan yang ditemukan yang membuat analisis permasalahan menjadi tidak tajam. Ketajaman analisis permasalahan berpengaruh pada tindakan tindakan yang akan diambil.

Kelemahan yang yang dijumpai ketika para peneliti adalah dalam menyusun latar belakang masalah biasanya disebabkan karena:

1)permasalahan tidak diambil dari permasalahan nyata di kelas terkesan dibuat buat; tidak menyertakan data data yang mendukung analisis masalah tersebut;

2) tidak ditemukan celah atau potensi untuk perbaikan /tindakan yang akan dilakukan;

3) masalah terlalu luas (rumusan tidak fokus);

4)latar belakang masalah tidak ditunjukan alasan pemilihan alternatif pemecahan masalah;

5)dan rumusan masalah tidak mencerminkan adanya tindakan dan gambaran perubahan tingkah laku.

Menulis latar belakang dengan baik mutlak perlu dilakukan mengingat bagian ini merupakan komponen penting dalam proposal PTK yang selanjutnya akan dimasukan juga dalam Laporan PTK.

Mengingat begitu pentingnya bagian latar belakang masalah ini, maka paling tidak bagian ini memuat beberapa unsur penting yang tercermin dalam beberapa paragraf yang bertautan satu sama lain.

Latar belakang Masalah PTK setidaknya berisi paragraf yang memuat hal-hal yang seharusnya (ideal) dan kenyataan yang terjadi.

Masalah merupakan kesenjangan antara yang diharapkan (hal-hal yang ideal) dan kenyataan yang dihadapi. Peneliti ingin mempersempit jarak antara kedua hal tersebut atau memperbaiki kesenjangan yang ada.

Oleh karenanya, dalam latar belakang juga dijelaskan alasan mengapa kesenjangan tersebut diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya serta bagaimana dampaknya jika masalah tersebut dibiarkan berlarut larut.

Latar belakang masalah PTK yang baik setidaknya memiliki beberapa unsur berikut:

(1)Kondisi ideal di dalam kelas/pembelajaran yang diharapkan oleh guru/peneliti;


(2) Kenyataan yang saat ini sedang terjadi yang dihadapi guru/peneliti;


(3) Kesenjangan antara kondisi ideal dengan kenyataan yang dihadapi beserta penyebab munculnya kesenjangan tersebut. Penyebab munculnya masalah ini disebut juga dengan akar masalah;


(4) Urgensi penyelesaian masalah, atau dengan kata lain dampak-dampak negatif jika permasalahan di kelas/pembelajaran guru tersebut tidak diselesaikan; 


(5) Alternatif solusi/pemecahan masalah berupa tindakan yang diperkirakan dapat menyelesaikan masalah. Jika kelima hal tersebut termuat dalam latar belakang masalah sebuah penelitian tindakan kelas, maka latar belakang tersebut dapat dikatakan baik.



Berikut ini, contoh Latar Belakang Masalah, yaitu:

Contoh 1:

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pada pembelajaran IPA, pemahaman terhadap konsep-konsep esensial sangat penting. Pemahaman terhadap konsep-konsep esensial yang baik akan membuat peserta didik menempatkan konsep-konsep tersebut dalam sistem memori jangka panjang (long term memory) dan dapat menggunakannya untuk berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi (higher level thinking) seperti pemecahan masalah dan berpikir kreatif. Pemahaman konsep-konsep esensial yang baik semestinya akan mempermudah mereka dalam mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah.

Kenyataan saat ini di kelas VIIIB SMP Negeri 4 Amuntai masih jauh dari kondisi ideal tersebut. Pemahaman terhadap konsep-konsep esensial pada mata pelajaran IPA untuk materi bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari masih rendah (rata-rata kelas 63,28). Selain itu jumlah peserta didik yang berhasil mencapai dan melampaui KKM  kurang dari 75%. KKM mata pelajaran IPA pada Tahun Pelajaran 2010/2011 yang lalu adalah ≥ 61. Jumlah peserta didik yang berhasil mencapai dan melampaui KKM yang kurang dari 75% ini menyebabkan guru harus melakukan pembelajaran remedial secara klasikal. Kemudian, KKM mata pelajaran IPA pada Tahun Pelajaran 2011/2012 ini telah ditingkatkan menjadi ≥ 65, hal ini juga berarti bahwa kemungkinan persentase peserta didik yang tidak dapat mencapai KKM yang dinaikkan tersebut semakin besar.

Beberapa kemungkinan penyebab rendahnya pemahaman peserta didik tentang materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari sehingga berakibat pada rendahnya nilai rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal yang tidak tercapai adalah: (1) materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari merupakan materi yang sangat banyak mengandung konsep-konsep bidang kimia dengan istilah-istilah yang sulit diingat dan dipahami; (2) strategi pembelajaran yang digunakan masih belum cukup untuk memfasilitasi pemerolehan pehamaman bagi peserta didik.

Kondisi demikian apabila terus dibiarkan akan berdampak buruk terhadap kualitas pembelajaran mata pelajaran IPA di Kelas VIIIB tersebut khususnya, dan di SMPN 4 Amuntai secara keseluruhan. Padahal, materi Bahan Kimia Dalam Kehidupan Sehari-hari merupakan salah satu materi esensial dalam kurikulum. Hal ini tercermin dari selalu termuatnya materi ini dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Ujian Nasional (UN) pada 3 tahun terakhir ini.

Salah satu alternatif pemecahan masalah di atas yang mungkin untuk dilaksanakan oleh guru adalah melaksanakan pembelajaran IPA dengan menggunakan strategi memory cycle. Menurut Sprenger (2005), pembelajaran yang dilakukan dengan stretegi memory cycle yang terdiri dari 7 langkah (reach, reflect, recode, reinforce, rehearse, review, dan retrieve) memungkinkan peserta didik untuk dapat menyimpan konsep-konsep esensial yang diberikan dalam memori jangka panjang (long term memory) dan memungkinkan mereka untuk menggunakan konsep-konsep saat berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi (higher level thinking).


Contoh 2: Latar Belakang Masalah

Proses belajar akan terjadi jika pengetahuan yang dipelajari bermakna bagi pembelajar (Freudental, 1991 dalam buku Ariyadi Wijaya, 2011:3). Pembelajaran matematika selama ini dipandang sebagai alat yang siap pakai. Pandangan ini mendorong guru bersikap cenderung memberi tahu konsep dan cara menggunakannya. Pembelajaran matematika terfokus pada guru, sehingga siswa cenderung pasif. Guru yang mendominasi kegiatan pembelajaran di kelas. Selain itu masih terdapat metode konvensional yang diterapkan, membuat suasana pembelajaran di kelas monoton. Metode pembelajaran yang sering dilaksanakan, biasanya ceramah, guru yang menjelaskan materi pembelajaran, memberikan rumus dan siswa disuruh menghafal rumus tersebut tanpa mengetahui konsep rumus tersebut didapat dari mana. Pembelajaran yang demikian tidak kondusif sehingga membuat siswa menjadi sasaran pembelajaran yang pasif, dan hanya menerima konsep dari guru saja. Tidak semua siswa dapat menghafal dengan baik tanpa memahami suatu konsep. Hal ini berimplikasi pada hasil belajar siswa yang rendah atau tidak sesuai dengan target yang ingin dicapai dalam suatu proses pembelajaran.

