Rabu, 01 Februari 2023

Supervisi melalui Proses Coaching, Bagaimana?

 

Supervisi melalui Proses Coaching, Bagaimana?

 

Oleh:

Teguh Basuki

(Calon Pengajar Praktek Gelombang 1 Angkatan 8 Kelas 27 Tahun 2023)

 

 

Supervisi dan Proses Coaching, Untuk Apa?

Coaching untuk supervisi akademik merupakan upaya supervise yang bermakna dalam  peningkatan peran guru sebagai pemimpin pembelajaran, khususnya kompetensi dalam memimpin refleksi dan perbaikan kualitas proses belajar yang berpusat pada murid.  Seorang guru harus membiasakan melakukan refleksi terkait perbaikan kualitas praktik pembelajaran. Selain itu, guru harus memandu rekan sesama guru untuk bersama menganalisis data hasil pembelajaran, merencanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis untuk meningkatkan pembelajaran, dan melakukan refleksi berdasarkan umpan balik dari murid untuk perbaikan kualitas praktik pembelajaran. Refleksi dari kepala sekolah juga perlu dilakukan untuk perbaikan kualitas praktik pembelajaran.  Bahan yang dapat dijadikan refleksi adalah berupa hasil supervisi dari kepala sekolah atau guru pamong.  Saat melakukan supervisi sesama guru, guru membutuhkan keterampilan dalam mengelola pelaksanaan supervisi supaya tujuan tercapai.

Kadang muncul perasaan tidak nyaman saat harus berhadapan dengan teman sejawat untuk melakukan supervisi akademik.  Namun, hal ini tidak menghalangi guru untuk tetap bisa memerankan fungsinya sebagai supervisor teman sejawat dengan menerapkan teknik coaching.  Tekhnik coaching menempatkan supervisor dan guru yang disupervsi membangun kemitraan yang setara dan guru sendiri yang akan mengambil keputusan dalam rangka perbaikan kompetensinya.  Supervisor sebagai coach hanya mengantarkan melalui mendengarkan aktif dan melontarkan pertanyaan, guru lah yang membuat keputusan sendiri.

Teknik coaching dengan alur tirta menyajikan langkah-langkah yang mudah diterapkan menjadikan guru lebih mudah untuk mengembangkan kemampuannya dalam menggali potensi rekan lainnya sekaligus memanajemen dirinya dalam mengelola potensinya dengan menjadikan teman lain sebagai coach bagi dirinya.

Berdasarkan kajian empiris, dari tiga kompetensi coaching, yaitu kehadiran penuh, mendengar aktif, mengajukan pertanyaan berbobot,  hal yang perlu ditingkatkan dalam penerapan coaching adalah kompetensi mengajukan pertanyaan berbobot.  Pertanyaan berbobot bersifat terbuka dan berasal dari mendengarkan jawaban coachee. Tidak jarang, coach terjebak memberi tanggapan terhadap jawaban coachee bukan berupa pertanyaan lanjutan namun berupa tanggapan setuju atau tidak setuju bahkan kadang memunculkan ungkapan berupa nasihat atau saran.  Padahal coaching bukanlah proses konseling yang memberikan alternatif solusi namun sebuah proses menemukan solusi dari permasalahan yang berassala dari coachee sendiri.

Mengapa coaching diperlukan dalam tahapan supervisi klinis? Supervisi klinis mencakup 3 tahapan, yaitu pra-observasi, observasi, dan pasca observasi.  Kegitan pra-observasi adalah dialog antara guru (coachee) dan supervisor (coach) yang dilakukan sebelum observasi di kelas dimulai.  Percakapan dengan guru sebelum kegiatan observasi kelas dibutuhkan untuk pertama, percakapan awal ini membangun kepercayaan dari guru kepada pimpinan sekolah sebagai supervisor yang profesional karena merencanakan kegiatan ini dengan baik. Kedua, percakapan awal memberikan perasaan tenang mengenai tujuan dari rangkaian supervisi klinis. Supervisor menempatkan diri sebagai mitra atau rekan seperjalanan mereka dalam pengembangan diri. Ketiga, kesepakatan yang dihasilkan pada tahap ini mengenai aspek-aspek pengembangan yang akan diobservasi memberikan rasa percaya diri dan motivasi internal karena guru merasakan keterlibatan aktif dalam proses. Guru diberikan kesempatan untuk menyampaikan rancangan pembelajaran dan apa yang menjadi target pengembangan untuk diobservasi (Irayati dkk, 2022)

Observasi adalah aktivitas pengamatan oleh supervisor pada saat guru melaksanakan pembelajara di kelas. Tujuan utama tahap ini adalah mengambil data atau informasi secara obyektif mengenai aspek pengembangan yang sudah disepakati. Percakapan pasca-observasi mempunyai tujuan  menganalisis hasil data observasi, percakapan umpan balik, perencanaan area pengembangan, dan rencana aksi pengembangan diri.  Semua langkah itu dilaksaknakan menggunakan prinsip coaching, yakni kemitraan, Konstruktif, terencana, reflektif, objektif, berkesinambungan, dan komprehensif.