Permasalahan serupa tentang rendahnya hasil belajar matematika juga terjadi pada siswa kelas V SDN Malangrejo. Berdasarkan pengamatan pada proses pembelajaran matematika di kelas V SD Malangrejo Ngemplak, diperoleh data mengenai hasil belajar yang rendah. Rendahnya hasil belajar ini dilihat dari hasil perolehan nilai Tes Kendali Mutu (TKM) untuk mata pelajaran matematika semester 1 tahun pelajaran 2011/2012, yang mana data tersebut dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.


Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa lebih dari 50% siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM), hal ini ditunjukan dengan nilai rata-rata kelas yang masih di bawah KKM. Padahal jika dilihat dari penetapan KKM nya, KKM di SD Malangrejo itu masih tergolong rendah yaitu 60. Rendahnya hasil belajar matematika ini dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain proses pembelajarannya, siswa, guru, lingkungan kelas, maupun materinya sendiri. Dilihat dari proses pembelajarannya, yaitu pembelajaran masih bersifat konvensional, dimana guru kebanyakan menggunakan metode ceramah dan siswa diminta untuk mendengarkan dan menghafal rumus-rumus yang sudah ada. Padahal jika hanya dengan menghafal saja tanpa tahu konsepnya maka siswa akan lebih mudah untuk melupakan rumus tersebut. Alat peraga yang dimiliki sekolah juga masih terbatas.

Faktor siswa juga mempengaruhi rendahnya hasil belajar matematika. Siswa kelas V SD Malangrejo masih cenderung pasif saat mengikuti pembelajaran matematika. Siswa diminta untuk duduk diam memperhatikan penjelasan dari guru, sedangkan siswa yang duduk di bangku belakang asyik bermain sendiri atau berbicara dengan temannya. Guru juga berpengaruh terhadap hasil belajar anak. Guru hanya menggunakan metode ceramah, dan kurang inovatif dalam pembelajaran membuat siswa cepat bosan dan malas untuk belajar. Guru hanya terfokus untuk mengejar materi yang harus disampaikan kepada anak dan kurang memperhatikan kebermaknaan pengetahuan tersebut, sehingga kurang memberikan kesempatan pada anak untuk aktif menemukan sendiri konsepnya.

Lingkungan kelas turut berpengaruh terhadap hasil belajar. Ruang kelas V berukuran 7 x 8 m, didukung dengan jendela dan ventilasi yang cukup memadai. Penataan meja siswa masih bersifat konvensional dan ruangan belum difasilitasi alat peraga yang memadai untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Penataan meja seperti ini menjadikan siswa yang duduk di baris paling belakang merasa kurang diperhatikan oleh guru, sehingga menimbulkan potensi bagi siswa untuk bicara sendiri dengan temannya.
Kompetensi pelajaran matematika turut serta dalam menentukan hasil belajar. Kompetensi pelajaran matematika cukup luas, antara konsep yang satu dengan konsep yang lain saling berkesinambungan. Seorang siswa yang belum menguasai suatu konsep awal dengan tuntas, maka untuk tingkat selanjutnya akan sulit pula untuk mengikuti pelajaran tersebut. Sebagai contoh tentang konsep perkalian. Konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang ada di kelas II, namun apabila seorang anak belum bisa memahami dan menguasai konsep ini dengan baik dan sudah naik ketingkat selanjutnya, maka anak akan semakin kesulitan sehingga akan membentuk persepsi dalam dirinya bahwa matematika itu pelajaran yang sulit.

Berdasarkan penjelasan tersebut, solusi untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN Malangrejo, Kecamatan Ngemplak adalah dengan menerapkan pendekatan matematika realistik. Suatu ilmu
Singkatnya, Latar Belakang Masalah seharusnya mengandung 5 unsur penting, yang minimal tergambar dalam 5 paragraf yang saling menyatu dan berhubungan satu sama lain membentuk pondasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan oleh guru/peneliti. Kelima (5) unsur penting itu wajib ada, yaitu:

1) Kondisi ideal di dalam kelas/pembelajaran yang diharapkan oleh guru/peneliti.

2) Kondisi saat ini (yang sedang terjadi) di dalam kelas/pembelajaran guru/peneliti.

3) Kesenjangan (gap) antara kondisi ideal (no.1) dengan kondisi saat ini (no.2) beserta penyebab munculnya kesenjangan (gap), dengan kata lain akar permasalahan yang muncul/sumber masalah.

3) Urgensi penyelesaian masalah, atau dengan kata lain dampak-dampak negatif jika permasalahan di kelas/pembelajaran guru tersebut tidak diselesaikan.
3) Alternatif solusi/pemecahan masalah berupa tindakan (action) terbaik yang diperkirakan dapat menyelesaikan masalah.

Sumber:
https://www.tipsbelajarmatematika.com/2016/09/menulis-latar-belakang-masalah.html?

http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2012/05/ptk-cara-menulis-latar-belakang-masalah.html?m=1

https://www.tipsbelajarmatematika.com/2016/04/contoh-latar-belakang-masalah.html?m=1

Sabtu, 07 Januari 2023

Judul PTK, Bagaimana?

Bagaimanakah Merumuskan Judul Penelitian Tindakan Kelas?


Persiapan Guru Sebelum Melaksanakan Penelitian
Banyak kalangan guru merasa kebingungan saat merumuskan judul penelitian tindakan kelas (PTK). 

Perlu diketahui bahwa PTK adalah upaya guru untuk mendiagnosa problem pembelajaran di kelas melalui penelitian sesuai bidang tugasnya. PTK menjadi vital bagi guru untuk perbaikan pembelajaran. Dengan demikian, PTK seyogyanya dilakukan guru secara riil sesuai kelas dan mata pelajaran yang diampu. 

Sebelum guru melaksanakan PTK ini, dibutuhkan persiapan bagi guru sebagai berikut: 

1) Guru mendokumentasikan proses pembelajaran berupa jurnal pembelajaran (catatan yang berisi diskripsi dan situasi siswa, kelas, dan guru); 

2) Guru mendokumentasikan hasil pengamatan dan penilaian (tes) terkait aktifitas dan prestasi siswa dalam pembelajaran; 

3) Guru melakukan dan mendokumentasikan hasil refleksi pembelajaran.

Refleksi Guru Terhadap Pembelajaran, Bagaimana?
Apa sajakah yang memprihatinkan bagi guru terhadap pembelajaran yang telah dilakukan? Dalam hal ini, guru  mengumpulkan dan menganalisis permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran. 

Ada 3 hal yang biasanya menjadi fokus dalam PTK, yaitu: 

1) Bagaimanakah prestasi belajar siswa?
2) Bagaimanakah aktifitas belajar siswa?; 
3) Bagaimanakah motivasi belajar siswa? 

Dengan demikian, refleksi guru ini merupakan langkah awal sebelum guru melaksanakan PTK.

Rumusan Judul PTK, Bagaimana?
Judul PTK mengacu pada hasil refleksi guru terhadap pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan berikut akan membantu guru untuk merumuskan judul penelitian, yaitu: 

1. Apa yang ingin Anda tingkatkan?

2. Apa pendekatan /setrategi/model / metode/tehnik pembelajaran yang Anda pilih sebagai upaya peningkatan tersebut?

3. Bagi siswa yang mana?

4. Dimana Anda melakukan penelitian ini?

5. Kapan Anda melakukan penelitian?

Jawaban dari beberapa pertanyaan di atas akan menjadi judul PTK. Contohnya, sebagai berikut: 

Peningkatan Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris Melalui Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw  Bagi Siswa Kelas VII A SMP Negeri 1 Sudimoro Pada Tema Nature  Semester Ganjil Tahun Pelajaran 1994/1995.

Berdasarkan judul PTK di atas, diketahui sebagai berikut:

1. Guru ingin meningkatkan prestasi belajar siswa, yaitu ketrampilan berbicara Bahasa Inggris;

2. Guru memilih penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw;

3. Guru ingin meneliti siswa sesuai kelas yang diampu, yaitu Kelas VII A;

4. Guru melakukan penelitian di kelas VII A SMP Negeri 1 Sudimoro;

5. Penelitian dilakukan pada semester ganjil Tahun Pelajaran 1994/1995.

 Berikut contoh beberapa judul PTK yang ringkas, antara lain (https://www.kangjo.net/berita/detail/30-contoh-judul-penelitian-tindakan-kelas-ptk-guru-smp):

1. Peningkatan Hasil Belajar Materi Could I Have One Melalui Media Gambar Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Benua Lima 
    Contoh Laporan PTK SMP, silahkan DOWNLOAD DISINI
 
2. Peningkatan Hasil Belajar Materi Clothes Menggunakan Strategi KWL (Know, Want to know, Learner) Siswa Kelas VIIIb  SMPN 1 Benua Lima
Contoh Laporan PTK SMP, silahkan DOWNLOAD DISINI
 
3. Peningkatan Hasil Belajar Materi The Transportation Menggunakan Media Game Who Wants To Be Millionaire Siswa Kelas IXb SMPN 1 Benua Lima
Contoh Laporan PTK SMP, silahkan DOWNLOAD DISINI
 
4. Peningkatan Hasil Belajar Materi Keragaman Sosial dan Budaya Indonesia Menggunakan               Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Benua Lima
Contoh Laporan PTK SMP, Silahkan DOWNLOAD DISINI
 
5. Peningkatan Hasil Belajar Materi Pranata Sosial dalam Kehidupan Masyarakat Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD  Siswa Kelas VIIIa SMPN 1 Benua Lima
Contoh Laporan PTK SMP, Silahkan DOWNLOAD DISINI
 
6. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Operasi Hitung Aljabar Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Benua Lima
Contoh: Laporan PTK SMP
 
7. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Operasi Hitung Aljabar Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Benua Lima
Contoh: Laporan PTK SMP, materi operasi hitung aljabar

8. Peningkatan Hasil Belajar Materi Geometri Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments  Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Benua Lima
Contoh: Laporan PTK SMP, materi Geometri
 
9. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Pythagoras Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD  Siswa Kelas VIIIc SMPN 1 Paku
Contoh: Laporan PTK SMP
 
10.Peningkatan Hasil Belajar Materi Geometri Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Paku
Contoh: Laporan PTK SMP
 
11.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Operasi Hitung Aljabar Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Paku
Contoh: Laporan PTK SMP
 
12. Peningkatan Hasil Belajar Materi Membangun Karakter Bangsa Melalui Sastra Menggunakan Pembelajaran Model STAD  Siswa Kelas IXe SMPN 1 Dusun Tengah
Contoh: Laporan PTK SMP
 
13.Peningkatan Hasil Belajar Materi HAM menurut Iman Kristen Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe KWL Siswa Kelas VIIIA SMPN 1 Benua Lima
Contoh: Laporan PTK SMP
 
14.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Klasifikasi Makhluk Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Siswa Kelas VIIA SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
15.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Peredaran Darah Pada Manusia Menggunakan Strategi KWL Siswa Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
16.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Koordinasi Dan Alat Indra Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Siswa Kelas IXa SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
17.Peningkatan Hasil Belajar Materi HAM menurut Iman Kristen Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe KWL Siswa Kelas VIIB SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
18.Peningkatan Hasil Belajar Materi Ketrampilan Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL Siswa Kelas VIIIa SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
19.Peningkatan Hasil Belajar Materi Lingkungan Menggunakan Media Gambar Siswa Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
20.Peningkatan Hasil Belajar Materi Membangun Karakter Bangsa Melalui Sastra Menggunakan Model Scramble Siswa Kelas IXb SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
21.Peningkatan Hasil Belajar Materi Ketrampilan Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL Siswa Kelas VIIIa SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
22.Peningkatan Hasil Belajar Materi Lingkungan Menggunakan Media Gambar Siswa Kelas VIIIb SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
23.Peningkatan Hasil Belajar Materi Membangun Karakter Bangsa Melalui Sastra Menggunakan Model Scramble Siswa Kelas IXb SMPN 4 Tamiang Layang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
24.Peningkatan Hasil Belajar Materi HAM menurut Iman Kristen Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe KWL Siswa Kelas IX SMPN Satu Atap 1 Dusun Timur
Contoh: Laporan PTK SMP
 
25.Peningkatan Hasil Belajar Materi The Transportation Menggunakan Media Game Who Wants To Be Millionaire Siswa Kelas IXc SMPN 1 Pematang Karau
Contoh: Laporan PTK SMP
 
26. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Operasi Hitung Aljabar Menggunakan                    Pembelajaran Kooperatif Tipe JIGSAW Siswa Kelas VIIc SMPN 1 Pematang Karau
Contoh: Laporan PTK SMP
 
27. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Pythagoras Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Pematang Karau
Contoh: Laporan PTK SMP
 
28.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Klasifikasi Makhluk Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Siswa Kelas VIIB SMPN 1 Karusen Janang
Contoh: Laporan PTK SMP
 
29.Peningkatan Hasil Belajar Materi The Transportation Menggunakan Media Game Who Wants To Be Millionaire Siswa Kelas IXc SMPN 1 Pematang Karau
Contoh: Laporan PTK SMP
 
30.Peningkatan Hasil Belajar Materi Keragaman Sosial dan Budaya Indonesia Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIb SMPN 1 Pematang karau
Contoh: Laporan PTK SMP

31.Peningkatan Hasil Belajar Materi Lingkungan Hidup Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments  Siswa Kelas VIIIa SMPN 1 Pematang Karau
 
32.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Operasi Hitung Aljabar Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe JIGSAW  Siswa Kelas VIIc SMPN 1 Pematang Karau

33.Peningkatan Hasil Belajar Materi Lingkungan Hidup Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments  Siswa Kelas VIIIa SMPN 1 Pematang Karau
 
34.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Operasi Hitung Aljabar Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe JIGSAW  Siswa Kelas VIIc SMPN 1 Pematang Karau
 
35.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Pythagoras Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples  Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Pematang Karau

36.Peningkatan Hasil Belajar Materi Geometri Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together  Siswa Kelas VIIIa SMPN 1 Pematang Karau
 
37.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Klasifikasi Makhluk Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Siswa Kelas VIIB SMPN 1 Karusen Janang
 
38.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Peredaran Darah Pada Manusia Menggunakan Strategi KWL Siswa Kelas VIIIa SMPN 1 Karusen Janang
 
39.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Koordinasi Dan Alat Indra Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Siswa Kelas IXa SMPN 1 Karusen Janang

40.Peningkatan Hasil Belajar Materi Could I Have One Melalui Media Gambar Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Benua Lima
 
41.Peningkatan Hasil Belajar Materi Clothes Menggunakan Strategi KWL  Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Benua Lima
 
42.Peningkatan Hasil Belajar Materi Keragaman Sosial dan Budaya Indonesia Menggunakan
Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Benua Lima
 
43.Peningkatan Hasil Belajar Materi Lingkungan Hidup Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments  Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Benua Lima
 
44.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Peredaran Darah Pada Manusia Menggunakan Metode STAD Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Benua Lima
 