Tantangan bagi guru dalam menerapkan coaching pada proses supervisi klinis adalah menjadikan refleksi dan pemberian umpan balik sebagai kegiatan yang berkesinambungan dan dilakukan secara terus menerus sehingga mampu memberi dampak perbaikan dalam hal kompetensi pemimpin pembelajaran.  Tidak jarang guru bahkan kepala sekolah menerapkan coaching hanya sebagia kegiatan rutin untuk pemenuhan tugas semata sehingga melupakan prinsip utama yakni kontinuitas atau proses yang dilakukan secara terus menerus dengan menyertakan proses refleksi dan umpan balik.  Hal ini perlu ditindaklanjuti dengan perencanaan supervisi klinis yang matang diikuti pelaksaanaan yang sesuai rencana.

Tentunya, sebelum mempelajari materi coaching, supervisi klinis dilaksanakan terjadwal dan kepala sekolah langsung mendatangi kelas untuk observasi. Hasil observasi berupa nilai yang menggambarkan pencapaian kompetensi mengajar.  Terkadang guru tidak mengetahui hasilnya dan merasa tidak memerlukannya.  Dan kepala sekolah menggunakan data tersebut utuk sekedar laporan dan bukan sebagai bahan untuk menggali potensi guru dan mengembangkannya lebih jauh lagi.

Setelah mempelajari tekhnik coaching, gambaran bagaimana mengemas kegiatan supervisi sebagai kegiatan yang santai, bermakna, reflektif, dan hangat akan terwujud.  Teknik ini bisa diterpakan tidak saja untuk meningkatkan kenyamanan hubungan antara kepala sekolah dan guru namun yang terpenting adalah terwujudnya proses evaluasi dan perbaikan secara terus menerus melalui proses refleksi.

Materi coaching ini merupakan rangkaian dari tiga materi modul 2 PGP (Pendidikan Guru Penggerak) yaitu pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran Sosial dan Emosional.  Keterkaitan materi coaching dengan pembelajaran diferensiasi terletak bagaimana guru sebagai pemimpin pembelajaran mampu memberikan pertanyaan berbobot pada murid dalam menentukan minat mereka terhadap materi pelajaran tertentu.  Guru harus mempunyai perhatian penuh kepada muridnya sehingga mampu memberikan pertanyaan yang bisa menggali potensi murid-muridnya dalam mengungkapkan pendapat, menyimpulkan, dan menanggapi dalam pembelajaran individu maupun kelompok.  Kemampuan mendengar aktif sebagai bagian dari prinsip coaching sangat diperlukan guru dalam proses pembelajaran dengan siswa sehingga mampu menangkap kebutuhan siswa sehingga guru bisa memberikan metode pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan siswa.

 

Pembelajaran Sosial dan emosional mencakup nilai-nilai yang terdeskripsi dalam kompetensi soseal emosional (CASEL) memberikan pengalaman kepada guru untuk mengenal  kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.  Pengalaman belajar ini memberikan guru bekal untuk menjadi seorang coach yang ideal.  Seorang coach diharapkan mempunyai kompetensi mendengar aktif, kehadiran yang penuh yang sangat memerlukan konsentrasi terutama pengelolan emosi yang mendalam.  Hal ini untuk menghindari coach melibatkan perasaan, fikiran dan emosinya terbawa oleh coachee.  Melalui manajemen diri yang kuat, kesadaran soial, dan keterampilan berelasi seorang coach akan mampu berempati namun tidak hanyut oleh perasaan coachee namun bisa menangkap kunci-kunci persoalan sehingga bisa menuntun sang coachee menemukan solusi yang tepat bagi permasalahannya.

Seorang guru penggerak harus mampu menjalankan peran sebagaimana yang dipelajari pada Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak. Peran yang dimaksud dalam modul tersebut adalah 1) Menjadi Pemimpin Pembelajaran, 2) Menjadi Coach Bagi Guru Lain, 3) Mendorong kolaborasi, 4) Mewujudkan Kepemimpinan Murid (Student Agency), 5) Menggerakkan Komunitas Praktisi. Lima peran guru penggerak yang sejalan dan selaras dengan modul 2.3 Coaching untuk supervisi akademik adalah peran yang ke-2 yaitu menjadi coach bagi guru lain.

Supervisi akademik di sekolah sering diasumsikan sebagai suatu kegiatan observasi  atau penilaian terhadap kinerja guru. Sehingga kata supervisi identik menjadi sebuah kegiatan kekurangan guru dan guru merasa terbebani ketika guru tersebut disupervisi.

Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Sedangkan Whitmore (2003) mendefinisikan coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai “…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.”

Singkatnya, coaching merupakan sebuah kegiatan mengantarkan dari satu kondisi menuju kondisi lain yang lebih baik (coache adalah orang yang sudah mahir/ahli tetapi dalam kondisi yang kurang baik sebelum melakukan kegiatan coaching), coaching meningkatkan kompetensi personal dan profesional, coaching bukan kegiatan memberi tahu, melainkan kegiatan menanya (asking) untuk membangkitkan motivasi (belum mau menjadi mau, belum sadar menjadi sadar). Seorang coach dalam kegiatan coaching menggali dan memotivasi solusi dari masalah yang dialami coachee. Kegiatan coaching diharapkan coachee menemukan solusi dari masalah yang dialami dengan kembali sadar dan tanpa ajakan maupun paksaan dari seorang coach (mandiri).

Apa Paradigma, Prinsip, dan Kompetensi Inti Coaching?