45.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Operasi dan Sistem Aplikasi Melalui Media Pembelajaran Siswa Kelas VIIb SMPN 1 Benua Lima
 
46.Peningkatan Hasil Belajar Materi Clothes Menggunakan Strategi KWL  Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Paju Epat

47.Peningkatan Hasil Belajar Materi Keragaman Sosial dan Budaya Indonesia Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Karusen Janang
 
48.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Operasi dan Sistem Aplikasi Melalui Media Pembelajaran Siswa Kelas VIIb SMPN 1 Karusen Janang
 
49.Peningkatan Hasil Belajar Materi Keragaman Sosial dan Budaya Indonesia Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas VIIa SMPN 1 Paku
 
50.Peningkatan Hasil Belajar Materi Pranata Sosial dalam Kehidupan Masyarakat Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD  Siswa Kelas VIIID SMPN 1 Paku
 
51.Peningkatan Hasil Belajar Materi Lingkungan Hidup Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments  Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Paku
 
52.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Peredaran Darah Pada Manusia Menggunakan Strategi KWL Siswa Kelas VIIIb SMPN 1 Paku
 
53.Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Koordinasi Dan Alat Indra Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Siswa Kelas IXc SMPN 1 Paku

54.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Klasifikasi Makhluk Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Siswa Kelas VIID SMPN 1 Paku
 
55.Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Materi Klasifikasi Makhluk Hidup Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT Siswa Kelas VIIB SMPN 1 Paju Epat
 
56.Peningkatan Hasil Belajar Materi Membangun Karakter Bangsa Melalui Sastra Menggunakan Model Scramble Siswa Kelas IXb SMPN 1 Paju Epat
 
57.Peningkatan Hasil Belajar Materi HAM menurut Iman Kristen Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe KWL Siswa Kelas VIIIB SMPN 1 Paju Epat

58.Peningkatan Hasil Belajar Materi Membangun Karakter Bangsa melalui Sastra Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe SAL  Siswa Kelas IXb SMPN 1 Karusen Janang

59.Peningkatan Hasil Belajar Materi Peristiwa Bermakna Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD  Siswa Kelas IXa SMPN 1 Karusen Janang

60. Peningkatan Hasil Belajar Materi Hiburan Hati Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT  Siswa Kelas IXa SMPN 1 Karusen Janang


Kamis, 20 Oktober 2022

LDKS OSIS SMP Negeri 3 Ngadirojo, Bagaimana?

Kepemimpinan, Apa? 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian kepemimpinan adalah cara memimpin atau perihal pemimpin. Secara harfiah, kepemimpinan berasal dari kata “pimpin” yang artinya mengarahkan, membina, mengatur, menuntun, menunjukkan, atau memengaruhi.

Pemimpin bukan sekadar memerintah orang di bawahnya. Sosok pemimpin membantu diri mereka sendiri dan orang lain untuk melakukan hal yang benar. Mereka menetapkan arah, membangun visi yang menginspirasi, dan menciptakan sesuatu yang baru. Kepemimpinan adalah tentang memetakan ke mana Anda harus pergi untuk berhasil sebagai tim atau organisasi.

Dan ketika seorang pemimpin menetapkan tujuan, mereka juga harus menggunakan keterampilan manajemen mereka untuk membimbing orang-orang mereka ke tujuan yang tepat, dengan cara yang efektif dan efisien.

Pengertian kepemimpinan menurut Kartini Kartono (1994) adalah karakter khas, khususnya, mengambil situasi tertentu. Karena kelompok melakukan kegiatan tertentu dan memiliki tujuan dan berbagai peralatan khusus. Pemimpin kelompok dengan fitur karakteristik adalah fungsi dari situasi tertentu.

Kemudian menurut George R. Terry, pengertian kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam seseorang atau pemimpin dan pengaruh yang lain untuk mau bekerja secara sadar dalam kaitannya dengan tugas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

William G. Scott (1962) berpendapat pengertian kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan yang diselenggarakan dalam kelompok dalam upaya mereka untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Menurut Hemhill dan Coon (1995), pengertian kepemimpinan adalah sikap individu yang memimpin berbagai kegiatan kelompok terhadap tujuan yang akan dicapai bersama-sama.

Dari Rauch dan Behling (1984), pengertian kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir terhadap pencapaian tujuan.

Lalu pengertian kepemimpinan menurut Weschler dan Massarik (1961) adalah pengaruh antar pribadi, yang dijalankan dalam situasi tertentu, dan diarahkan melalui proses komunikasi, untuk mencapai tujuan tertentu atau lebih.

Terakhir, P. Pigors (1935) menyatakan bahwa pengertian kepemimpinan adalah proses mendorong dan mendorong melalui interaksi yang berhasil dari perbedaan individu, pengendalian kekuatan seseorang dalam mengejar tujuan bersama.


Fungsi Kepemimpinan

Fungsi Instruktif

Pemimpin berfungsi sebagai komunikator untuk menentukan semua aspek di dalam sebuah organisasi. Cara mengerjakan perintah, melaksanakan dan melaporkan hasil, dan tempat mengerjakan perintah harus diperhatikan agar setiap keputusan dapat berjalan efektif.

Fungsi Konsultatif

Pemimpin menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Komunikasi ini digunakan saat pemimpin hendak menetapkan kebijakan atau keputusan dan memerlukan pertimbangan dari kelompok yang dipimpinnya. Dengan begitu, keputusan pun dapat diambil secara efektif dan maksimal.

Fungsi Partisipasi

Fungsi partisipasi melibatkan anggota untuk ikut serta dalam setiap pengambilan kebijakan. Ini perlu dan bagus dilakukan agar orang yang dipimpinnya memiliki kesempatan untuk berpartisipasi menentukan apa yang akan dilaksanakan nantinya.

Fungsi Delegasi

Dalam fungsi delegasi, pemimpin harus bisa mempercayakan seseorang yang dipimpinnya, seperti pelimpahan wewenang dan turut andil dalam penentuan keputusan. Hal ini akan sangat membantu pekerjaan pemimpin dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, kerja sama antara pemimpin dan anggota sangat diperlukan.

Fungsi Pengendalian

Pemimpin harus mampu mengatur aktivitas dari para anggota agar tetap terarah. Pemimpin harus bisa memberi arahan, bimbingan, serta contoh yang baik terhadap anggota. Untuk mewujudkannya, seorang pemimpin perlu mengadakan kegiatan bimbingan, koordinasi, dan pengawasan.


Tujuan Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah proses di mana seseorang dapat mengarahkan, membimbing dan mempengaruhi perilaku dan pekerjaan orang lain menuju tujuan tertentu dalam situasi tertentu. Kepemimpinan adalah kemampuan seorang manajer untuk mendorong orang yang dia pimpin untuk bekerja dengan percaya diri dan semangat.

Oleh karena itu, salah satu tujuan kepemimpinan yaitu menjadi sarana untuk mencapai sebuah tujuan. Melalui kepemimpinan, setiap individu dapat memperhatikan cara seorang pemimpin untuk mewujudkan tujuan atau keinginannya. Dengan begitu, kepemimpinan bisa digunakan sebagai tolok ukur dalam mencapai tujuan tersebut.

Selain itu, kepemimpinan juga memiliki tujuan untuk memberi motivasi kepada orang lain. Hal ini sangat diperlukan sebagai salah satu cara untuk mempertahankan dan meningkatkan semangat kerja yang ada dalam diri orang yang dipimpinnya.


Pentingnya Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah bagian penting dari manajemen yang membantu memaksimalkan efisiensi dan untuk mencapai tujuan. Dikutip dari managementstudyguide.com, poin-poin berikut menunjukkan pentingnya kepemimpinan dalam suatu organisasi:

  • Memulai inisiasi - Pemimpin adalah orang yang memulai pekerjaan dengan mengkomunikasikan kebijakan dan rencana kepada bawahan dari mana pekerjaan sebenarnya dimulai.
  • Memberikan bimbingan - Seorang pemimpin tidak hanya mengawasi tetapi juga memainkan peran untuk membimbing bawahannya. Bimbingan di sini berarti menginstruksikan pada bawahan bagaimana cara mereka harus melakukan pekerjaan mereka secara efektif dan efisien.
  • Menciptakan kepercayaan - Percaya diri merupakan faktor penting yang dapat dicapai melalui apresiasi upaya kerja bawahan, menjelaskan peran mereka dengan jelas dan memberi mereka pedoman untuk mencapai tujuan secara efektif.
  • Membangun moral - Moral menunjukkan kesediaan karyawan terhadap pekerjaan mereka dan membuat mereka percaya diri sekaligus untuk memenangkan kepercayaan mereka. Seorang pemimpin dapat menjadi pendorong moral dengan mencapai kerjasama penuh sehingga mereka tampil dengan kemampuan terbaik saat bekerja.
  • Membangun lingkungan kerja - Lingkungan kerja yang efisien membantu pertumbuhan yang sehat dan stabil. Oleh karena itu, hubungan antar manusia harus diperhatikan oleh seorang pemimpin. Dia harus memiliki kontak pribadi dengan karyawan dan harus mendengarkan masalah mereka dan membantu menyelesaikannya. Dia harus memperlakukan karyawan dengan istilah kemanusiaan.
  • Koordinasi - Koordinasi dapat dicapai melalui rekonsiliasi kepentingan pribadi dengan tujuan organisasi. Sinkronisasi ini dapat dicapai melalui koordinasi yang tepat dan efektif yang seharusnya menjadi motif utama seorang pemimpin.
Singkatnya, kepemimpinan merupakan sebuah bidang riset dan juga suatu keterampilan praktis yang mencakup kemampuan seseorang atau sebuah organisasi untuk "memimpin" atau membimbing orang lain, tim, atau seluruh organisasi.

LDKS
Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) adalah sebuah pelatihan dasar tentang segala hal yang berkaitan dengan kepemimpinan. Biasanya diberikan oleh Pengurus OSIS lama kepada calon Pengurus OSIS baru, baik untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas. Oleh karena itu, dalam melaksanakan tugas kepengurusan, diperlukan adanya   pembinaan atau latihan dasar untuk para pengurus OSIS agar   mereka paham tugas pokok dan tanggung jawab yang diemban.

LDKS meliputi pelatihan dasar tentang segala hal yang berkaitan dengan kepemimpinan, pengorganisasian dan perencanaan program kegiatan serta evaluasi kegiatan untuk memberikan bekal kepemimpinan kepada Pengurus OSIS baru yang nantinya akan menjadi pemimpin dari seluruh kesatuan OSIS. 

Tujuan dari pelatihan dasar kepemimpinan ini adalah mempersiapkan kader-kader pengurus OSIS baru untuk menjadi calon pengurus baru OSIS yang mampu menjadi pemimpin Tangguh dalam sebuah organisasi  beserta unit-unitnya, yang :

  • Beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  • Berbudi Pekerti Luhur
  • Memiliki Pengetahuan dan Keterampilan
  • Sehat Jasmani dan Rohani
  • Memiliki Rasa Tanggungjawab, Kemasyarakatan dan
    kebangsaan
  • Berpikir Kreatif dan Inovatif
  • Dapat Mengambil Keputusan
  • Dapat Memecahkan masalah dengan baik
  • Belajar dengan baik, kolaborasi, pengolahan dan
    pengendalian diri. 
Berbagai materi yang diajarkan mencakup kemampuan siswa dalam kecakapan mental, mampu berbicara di depan orang banyak, mengeluarkan pendapat, hingga pemikiran mengenai seorang pemimpin yang bijaksana. 
Khususnya LDKS OSIS SMP Negeri 3 Ngadirojo, matèri ditekankan pada: 
1) Tata kerja dan perilaku organisasi;
2) Komunikasi, Tata krama, dan Tata Tertib Siswa;
3) Penyusunan proposal dan pelaporan;
4) Tehnik persidangan dan pengambilan keputusan;
5) Korespondensi organisasi;
LDKS OSIS SMP Negeri 3 Ngadirojo dilaksanakan sejak tanggal 20 Oktober 2022 hingga 21 Oktober 2022 di ruang pertemuan SMP Negeri 3 Ngadirojo. 

Sumber:
Merdeka. Com

Senin, 03 Oktober 2022

Tingkat Kepuasan Pelanggan SMP Negeri 3 Ngadirojo, Bagaimana?



SURVEI KEPUASAN PEMANGKU KEPENTINGAN STAKEHOLDER SATISFACTION SURVEY (SSS) SMP NEGERI 3 NGADIROJO 2022

LATAR BELAKANG
SMP Negeri 3 Ngadirojo terus berupaya untuk meningkatkan kinerja program dan kebijakan di bidang pendidikan dan kebudayaan. Salah satunya adalah dengan peningkatan layanan prima (service excellent) dan layanan yang berorientasi kepada pemangku kepentingan. Indikasi keberhasilan program dan kebijakan pendidikan dan kebudayaan, salah satunya adalah melalui kepuasan dari kepuasan pelanggan berupa skor indeks stakeholder satisfaction. Untuk mengukur tingkat kepuasan kepuasan pelanggan ini diperlukan survei di tingkat nasional yang dijalankan secara berkelanjutan. Sehingga dapat terukur peningkatan atau penurunan dari keberhasilan program dan kebijakan.
Dalam program reformasi birokrasi SMP Negeri 3 Ngadirojo telah ditetapkan Sepuluh program area perubahan yang menjadi fokus reformasi birokrasi di lingkungan SMP Negeri 3 Ngadirojo, yaitu:
1. Bagaimanakah layanan pembelajaran guru selama di dalam kelas selama ini? 
2. Bagaimanakah layanan para pembina ekstrakurikuler selama ini? 
3. Bagaimanakah layanan para staf Tata Usaha selama ini? 
4. Bagaimanakah layanan pustakawan di perpustakaan sekolah selama ini? 
5. Bagaimanakah layanan laboran di laboratorium IPA selama ini? 
6. Bagaimanakah layanan teknisi di laboratorium komputer selama ini? 
7. Bagaimanakah layanan pengembangan literasi di sekolah selama ini? 
8. Bagaimanakah layanan pengembangan diri selama ini? 
9. Bagaimanakah prestasi siswa di bidang akademik selama ini? 
10. Bagaimanakah prestasi siswa di bidang non akademik selama ini?

Selain itu, sejalan dengan peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permen PAN-RB) Nomor 14 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyusunan Survei Kepuasan Masyarakat Unit Penyelenggara Pelayanan Publik sebagai pengganti Permen PAN RB Nomor 16
tahun 2014 tentang survei kepuasan masyarakat terhadap penyelenggaraan pelayanan publik dijelaskan bahwa penyelenggara pelayanan publik wajib melakukan Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) secara berkala minimal 1 kali dalam 1 tahun.
Berdasarkan hal tersebut, maka Tim Pengembang Sekolah pada tahun 2022 menyelenggarakan kegiatan Survei Kepuasan Pemangku Kepentingan/ Stakeholders Satisfaction Survey (SSS).

MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud utama pelaksanaan kegiatan Survei Kepuasan Pemangku Kepentingan/ Stakeholders Satisfaction Survey (SSS) ini adalah untuk mengukur tingkat kepuasan dari kepuasan pelanggan SMP Negeri 3 Ngadirojo terhadap program dan kebijakan yang sudah dijalankan. Lebih khusus, tujuan utama pelaksanaan kegiatan ini adalah:
Mendapatkan hasil evaluasi tingkat kepuasan dari para kepuasan pelanggan terhadap program kerja dan kebijakan dari SMP Negeri 3 Ngadirojo  secara nasional;
Mendapatkan informasi tentang faktor-faktor kepuasan dari stakeholder;
Mendapatkan hasil evaluasi pemahaman/pengetahuan, penilaian, kebutuhan dan harapan, serta dampak-manfaat kebijakan dan program kerja yang sudah dijalankan SMP Negeri 3 Ngadirojo;
Mendapatkan rekomendasi untuk dapat meningkatkan kualitas kebijakan dan program kerja dari SMP Negeri 3 Ngadirojo, sekaligus peningkatan persepsi positif para pemangku kepentingan.

METODOLOGI
Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kuantitatif. Responden terdiri dari: 1) peserta didik; 2) Orang tua 3) Komite Sekolah; dan 5) Pejabat Dinas Pendidikan. 
Jumlah responden dalam survei sebanyak 249 responden sebagaimana pada Gambar 1 dibawah ini:

Gambar 1: Kedudukan Responden

Gambar 1 di atas menunjukkan persentase responden dari total 249 responden sebagai berikut:
Sebanyak 73,9% (184 responden) berasal dari siswa
Sebanyak 22,9% (57 responden) berasal dari orang tua siswa
Sebanyak 1,6% (4 responden) berasal dari Pengurus komite
Sebanyak 1,6% (4 responden) berasal dari Pejabat Dinas Pendidikan
 Teknik penarikan sampel menggunakan kombinasi acak sederhana (simple random sampling) dan purposive sampling. 
Pengambilan data dilakukan dengan google form terhadap para pemangku kepentingan SMP Negeri 3 Ngadirojo menggunakan kuesioner berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang terstruktur sesuai dengan sasaran survei.
Perhitungan Indeks Survei Kepuasan berdasarkan skor rata-rata (mean score). Skala pengkuran kepuasan menggunakan skala likert 1 – 6 selanjutnya di konversi menjadi skala 0 – 100 (Geoff Norman, Springer, 2010). Selain itu juga dihitung persentase top 2 boxes (responden yang menjawab sangat memuaskan dan memuaskan). Untuk menghitung indeks kepuasan pemangku kepentingan menggunakan persentase bottom 5 option (responden yang menjawab sangat memuaskan, memuaskan, cukup memuaskan, kurang memuaskan dan tidak memuaskan).
Untuk mendeskripsikan nilai indeks kepuasan pemangku kepentingan menggunakan kriteria penilaian seperti berikut:
Tabel 1 : Kriteria Penilaian

NO.
SKOR BUTIR PENILAIAN
Kategori Jawaban

1
5
Sangat Memuaskan

2
4
Memuaskan

3
3
Cukup Memuaskan

4
2
Kurang Memuaskan

5
1
Tidak Memuaskan

Indeks kepuasan dihitung dengan menjumlahkan persentase jawaban kategori Sangat memuaskan dan Memuaskan. Selanjutnya, digunakan tabel interpretasi sebagai berikut:
Tabel 2. Interpretasi Indeks Kepuasan
NO.
Indeks (%)
Interpretasi

1
86-100
Sangat Baik

2
66-85
Baik

3
46-65
Cukup baik, perlu sedikit perbaikan

4
26-45
Kurang Baik, perlu banyak perbaikan dan perubahan yang mendasar

5
0-25
Tidak Baik, perlu banyak sekali perbaikan dan perubahan yang mendasar

Tahapan pelaksanaan Survei Kepuasan Pemangku Kepentingan / Stakeholders Satisfaction Survey (SSS) SMP Negeri 3 Ngadirojo 2022, digambarkan secara ringkas melalui diagram alur sebagai berikut:

Gambar 2. Tahapan Kerja
HASIL DAN PEMBAHASAN
Secara keseluruhan diskripsi kepuasan pemangku kepentingan SMP Negeri 3 Ngadirojo 2022 sebagai berikut:

Layanan intrakurikuler
Diskripsi layanan intrakurikuler  di SMP Negeri 3 Ngadirojo sebagaimana Gambar 3 di bawah ini:
Gambar 3: Layanan intrakurikuler
Gambar 3 di atas menunjukkan respon dari 249 responden terkait layanan intrakurikuler di SMP Negeri 3 Ngadirojo, yaitu:
Sebanyak 28,9% (72 responden) menyatakan sangat memuaskan;
Sebanyak 47% (117 responden) menyatakan memuaskan;
Sebanyak 22,5% (56 responden) menyatakan cukup memuaskan;
Sebanyak 1,6% (4 responden) menyatakan kurang memuaskan.
Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap layanan intrakurikuler di SMP Negeri 3 Ngadirojo dalam kategori Baik sebagaimana pada tabel 3 di bawah ini:
Tabel 3: Indeks kepuasan layanan Intrakurikuler
Kriteria Jawaban Responden
Frekwensi Jawaban
%

Sangat Memuaskan
72
28,9

Memuaskan
117
47

Total
189
75,9

Interpretasi
Baik


Layanan Ekstra kurikuler
Diskripsi layanan ekstrakurikuler di SMP Negeri 3 Ngadirojo sebagaimana Gambar 4 di bawah ini:
Gambar 4: Layanan Ekstrakurikuler
Gambar 4 di atas menunjukkan respon dari 249 responden terkait layanan ekstrakurikuler di SMP Negeri 3 Ngadirojo, yaitu:
Sebanyak 35,3% (88 responden) menyatakan sangat memuaskan;
Sebanyak 40,6% (101 responden) menyatakan memuaskan;
Sebanyak 22,5% (53 responden) menyatakan cukup memuaskan;
Sebanyak 2,4% (6 responden) menyatakan kurang memuaskan.
Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap layanan intrakurikuler di SMP Negeri 3 Ngadirojo dalam kategori Baik sebagaimana pada tabel 4 di bawah ini:
Tabel 4: Indeks kepuasan layanan Ekstrakurikuler
Kriteria Jawaban Responden
Frekwensi Jawaban
%

Sangat Memuaskan
88
35,3

Memuaskan
101
40,6

Total
189
75,9

Interpretasi
Baik

Layanan Staf Tata Usaha
Diskripsi layanan staf Tata Usaha di SMP Negeri 3 Ngadirojo sebagaimana Gambar 5 di bawah ini:
Gambar 5: Layanan Staf Tata Usaha
Gambar 5 di atas menunjukkan respon dari 249 responden terkait layanan staf tata usaha di SMP Negeri 3 Ngadirojo, yaitu:
Sebanyak 22,1% (55 responden) menyatakan sangat memuaskan;
Sebanyak 55% (137 responden) menyatakan memuaskan;
Sebanyak 22,5% (56 responden) menyatakan cukup memuaskan;
Sebanyak 0,4% (1 responden) menyatakan kurang memuaskan.
Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap layanan staf tata usaha di SMP Negeri 3 Ngadirojo dalam kategori Baik sebagaimana pada tabel 5 di bawah ini:
Tabel 5: Indeks kepuasan layanan Tata Usaha
Kriteria Jawaban Responden
Frekwensi Jawaban
%