Prasyarat seorang coach yang baik, seorang coach harus menerapkan dan memiliki pemikiran dalam beberapa hal, diantaranya adalah paradigma berfikir coaching dan prinsip coaching.

Paradigma berfikir coaching, meliputi: 1)Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan; 2)Bersikap terbuka dan ingin tahu; 3)Memiliki kesadaran diri yang kuat; 4)Mampu melihat peluang baru dan masa depan. Adapun, Prinsip coaching, meliputi: 1)Kemitraan; 2)Proses kreatif; 3)Memaksimalkan potensi. Selain kedua hal ini, yang perlu dimiliki dan diterapkan, untuk dapat melakukan proses coaching dengan baik seorang guru harus memiliki 3 kompetensi inti coaching, yaitu:

  1. Kehadiran Penuh/Presence

Kehadiran penuh/presence adalah kemampuan untuk bisa hadir utuh bagi coachee, atau di dalam coaching disebut sebagai coaching presence sehingga badan, pikiran, hati selaras saat sedang melakukan percakapan coaching.  Kehadiran penuh ini adalah bagian dari kesadaran diri yang akan membantu munculnya paradigma berpikir dan kompetensi lain saat kita melakukan percakapan coaching.

  1. Mendengarkan Aktif

Salah satu keterampilan utama dalam coaching adalah keterampilan mendengarkan dengan aktif atau sering kita sebut dengan menyimak.  Seorang coach yang baik akan mendengarkan lebih banyak dan lebih sedikit berbicara.  Dalam percakapan coaching, fokus dan pusat komunikasi adalah pada diri coachee, yakni mitra bicara.  Dalam hal ini, seorang coach harus dapat mengesampingkan agenda pribadi atau apa yang ada di pikirannya termasuk penilaian terhadap coachee.

  1. Mengajukan Pertanyaan Berbobot

Dalam melakukan percakapan coaching ketrampilan kunci lainnya adalah mengajukan pertanyaan dengan tujuan tertentu atau pertanyaan berbobot.  Pertanyaan yang diajukan seorang coach diharapkan menggugah orang untuk berpikir dan dapat menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi.

Salah satu referensi yang dapat digunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot kepada coachee adalah merupakan hasil dari mendengarkan aktif yaitu R-A-S-A. RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask.

Alur Percakapan T-I-R-T-A, Bagaimana?

TIRTA dikembangkan dari satu model umum coaching yang dikenal sangat luas dan telah banyak diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will, yaitu:

 1) Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini;  2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee; 3) Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi; 4) Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

Adapun, TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Tujuan Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee)
  2. Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi)
  3. Rencana Aksi (Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat)
  4. TAnggungjawab (Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya)

Apa Relevansi Coaching dengan Pembelajaran Berdiferensiasi Dan Pembelajaran Soial Emosional?

Pembekalan Calon Pengajar Praktek telah merubah saya menjadi semakin tercerahkan dan termotivasi untuk menerapkan prinsi coaching dalam membantu rekan sejawat untuk menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Saya meyakini bahwa dengan menerapkan paradigma berfikir coaching  dalam penyelesaian masalah yang dihadapi rekan sejawat, mereka akan lebih terbuka, tidak merasa malu menguraikan permasalahan yang dihadapi dan merefleksi diri.

Bagaimanakah keterkaitan coaching dengan pembelajaran berdiferensiasi? Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Sesuai dengan definisi pembelajaran berdiferensiasi tersebut dapat diasumsikan bahwa paradigma coaching dan prinsip coaching dapat diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan pembelajaran. Selain itu dengan menerapkan coaching sebagai sebuah pendekatan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid adalah suatu hal yang dapat dilakukan dan efektif untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Untuk menyusun dan melaksanakan proses pembelajaran, guru akan mengaarahkan murid untuk menemukan, menentukan/memilih kebutuhan belajarnya. Murid dimampukan untuk dapat belajar sesuai dengan gaya belajar, kemampuan belajar, bakat dan minat yang dimiliki. Dengan demikian, pembelajaran dapat berjalan baik dan murid merasa nyaman dengan proses belajar yang mereka lakukan.

Bagaimana keterkaitan coaching dengan pembelajaran sosial emosional? Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional agar dapat:

  1. Memahami, menghayati, dan mengelola emosi  (kesadaran diri)
  2. Menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri)
  3. Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial)
  4. Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi)
  5. Membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)

Lima kompetensi sosial emosional menjadi sebuah dasar seorang guru agar dapat menguasai tiga kompetensi coaching yang ada. Sehingga pembelajaran sosial emosional sangat penting dan perlu ditempuh seorang guru untuk meningkatkan kompetensi sosial emosionalnya sebelum belajar mengenai coaching.

Selain itu, dalam pembelajaran sosial emosional, seorang guru akan memperoleh pengalaman mengenai mengelola diri yang baik hingga mampu mengambil keputusan. Salah satu teknik untuk mengembalikan kesadaran penuh atau (mindfulness) dapat dilakukan dengan teknik S-T-O-P yang dapat diterapkan kepada coachee sebelum melakukan kegiatan coaching. Dengan demikian coaching akan terjadi baik dan memampukan coachee dalam menemukan solusi masalah yang dialami.

Apa Relevansi Keterampilan Coaching dengan Pengembangan Kompetensi Sebagai Pemimpin Pembelajaran?