Sangat Memuaskan
55
22,1

Memuaskan
137
55

Total
116
77,1

Interpretasi
Baik

Layanan pustakawan di perpustakaan
Layanan pustakawan di SMP Negeri 3 Ngadirojo sebagaimana pada Gambar 6 di bawah ini:
Gambar 6: Layanan Pustakawan
Gambar 6 di atas menunjukkan respon dari 249 responden terkait layanan pustakawan di SMP Negeri 3 Ngadirojo, yaitu:
Sebanyak 39,8% (99 responden) menyatakan sangat memuaskan;
Sebanyak 43% (107 responden) menyatakan memuaskan;
Sebanyak 16,1% (40 responden) menyatakan cukup memuaskan;
Sebanyak 1,2% (3 responden) menyatakan kurang memuaskan.
Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap layanan pustakawan di SMP Negeri 3 Ngadirojo dalam kategori Amat Baik sebagaimana pada tabel 6 di bawah ini:
Tabel 7: Indeks Kepuasan Layanan Pustakawan
Kriteria Jawaban Responden
Frekwensi Jawaban
%

Sangat Memuaskan
99
39,8

Memuaskan
107
43

Total
216
90

Interpretasi
Amat Baik

Layanan laboran di laboratorium IPA
Layanan laboran di laboratorium IPA di SMP Negeri 3 sebagaimana pada Gambar 7 di bawah ini:
Gambar 7: Layanan Laboratorium IPA
Gambar 7 di atas menunjukkan respon dari 249 responden terkait layanan Laboran di Laboratorium IPA SMP Negeri 3 Ngadirojo, yaitu:
Sebanyak 29,7% (74 responden) menyatakan sangat memuaskan;
Sebanyak 44,6% (111 responden) menyatakan memuaskan;
Sebanyak 24% (61 responden) menyatakan cukup memuaskan;
Sebanyak 1,2% (3 responden) menyatakan kurang memuaskan;
Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap layanan Laboratorium IPA di SMP Negeri 3 Ngadirojo dalam kategori Baik sebagaimana pada tabel 6 di bawah ini:
Tabel 8: Indeks Kepuasan Layanan Laboratorium IPA
Kriteria Jawaban Responden
Frekwensi Jawaban
%

Sangat Memuaskan
74
29,7

Memuaskan
111
44,6

Total
185
84,3

Interpretasi
Baik

Layanan Laboratorium Komputer
Layanan laboran di laboratorium komputer SMP Negeri 3 Ngadirojo sebagaimana pada gambar 8 di bawah ini:
Gambar 8: Layanan Laboratorium Komputer
Gambar 8 di atas menunjukkan respon dari 249 responden terkait layanan Laboran di Laboratorium komputer SMP Negeri 3 Ngadirojo, yaitu:
Sebanyak 30,5% (75 responden) menyatakan sangat memuaskan;
Sebanyak 45,8% (114 responden) menyatakan memuaskan;
Sebanyak 20,5% (51 responden) menyatakan cukup memuaskan;
Sebanyak 2,4% (6 responden) menyatakan kurang memuaskan;
Sebanyak 0,8% (2 responden) menyatakan tidak memuaskan.
Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap layanan Laboratorium komputer di SMP Negeri 3 Ngadirojo dalam kategori Baik sebagaimana pada tabel  9 di bawah ini:
Tabel 9: Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap layanan Laboratorium komputer
Kriteria Jawaban Responden
Frekwensi Jawaban
%

Sangat Memuaskan
75
30,5

Memuaskan
114
45,8

Total
189
76,3

Interpretasi
Baik


Layanan Pengembangan Literasi
Layanan pengembangan literasi di SMP Negeri 3 Ngadirojo sebagaimana pada Gambar 9 di bawah ini:
Gambar 9: Layanan Pengembangan Literasi
Gambar 9 di atas menunjukkan respon dari 249 responden terkait layanan pengembangan Literasi di SMP Negeri 3 Ngadirojo, yaitu:
Sebanyak 24,9% (62 responden) menyatakan sangat memuaskan;
Sebanyak 52,2% (130 responden) menyatakan memuaskan;
Sebanyak 27,7% (54 responden) menyatakan cukup memuaskan;
Sebanyak 1,2% (3 responden) menyatakan kurang memuaskan;
Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap layanan pengembangan Literasi di SMP Negeri 3 Ngadirojo dalam kategori Baik sebagaimana pada tabel 10  di bawah ini:
Tabel 10: Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap layanan pengembangan Literasi
Kriteria Jawaban Responden
Frekwensi Jawaban
%

Sangat Memuaskan
62
24,9

Memuaskan
130
52,2

Total
192
77,1

Interpretasi
Baik

Layanan pengembangan bidang keagamaan
Layanan pengembangan diri bidang keagamaan di SMP Negeri 3 Ngadirojo sebagaimana pada Gambar 10 di bawah ini:
Gambar 10: Layanan Pengembangan Diri Bidang Keagamaan
Gambar 10 di atas menunjukkan respon dari 249 responden terkait layanan pengembangan diri bidang keagamaan di SMP Negeri 3 Ngadirojo, yaitu:
Sebanyak 34,9% (87 responden) menyatakan sangat memuaskan;
Sebanyak 42,6% (106 responden) menyatakan memuaskan;
Sebanyak 20,1% (50 responden) menyatakan cukup memuaskan;
Sebanyak 1,6% (3 responden) menyatakan kurang memuaskan;
Sebanyak 1,2% (3 responden) menyatakan tidak memuaskan.
Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap layanan pengembangan bidang keagamaan di SMP Negeri 3 Ngadirojo dalam kategori Baik sebagaimana pada tabel 11 di bawah ini:
Tabel 11: Indeks kepuasan pemangku kepentingan bidang keagamaan
Kriteria Jawaban Responden
Frekwensi Jawaban
%

Sangat Memuaskan
87
34,9

Memuaskan
106
42,6

Total
193
77,5

Interpretasi
Baik

Layanan pengembangan prestasi akademik
Layanan pengembangan prestasi akademik sebagaimana pada Gambar 11 di bawah ini:

Gambar 11: Layanan Pengembangan Prestasi Akademik
Gambar 11 di atas menunjukkan respon dari 249 responden terkait layanan pengembangan prestasi akademik di SMP Negeri 3 Ngadirojo, yaitu:
Sebanyak 27,7% (69 responden) menyatakan sangat memuaskan;
Sebanyak 50,2% (125 responden) menyatakan memuaskan;
Sebanyak 21,3% (53 responden) menyatakan cukup memuaskan;
Sebanyak 0,8% (2 responden) menyatakan kurang memuaskan;
Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap layanan pengembangan bidang prestasi akademik di SMP Negeri 3 Ngadirojo dalam kategori Baik sebagaimana pada tabel 12 di bawah ini:
Tabel 12: Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap layanan bidang prestasi akademik
Kriteria Jawaban Responden
Frekwensi Jawaban
%

Sangat Memuaskan
69
27,7

Memuaskan
125
50,2

Total
194
77,9

Interpretasi
Baik


Layanan pengembangan prestasi non akademik
Layanan pengembangan prestasi non akademik sebagaimana pada Gambar 12 di bawah ini:

Gambar 12: Layanan Pengembangan Prestasi Non Akademik
Gambar 12 di atas menunjukkan respon dari 249 responden terkait layanan pengembangan prestasi non akademik di SMP Negeri 3 Ngadirojo, yaitu:
Sebanyak 25,3% (63 responden) menyatakan sangat memuaskan;
Sebanyak 49,4% (123 responden) menyatakan memuaskan;
Sebanyak 23,3% (58 responden) menyatakan cukup memuaskan;
Sebanyak 1,6% (4 responden) menyatakan kurang memuaskan;
Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap layanan pengembangan bidang prestasi non akademik di SMP Negeri 3 Ngadirojo dalam kategori Baik sebagaimana pada tabel 12 di bawah ini:
Tabel 13: Indeks kepuasan pemangku kepentingan terhadap  bidang prestasi non akademik
Kriteria Jawaban Responden
Frekwensi Jawaban
%

Sangat Memuaskan
63
25,3

Memuaskan
123
49,4

Total
186
74,7

Interpretasi
Baik


KESIMPULAN
Berdasarkan hasil studi tracer diketahui  indeks kepuasan pemangku kepentingan SMP Negeri 3 Ngadirojo pada tahun 2022 sebagai berikut:
 1. Layanan pembelajaran guru selama di dalam kelas selama ini dalam kategori Baik. 
2. Layanan para pembina ekstrakurikuler selama ini dalam kategori Baik. 
3. Layanan para staf Tata Usaha selama ini dalam kategori Baik. 
4. Layanan pustakawan di perpustakaan sekolah selama ini dalam kategori Amat Baik. 
5. Layanan laboran di laboratorium IPA selama ini dalam kategori Baik. 
6. Layanan laboran  di laboratorium komputer selama ini dalam kategori Baik. 
7. Layanan pengembangan literasi di sekolah selama ini dalam kategori Baik. 
8. Layanan pengembangan diri bidang kegamaan selama ini dalam kategori Baik. 
9. Layanan pengembangan prestasi siswa di bidang akademik selama ini dalam kategori Baik. 
10. Layanan pengembangan prestasi siswa di bidang non akademik selama ini dalam kategori Baik.

REKOMENDASI
Meskipun indeks kepuasan sudah baik, namun jika dibandingkan dengan indeks kebahagiaan hidup yang dikeluarkan oleh BPS dalam hal pendidikan dan keterampilan yang masih rendah, maka SMP Negeri 3 Ngadirojo perlu terus untuk melakukan perbaikan (sustainable improvement) mengingat harapan dan tuntutan dari pemangku kepentingan yang terus berkembang dan tinggi. Terkait hal tersebut rekomendasi atas temuan survei ini adalah:
Mempertahankan dan terus melakukan perbaikan (sustainable improvement) kinerja parameter-parameter yang telah memiliki indeks kepuasan tinggi, di atas rata-rata indeks secara umum, dan meningkat.
Memperbaiki dan meningkatkan kinerja parameter-parameter yang belum memiliki indeks kepuasan tinggi, di bawah rata-rata dan turun.

Rabu, 28 September 2022

Profil Calon Kepala Sekolah 2023, Bagaimana?

KEMENTERIAN Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) tidak lagi membuka kegiatan pendidikan dan pelatihan (Diklat) calon kepala sekolah (kepsek) mulai tahun 2022. Pasalnya, perekrutan kepsek tidak lagi melalui Diklat tetapi harus bersertifikat Guru Penggerak.

Berdasarkan Permendikbud-Ristek 40/21, Guru Penggerak merupakan prasyarat dan pola rekruitmen kepsek. Artinya, para guru yang mengikuti pendidikan selama 9 bulan ini dipersiapkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin sekolah.

Bekal yang mereka peroleh akan meningkatkan kemampuan mereka. Sehingga, dengan SDM pemimpin sekolah yang unggul maka akan mendorong kualitas pendidikan sesua visi Merdeka Belajar.

Mulai tahun 2022 Diklat calon kepala sekolah ini sudah ditiadakan. Sehingga semuanya untuk penyiapan calon-calon kepala sekolah ini akan dipenuhi dari pendidikan calon Guru Penggerak. 

Guru Penggerak ini adalah guru yang kita didik selama 9 bulan untuk memahami visi Meredeka Belajar, melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid dan menjadi pemimpin-pemimpin pembelajaran. 

Meski demikian, untuk tahun 2022 ini rekrutmen kepsek masih mengakomodasi guru bersertifikat Diklat calon kepsek sebelumnya. Namun, lebih dari 100 alumni Guru Penggerak sudah menjadi kepsek dan angka tersebut akan terus bertambah.

 Aturan baru memang memberi tugas kepada Guru Penggerak untuk mengemban tugas kepsek. Ke depannya, mereka akan mengeluarkan regulasi yang menjadi landasan hukum bagi Guru Penggerak untuk menjadi pengawas sekolah.

Pendaftaran dan sekaligus seleksi tahap pertama calon Kepala Sekolah Penggerak Angkatan 3 tahun 2022 telah dibuka sejak 27 Januari dan ditutup pada 28 Februari 2022.

 Pada seleksi tahap pertama itu, dilakukan seleksi terhadap dokumen registrasi, pengisian biodata atau curiculum vitae (CV), pengisian essay dan unggahan dokumen. Pengumuan hasil seleksi Tahap 1 telah dilakukan pada 4 April 2022.

Kepala sekolah yang lolos seleksi tahap !  mengikuti  proses seleksi tahap dua yang berlangsung tanggal 9 April hingga 11 Juni 2022. Pada seleksi tahap dua ini, calon Kepala Sekolah Penggerak  mengikuti tes Simulasi Mengajar dan Wawancara. Proses ini semua dilakukan secara daring, dan tatap muka langsung.

Tahapan berikutnya, pada  20 Juni hingga 4 Juli 2022   dilaksanakan Verifikasi dan Validasi Data serta penilaian seleksi tahap 2. Setelah itu, pada tanggal 7 Juli hingga 14 Juli 2022  dilakukan Rapat Pleno Kelulusan bagi calon kepala sekolah penggerak yang telah mengikuti seleksi.

Sekedar informasi, Pada 2020 - 2021, Sekolah Penggerak menyasar 2.500 sekolah di 34 Provinsi dan 111 Kabupaten/ Kota. Program Sekolah Penggerak terbuka untuk semua sekolah, baik negeri maupun swasta di 34 provinsi. 

Namun, skemanya dilakukan bertahap dengan kuota awal 2.500 sekolah di 111 kabupaten/kota (2021-2022), lalu diduplikasi menjadi 10.000 sekolah di 250 kabupaten/kota (2022-2023), meningkat lagi menjadi 20.000 sekolah di 514 kabupaten/kota, dan 40.000 sekolah di 514 kabupaten/kota, dan seterusnya sampai mencakup seluruh sekolah di Indonesia.

Kemendikbudristek hanya akan memilih Kepala sekolah yang memiliki minat dan kemauan tinggi untuk bertransformasi.
Harapannya,  Kemendikbud bisa mengukur seberapa jauh sekolah bisa berkembang dari posisi awal. Sementara itu, tujuan sekolah penggerak ialah untuk melahirkan siswa dengan profil Pelajar Pancasila.

Sistem pendidikan kita akan berujung pada profil pelajar Pancasila. Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong-royong dan berkebhinekaan global. 

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/humaniora/465930/mulai-2022-diklat-calon-kepsek-ditiadakan-rekrutmen-kepsek-harus-bersertifikat-guru-penggerak
https://puslapdik.kemdikbud.go.id/artikel/pendaftaran-calon-kepala-sekolah-penggerak-tahun-2023-telah-dibuka