Pemimpin pembelajaran yang baik, yaitu seorang pemimpin yang memiliki prinsip dan mampu menerapkan paradigma coaching untuk supervisi akademik. Paradigma coacing dan prinsip coaching untuk supervisi akademik sangat perlu dimiliki oleh seorang pemimipin pembelajaran untuk dapat melakukan evaluasi dan refleksi pembelajaran sebagai bahan perbaikan kedepan. Selain itu, kemampuan coaching seorang pemimpin pembelajaran harus selalu ditingkatkan dan diasah guna supervisi akademik yang dilakukan.

Pelaksanaan supervisi akademik dengan teknik coaching akan lebih efektif dibandingkan dengan teknik lain. Karena dalam coaching seorang coachee mampu menemukan potensi positif dalam diri maupun potensi lain disekeliling sebagai solusi atas masalah yang dihadapi. Suatu hal yang muncul atas inisitif atau hasil pemikiran reflektif seseorang biasanya lebih bertahan lama atau berjangka panjang dan memberikan kesan makna yang mendalam ketika berhasil diterapkan.

Bagaimanapun, inisiatif perubahan yang jelas dan mudah dipahami dari seorang pemimpin, dan pemimpin pembelajaran dengan visi yang jauh ke depan, serta dukungan dari seluruh stake holder menentukan keberhasilan  seorang coach terhadap pelaksanaan supervisi melalui proses coaching. Bagaimana pendapat Anda?

Sumber:

Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik, Kemendikbudristek, Jakarta, 2022

https://sman1singgahan.sch.id/keterkaitan-coaching-untuk-supervisi-akademik-pembelajaran-berdiferensiasi-pembelajaran-sosial-emosional-peran-pemimpin-pendidikan/

https://www.kompasiana.com/aisyahamini2279/6342f4cc08a8b53885090ed2/coaching-untuk-supervisi-akademik-sebuah-refleksi

 

 

Jumat, 27 Januari 2023

PERAN GURU PENGGERAK DAN KEPEMIMPINAN MENUJU TRANSFORMASI PENDIDIKAN, BAGAIMANA?

 

PERAN GURU PENGGERAK DAN KEPEMIMPINAN MENUJU TRANSFORMASI PENDIDIKAN, BAGAIMANA?

 

Oleh:
Teguh Basuki

(Calon Pengajar Praktek  Angkatan 8 Gelombang 1 Kelas 27B Tahun 2023)


 


Profesionalisme dunia pendidikan menjadi salah satu faktor signifikan terhadap masa depan bangsa Indonesia. Untuk itu, kapasitas dan kapabilitas guru atau pendidik harus selaras dengan pesatnya perkembangan zaman. Kunci utama transformasi sistem pendidikan di Indonesia adalah kemauan pendidik untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Dalam hal ini, dibutuhkan kepemimpinan sekolah yang kuat dan memiliki visi yang jauh ke depan.

Kepemimpinan sekolah adalah hal yang sangat penting dalam transformasi pendidikan kita. Di Merdeka Belajar, pemimpin pendidikan baik itu kepala sekolah, aparat pemimpin pendidikan yang ada di sekolah, pengawas sekolah, kepala dinas, ini harus diorientasikan memiliki pemahaman yang baik tentang bagaimana murid itu belajarnya. Bagaimana mengajar yang berorientasi kepada murid dan menjadi teladan bagi guru-guru adalah dengan melakukan pengajaran yang berbasis kepada murid. Dalam hal ini,  pemimpin pendidikan bisa menjadi coach atau mentor mengembangkan guru-guru yang lain supaya bisa lebih baik lagi. Ini adalah kunci dari bagaimana kita bisa melakukan transformasi pendidikan kita.

Inilah pentingnya para pemimpin pendidikan memiliki budaya inovasi. Karena pemimpin-pemimpin yang baik, pemimpin-pemimpin yang mengerti bagaimana murid belajar dan menjadi teladan. Ini akan sangat besar pengaruhnya. Yang sering mungkin kita lakukan sebelum ini, mungkin lebih kepada guru, dan guru itu juga sangat penting, luar biasa penting, tapi ketika guru-guru sudah dilatih, kembali ke sekolah, kepala sekolahnya yang tidak mengerti, pengawasnya tidak mengerti, lalu kemudian ketika gurunya mengajar aktif, itu dianggap aneh atau tidak didukung. Pembelajaran ini. Dampaknya, kelasnya jadi ributlah, kelasnya jadi berantakanlah, sehingga kemudian guru tersebut malah yang tadinya sudah dilatih dengan baik, karena pemimpin sekolahnya kurang mengerti, dia jadi tidak jadi untuk melakukan inovasi. Sebaliknya, kalau pemimpinnya mengerti inovasi, juga pemimpinnya bisa mendorong, maka ia bisa mempengaruhi. Dalam budaya Indonesia, masyarakat Indonesia, peran pemimpin sangat penting. Mari kita sama-sama menguatkan konteks kepemimpinan pendidikan di sekolah-sekolah kita.

Transformasi pendidikan menuntut komitmen dan kerja kolektif-kolaboratif semua pihak. Selain itu juga perlu lahirnya prakarsa perubahan yang menjadi embrio penting transformasi pendidikan. Dalam filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara terdapat sejumlah prinsip-prinsip penyelenggaran pendidikan yang fundamental. Pendidikan dimaknai sebagai ladang persemaian benih-benih kebudayaan. Maka pendidikan yang baik akan melahirkan budaya bangsa yang unggul dan mampu mengikuti perkembangan zaman.

Sudah sejak lama dunia pendidikan Indonesia dianggap masih tertinggal dan tidak semaju negara lainnya. Berbagai upaya dan strategi perbaikan terus dilakukan oleh pemerintah kita tanpa mengenal kata menyerah. Saat ini melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah diluncurkan upaya perbaikan kualitas pendidikan berbasis Visi Merdeka Belajar. Implementasi visi Merdeka Belajar tertumpu pada revitalisasi dan reaktualisasi pemikiran filosofi pendidikan yang berasal dari tokoh pendidikan nasional kita yang bernama Ki Hajar Dewantara.

                Dalam filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara terdapat sejumlah prinsip-prinsip penyelenggaran pendidikan yang sangat fundamental. Pendidikan dimaknai sebagai ladang persemaian benih-benih kebudayaan. Oleh karenanya pendidikan yang baik akan melahirkan budaya bangsa yang unggul dan mampu mengikuti perkembangan zaman yang ada.  Pendidikan merupakan proses tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Didalamnya ada proses menuntun segala kodrat anak untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan (wellbeing student) baik selaku manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Selanjutnya pendidikan tidak mungkin dapat dilepaskan dari kodrat keadaan yang terdiri dari kodrat alam dan kodrat zaman. Hal yang tak kalah pentingnya lagi adalah soal pendidikan yang harus berorientasi pada kepentingan anak atau dengan istilah lain pendidikan harus menghamba (mengabdi) pada kepentingan anak sebagai peserta didik.

                Guna mewujudkan transformasi pendidikan dengan visi Merdeka Belajar itu, maka diperlukan komitmen dan kerja kolektif-kolaboratif (gotong royong) dari semua pihak. Semua pihak tersebut harus mampu tergerak, bergerak dan menggerakkan semua kalangan yang ada disekitarnya. Selain soal komitmen dan kerja kolektif-kolaboratif semua pihak tadi, juga perlu lahirnya prakarsa perubahan. Prakarsa perubahan ini akan menjadi embrio penting terjadinya transformasi pendidikan. Sebuah prakarsa perubahan memerlukan tiga elemen penting yang terkait satu sama lain. Ketiga elemen penting prakarsa perubahan itu terdiri atas adanya inisiatif perubahan, adanya pemimpin dan pengikut.

                Elemen pertama ialah inisiatif perubahan. Elemen ini adalah integrasi antara ide dan implementasi dalam praktik baik (best practice) pendidikan. Sebuah inisiatif prakarsa perubahan yang baik akan menghadirkan tiga pengaruh yang sangat penting yaitu akan berpihak kepada murid, berdampak terhadap murid dan dapat ditiru atau direflikasi. Berpihak kepada murid maksudnya adalah prakarsa perubahan melalui praktik baik yang dilakukan itu benar-benar sesuai dengan kebutuhan murid yang didasarkan pada empati kepada murid (bukan untuk kepentingan kurikulum atau kepentingan lainnya). Sementara itu yang dimaksud berdampak terhadap murid adalah ada bukti nyata perubahan positif yang dirasakan/didapatkan oleh murid atas praktik baik yang dilaksanakan. Sedangkan yang dimaksud dapat ditiru atau direflikasi maksudnya adalah bahwa praktik baik sebagai aksi nyata dari inisatif perubahan yang dilakukan tersebut dapat menyebar dan dapat dirasakan oleh lebih banyak siswa dimanapun mereka berada.

                Elemen prakarsa perubahan yang kedua adalah pemimpin. Dalam hal ini siapa yang memiliki kapasitas untuk memimpin transformasi pendidikan ini? Maka jawabannya adalah para guru penggerak. Hal ini sesuai dengan peran guru penggerak. Apa sajakah peran guru penggerak itu? Ada lima peran guru penggerak. Kelima peran tersebut adalah 1). Menjadi pemimpin pembelajaran, 2). Menjadi coach bagi guru lain, 3). Mendorong kolaborasi, 4). Mewujudkan kepemimpinan murid (student agency), 5). Menggerakan komunitas praktisi.

Seorang guru penggerak adalah pemimpin perubahan, memiliki ide, inisiatif atau prakarsa perubahan selain karena memiliki peran yang strategis dalam hal tersebut, para guru penggerak ini pun telah dibekali oleh sejumlah nilai yang sudah terinternalisasi dalam memimpin prakarsa perubahan. Ada 5 (lima) nilai yang sudah terinternalisasi dalam diri guru penggerak yaitu berpihak kepada murid, reflektif, mandiri, kolaboratif dan inovatif. Penjelasnnya adalah sebagai berikut Nilai guru penggerak yang pertama adalah berpihak pada murid. Ini tentu saja menjadi fokus dan perubahan paradigm yang paling mendasar.

Dalam proses dan produk pendidikan semua diorientasikan pada kepentingan murid dengan istilah lain menghamba pada murid. Nilai kedua ada reflektif menggambarkan daya saing, efikasi dan model mental. Dalam nilai reflektif menunjukan kualitas kinerja dan hasil yang bergeser dari dorongan yang bersifat eksternal menuju dorongan internal. Nilai ketiga adalah mandiri menggambarkan daya lenting, keahlian dan penguasaan diri. Dalam nilai kemandirian menunjukan kualitas kinerja dan hasil yang bergeser dari ketidakjelasan-kekaburan menuju kejelasan-keelokan.

Selanjutnya, nilai yang keempat adalah kolaboratif. Nilai kolaboratif menggambarkan daya sanding yaitu kesalingketergantungan dan pembelajaran tim. Dalam nilai kolabortif menunjukan usaha-upaya bergeser dari laku terisolasi menuju laku yang saling terhubung. Nilai guru penggerak yang kelima adalah inovatif. Nilai inovatif menggambarkan daya lentur, fleksibiltas dan visi bersama. Dalam nilai inovatif ini menunjukan perspektif yang bergeser dari egosentris sempit menuju alternative-luas.

Elemen prakarsa perubahan yang ketiga adalah pengikut. Siapa pengikut yang dimaksud? Mereka adalah semua pihak yang mampu dipengaruhi dan diberdayakan untuk mendukung upaya transformasi pendidikan baik dalam sekala mikro maupun makro. Dalam hal ini fokus sasaran pengikut adalah mereka yang tergabung dalam komunitas praktisi. Siapa komunitas praktisi tersebut? Komunitas ini adalah sekelompok individu yang memiliki semangat dan kegelisahan yang sama tentang praktik yang mereka lakukan dan ingin melakukannya dengan lebih baik dengan berinteraksi secara rutin. Jadi dapat dikatakan komunitas praktisi ini adalah kalangan guru baik dalam satu sekolah maupun di luar sekolah yang memiliki motivasi dan kegelisahan yang sama dalam menggagas dan melaksanakan praktik baik (best practice) pembelajaran agar jauh lebih baik lagi dan memberikan dampak baik yang signifikan bagi murid. Komunitas praktisi inilah salah satunya yang akan memegang peranan penting dalam keberhasilan implementasi prakarsa perubahan menuju transformasi pendidikan yang didambakan semua kalangan. Bagaimanakah pendapat Anda?

 

SUMBER:

Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak Program Guru Penggerak, Kemendikbudristek, Jakarta, 2022

Modul Rencana Moderasi Program Guru Penggerak Lokakarya 1 Pengembangan Komunitas Praktisi, Kemendikbudristek, Jakarta, 2022

https://www.republika.co.id/berita/rek33v428/menurut-nadiem-ini-kunci-utama-transformasi-pendidikan

https://gtk.kemdikbud.go.id/read-news/pentingnya-kepemimpinan-sekolah-dalam-transformasi-pendidikan-indonesia

https://www.indonesiana.id/read/154121/prakarsa-perubahan-dalam-transformasi-pendidikan-indonesia

Selasa, 24 Januari 2023

Pendidikan yang Memerdekakan: Upaya membangun lingkungan belajar yang berpihak pada murid dan memunculkan karakter dari profil Pelajar Pancasila

 

Pendidikan  yang Memerdekakan:

Upaya membangun lingkungan belajar yang berpihak pada murid dan memunculkan karakter dari profil Pelajar Pancasila

 

Oleh:

Teguh Basuki

(CPP Gelombang 1 Angkatan 8 Kelas 27 Tahun 2023)

 

Perbedaan Pendidikan Dan Pengajaran, Apa? 

Ki Hadjar Dewantara (KHD) menyatakan pengajaran merupakan bagian dari proses pendidikan dalam rangka memberi ilmu yang berfaedah untuk kecakapan hidup anak baik secara lahir maupun batin. Sedangkan Pendidikan adalah memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 

Jadi menurut KHD (1961), pendidikan dan pengajaran merupakan usaha untuk menyiapkan dan menyediakan  segala kepentingan hidup manusia, baik kepentingan hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya.

Dalam hal ini, upaya penyelenggaraan pendidikan perlu diarahkan menuju lingkungan belajar yang berpihak pada murid. Mengapa? Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab, maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. 

Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan. Di sinilah pentingnya peran pendidik untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpihak pada murid. Pendidik seyogyanya memiliki kesiapan dan kemampuan untuk menuntun murid dengan tetap bertumpu pada kodrat anak, baik kodrat alam maupun kodrat jaman. Dengan demikian, dibutuhkan lingkungan belajar yang bertumpu pada kebutuhan dan kepentingan murid serta dan masa depannya.

Di ranah pembelajaran, diperlukan kesiapan guru untuk memberikan kemerdekaan dalam memilih, konten, model, media, dan tagihan pembelajaran. Implikasinya, guru perlu merancang pembelajaran yang bertumpu pada kebutuhan dan kepentingan siswa. Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka, model pembelajaran tersebut, yaitu pembelajaran berdiferensiasi, yaitu pembelajaran yang mengakomodir keragaman dan keunikan kondisi (kodrat siswa) beserta lingkungan budaya dan masyarakatnya.

 

Menuntun Anak Didik, Bagaimana?

Cara menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD  mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik, namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh, namun ia tidak akan optimal. Dalam hal proses “menuntun” ini, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka, namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, “ waspadalah, carilah barang-barang yang bermanfaat untuk kita, yang dapat menambah kekayaan kita dalam hal kultur lahir atau batin. Jangan hanya meniru. Hendaknya barang baru tersebut dilaraskan lebih dahulu”. KHD menggunakan ‘barang-barang’ sebagai simbol dari tersedianya hal-hal yang dapat kita tiru, namun selalu menjadi pertimbangan bahwa Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.

 KHD mengusung system among, yaitu ing ngarso sung tulodho (memberi contoh), ing madya mangun karso (memberi semangat), tut wuri handayani (mendorong perubahan). Sistem among ini perlu diterapkan guru untuk menuntun siswa dalam rangka memerdekaan siswa secara lahir maupun bathin sesuai kultur budaya masyarakat. Maksudnya, bahwa pendidikan memberi tuntunan (menuntun) terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 

Dalam hal ini, siswa harus dimerdekakan melalui pendidikan baik secara lahir maupun bathin. Dengan demikian, pendidikan haruslah berpihak pada kepentingan anak, baik kepentingan untuk tumbuh kembang anak secara lahir, maupun tumbuh kembang anak secara bathin.

Metode atau system among sangatlah cocok untuk memerdekan siswa sehingga siswa memiliki kemerdekaan dan merasa bahagia. Metode among siswa menggunakan latihan dan permainan dalam pembelajaran pancaindra untuk anak-anak sangatlah mencolok. Hal ini karena pelajaran pancaindra dan permainan kanak-kanak tidak bisa dipisahkan. Dalam kayakinan Ki Hadjar, Taman Siswa memiliki kepercayaan bahwa segala tingkah laku dan keadaan anak-anak sudah diisi Sang Maha-among segala alat-alat yang bersifat mendidik anak. Itulah sebabnya dalam praktik pengajarannya Ki Hadjar memasukan unsur-unsur kebudayaan dalam permainan anak-anak.

 

Belajar Sambil Bermain, Bagaimana?

Bagaimana pendapat para tokoh pemikir pendidikan dalam sejarah? Montessori lebih mementingkan pelajaran panca indera, namun permainan anak tidaklah dipentingkan. Sebaliknya, Frobel, bagaimana? Ia memberi pelajaran panca-indera pula, namun ia lebih mengutamakan permainan anak. Namun, demikian, anak masih diperintah dimana guru bertindak lebih superior. Taman Siswa  yang didirikan KHD mengawinkan keduanya, yaitu sistem Montessori maupun Frobel, dimana pelajaran panca indera dan permainan anak itu tidak terpisah. 

KHD percaya, permainan tradisional memiliki manfaat melatih tabiat tertib dan teratur. Selain itu, permainan anak-anak memiliki kedudukan sangat penting di negara RI, karena sebagian besar permainan anak disertai nyanyian dan hal itu membuktikan adanya musikalitas pada anak-anak. oleh karena itu, bentuk permainan di TK, misalnya dapat berupa permainan dengan nyanyian dan atau dengan lagu dan gerak berirama. 

Dari alam menuju budaya Belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar selalu mengandung nilai-nilai pendidikan, baik sisi fisik maupun psikologis. Dalam permainan selalu ada ruang untuk pancaindra anak berkembang secara teratur berdasarkan prinsip tumbuh kembang anak secara alami. Selain itu, dalam permainan juga selalu sesuai kodrat anak-anak yang selaras dengan alam sekitar sehingga spontanitas anak juga tumbuh alami. 

KHD juga berpendapat, kesenian untuk anak-anak dapat dilakukan melalui permainan, khususnya latihan kesenian suara, tari, dan sandiwara. Semuanya itu dasar pendidikan budi pekerti, sebagaimana Ki Hadjar mengemukakan, "Permainan kanak-kanak adalah kesenian kanak-kanak yang sungguh pun amat sederhana bentuk dan isinya namun memenuhi syarat-syarat etis dan estetis, dengan semboyan: dari natur ke arah kultur".

 Jika budaya sekolah berkembang sesuai prinsip yang searah alam sekitar sebagai akibat efek proses belajar dengan bermain, bisa dikatakan, sekolah itu sesungguhnya sedang menyemai budi pekerti yang halus dan tertib pada diri seorang anak. Jika kebijakan bermain bisa diterapkan para guru di sekolah, tanpa ada sedikit pun keraguan menjalankannya apalagi ketakukan karena ujian nasional dsb, sesungguhnya kita sedang menyemai kreativitas anak tanpa batas untuk tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang berbudi pekerti luhur dan berkarakter kuat.

Bermain adalah salah satu cara membentuk kepribadian dan kecerdasan anak. Dalam melakukan aktivitas bermain, anak tidak menyadari kalau dirinya juga belajar. Mereka bermain dengan perasaan senang, lucu, spontan, dan tidak ada unsur paksaan. Anak yang selalu gembira akan memiliki pertumbuhan badan dan perkembangan jiwa yang baik. Karena itulah penting terus menyadarkan para guru agar selalu melakukan aktivitas bermain kedalam skema belajar-mengajar sehari-hari.

 Sebagaimana diyakini KHD, jika aktivitas belajar dilakukan sambil bermain, bentuk permainan haruslah dipahami landasan filosofinya agar pada saat yang sama anak juga dapat belajar tentang konteks budaya dan tradisi yang melingkupi aktivitas bermain tersebut. Selain itu, bermain juga diyakini sebagai bentuk metode belajar sangat efektif, bahkan untuk orang dewasa sekalipun. Sering kita jumpai dalam sebuah pelatihan, jika orang dewasa kita ajak bermain, mereka tak ada bedanya dengan anak kecil ketika bermain, yaitu tertawa, bergerak, dan lain sebagainya. Hal ini relevan dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)

Pada dasarnya konsep pembelajaran Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang dikembvangkan dewasa ini mengembalikan kembali filosofi KHD mengenai pendidikan, yaitu pendidikan yang memanusiakan dan memerdekakan.

 Pendidikan yang memanusiakan dan memerdekaan adalah konsep pendidikan yang mengantarkan anak didik pada pertumbuhan dan perkembangan dalam menemukan, mengembangkan, serta menjadikan anak didik sebagai manusia yang utuh dan penuh atas dirinya. Dengan demikian, pendidikan haruslah menghamba kepada anak didik kita. Pendidikan yang menghamba pada anak  menekankan pada minat, kebutuhan dan kemampuan individu, menghadirkan model dan metode belajar yang menggali motivasi untuk membangun habit anak menjadi pembelajar sejati, selalu ingin tahu terhadap informasi dan pengetahuan, suka dan senang membaca. Pembelajaran yang seperti ini sekaligus dapat mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan di era mendatang seperti kreativitas, inovatif, kepemimpinan, rasa percaya diri, kemandirian, kedisiplinan, kekritisan dalam berpikir, daya nalar yang tinggi, kemampuan berkomunikasi dan bekerja dalam tim, serta wawasan global untuk dapat selalu beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan. Dalam hal ini, pendidikan budi pekerti tak bisa terabaikan.

Peran Keluarga dalam Pendidikan Budi Pekerti, Apa?

Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Lebih lanjut KHD menjelaskan, keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. 

Keluarga merupakan tempat bersemainya pendidikan yang sempurna bagi anak untuk melatih kecerdasan budi-pekerti (pembentukan watak individual). Keluarga juga merupakan sebuah ekosistem kecil untuk mempersiapkan hidup anak dalam bermasyarakat dibanding dengan institusi pendidikan lainnya. Alam keluarga menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan teladan, tuntunan, pengajaran dari orang tua. Keluarga juga dapat menjadi tempat untuk berinteraksi sosial antara kakak dan adik sehingga kemandirian dapat tercipta karena anak-anak saling belajar antara satu dengan yang lain dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, peran orang tua sebagai guru, penuntun, dan pemberi teladan menjadi sangat penting dalam pertumbuhan karakter baik anak.

Salah satu dasar pemikiran KHD tentang pendidikan adalah anak bukan Tabularasa. Pada dasar pemikiran ini, KHD mengibaratkan “Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa”. Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar. Anak bukan kertas kosong, melainkan benih kehidupan yang utuh. Saya menafsirkan kodrat anak menurut Ki Hajar Dewantara sebagai kecerdasan majemuk anak. Selain karena suka dengan kecerdasan majemuk, saya melihat benang merah antara kodrat dengan kecerdasan majemuk. 

Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa anak telah dianugerahi kemampuan belajar sejak lahir. Selaras dengan pengertian kecerdasan majemuk sebagai kemampuan yang dibawa sejak lahir dalam mengolah informasi, untuk menyelesaikan persoalan dan menciptakan karya.

 

Kesimpulan  

       Kaitan filosofi dan prinsip pendidikan yang memerdekakan dengan tujuan pendidikan untuk membentuk profil Pelajar Pancasila, bagaimana? Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. 

Dengan demikian, pendidikan yang kita berikan harus sesuai dengan tuntunan alam dan zamannya. Saat ini setiap anak harus memiliki keterampilan abad 21 yang meliputi creativity thinking, critical thinking, comunication dan collaboration. Siswa harus kreatif, mampu berpikir kritis, mampu berkomunikasi dengan baik, dan mampu berkolaborasi dengan baik. Oleh karena itu, pemikiran besar yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu semboyan Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani perlu dimplementasikan guru melalui layanan pendidikan yang memerdekan siswa melalui penciptaan lingkungan belajar yang berpusat pada kepentingan murid, murid, dan murid. Bagaimana pendapat Anda?

 

Sumber Referensi:

Dewantara, Ki Hajar (1961), Pemikiran, Konsepsi, Keteladan, Sikap Merdeka. Penerbit: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, Yogyakarta

Kusuma, Oscarina Dewi dan Siti Luthfah (2022), Praktek Pembelajaran Yang Berpihak Pada Murid, Modul 2.1., KemdikbudRistek, Jakarta

Nurcahyani, Andri Dkk. (2022), Budaya Positif, Modul 1.4, KemdikbudRistek, Jakarta

Petrus Rafael, Simon (2022), Refleksi Fil osofis Pendidikan Nasional - Ki Hadjar Dewantara, Modul 1.1., KemdikbudRistek, Jakarta

http://bukik.com/ajaran-ki-hajar-dewantara/

https://sekolahmenyenangkan.or.id/pendidikan-yang-berhamba-pada-anak/

https://mediaindonesia.com/opini/123897/bermain-sebagai-pengalaman-belajar-autentik

https://www.imrantululi.net/berita/detail/refleksi-filosofis-pendidikan-nasional-ki-hadjar-dewantara