Senin, 18 Juli 2022

Menyusun Modul Projek P-4, Bagaimana?

Penyusunan modul projek P-4, untuk apa? 

Modul projek penguatan profil pelajar Pancasila merupakan dokumen yang berisi tujuan, langkah, media pembelajaran, dan asesmen yang dibutuhkan untuk melaksanakan projek penguatan profil pelajar Pancasila.

Pendidik memiliki keleluasaan untuk membuat sendiri, memilih, dan memodifikasi modul projek profil yang tersedia sesuai dengan konteks, karakteristik, serta kebutuhan peserta didik.

Pemerintah menyediakan contoh-contoh modul projek penguatan profil pelajar Pancasila yang dapat dijadikan inspirasi untuk satuan pendidikan.

Satuan pendidikan dan pendidik dapat mengembangkan modul projek profil sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik, memodifikasi, dan/atau menggunakan modul projek profil yang disediakan Pemerintah sesuai dengan karakteristik daerah, satuan pendidik, dan peserta didik.

Oleh karena itu, pendidik yang menggunakan modul projek profil yang disediakan Pemerintah tidak perlu lagi menyusun modul projek profil.

Tujuannya adalah guna menyusun dokumen yang mendeskripsikan perencanaan kegiatan projek sebagai panduan bagi pendidik dalam
melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tujuan penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam tema tertentu.

Komponen Modul Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, apa saja? 

Modul projek profil dilengkapi dengan komponen yang menjadi dasar dalam proses penyusunannya serta dibutuhkan untuk kelengkapan pelaksanaan pembelajaran. Modul projek profil pada dasarnya memiliki komponen sebagai berikut:

  • Informasi umum, terdiri atas identitas penulis modul, sarana dan prasarana, target peserta didik, serta relevansi tema dan topik projek untuk satuan pendidikan.
  • Komponen inti, terdiri atas deskripsi singkat projek, dimensi dan subelemen dari Profil Pelajar Pancasila yang berkaitan, tujuan spesifik untuk fase tersebut, alur kegiatan projek secara umum, asesmen, pertanyaan pemantik, pengayaan dan remedial, serta refleksi peserta didik dan pendidik.
  • Lampiran, Terdiri atas lembar kerja peserta didik, bahan bacaan pendidik dan peserta didik, glosarium, dan daftar pustaka.

Tim fasilitator memiliki kebebasan untuk mengembangkan komponen dalam modul projek profil pelajar Pancasila, untuk menyesuaikan dengan kondisi sekolah dan kebutuhan peserta didik.

Modul dapat diperkaya dengan menambahkan komponen berikut:

Bagaimanakah Tahapan Pengembangan Modul Projek Profil Pelajar Pancasila? 

Satuan pendidikan dapat menentukan pilihan pengembangan modul projek profil sesuai dengan tingkat kesiapannya (sesuai kondisi dan kebutuhan) sebagai berikut:

1. Tahap Awal

Menggunakan modul projek profil yang sudah tersedia: Melakukan adaptasi modul dengan kondisi sekolah.

2. Tahap Berkembang

Menggunakan modul projek profil yang sudah tersedia: Melakukan modifikasi di beberapa bagian modul, baik dari topik, tujuan, aktivitas, maupun asesmennya sehingga lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik.

3. Tahap Lanjutan

Merancang modul projek profil secara mandiri: Melakukan penyusunan modul projek profil dari tahap pemilihan tema dan tujuan hingga pengembangan aktivitas dan asesmen secara mandiri.

Bagaimanakah Langkah Persiapan Modul Projek Profil Pelajar Pancasila? 

Adapun langkah persiapan modul projek profil pelajar Pancasila adalah sebagai berikut:

  1. Mengidentikasi dan memetakan kondisi serta kebutuhan peserta didik.
  2. Menentukan perancangan modul berdasarkan tahap kesiapan satuan pendidikan.
  3. Mengadaptasi/ memodikasi modul yang sudah tersedia atau bisa juga merancang modul secara mandiri
  4. Mengidentikasi, memodikasi, dan menyelaraskan modul.
  5. Menyusun tujuan, merancang asesmen, dan mengembangkan aktivitas.

Modul projek profil pelajar Pancasila bersifat fleksibel. Pendidik memiliki kemerdekaan untuk membuat sendiri, memilih, dan memodifikasi modul projek yang tersedia sesuai dengan konteks, karakteristik, serta kebutuhan peserta didiknya.

Pemerintah menyediakan beragam contoh modul projek dari berbagai fase dan tema yang berbeda untuk membantu pendidik yang membutuhkan referensi atau inspirasi dalam pengelolaan projek.


Sumber: naik pangkat. Com

Menyusun Modul Ajar, Bagaimana?

Apa sajakah komponen modul ajar? 

Komponen modul ajar terbagi menjadi tiga bagian, yaitu memuat Informasi umum; (2) Komponen Inti; dan (3) Lampiran.

A. Informasi Umum

1. Identitas Sekolah

Informasi tentang modul ajar yang dikembangkan terdiri dari:

  • Nama penyusun, institusi, dan tahun disusunnya Modul Ajar;
  • Jenjang sekolah (SD/SMP/SMA);
  • Kelas; dan
  • Alokasi waktu (penentuan alokasi waktu yang digunakan adalah alokasi waktu sesuai dengan jam pelajaran yang berlaku di unit kerja masing-masing).

2. Kompetensi Awal

Kompetensi awal adalah pengetahuan dan/atau keterampilan yang perlu dimiliki siswa sebelum mempelajari topik tertentu. Kompetensi awal merupakan ukuran seberapa dalam modul ajar dirancang.

3. Profil Pelajar Pancasila

Merupakan tujuan akhir dari suatu kegiatan pembelajaran yang berkaitan erat dengan pembentukan karakter peserta didik. Profil Pelajar Pancasila (PPP) dapat tercermin dalam konten dan/atau metode pembelajaran.


Di dalam modul pembelajaran, Profil Pelajar Pancasila tidak perlu mencantumkan seluruhnya, namun dapat memilih Profil Pelajar Pancasila yang sesuai dengan kegiatan pembelajaran dalam modul ajar.

Enam dimensi Profil Pelajar Pancasila saling berkaitan dan terintegrasi dalam seluruh mata pelajaran melalui (terlihat dengan jelas di dalam):

  • materi/isi pelajaran,
  • pedagogi, dan/atau
  • kegiatan projek atau
  • asesmen

Setiap modul ajar memuat satu atau beberapa unsur dimensi Profil Pelajar Pancasila yang telah ditetapkan.

4. Sarana dan Prasarana

Merupakan fasilitas dan bahan yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Sarana merujuk pada alat dan bahan yang digunakan, sementara prasarana di dalamnya termasuk materi dan sumber bahan ajar lain yang relevan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Ketersediaan materi disarankan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik baik dengan keterbatasan atau kelebihan.

Teknologi, termasuk sarana dan prasarana yang penting untuk diperhatikan, dan juga dimanfaatkan agar pembelajaran lebih dalam dan bermakna.


Peserta didik yang menjadi target, yaitu sebagai berikut.

  1. Peserta didik reguler/tipikal: umum, tidak ada kesulitan dalam mencerna dan memahami materi ajar.
  2. Peserta didik dengan kesulitan belajar: memiliki gaya belajar yang terbatas hanya satu gaya, misalnya dengan audio. Memiliki kesulitan dengan bahasa dan pemahaman materi ajar, kurang percaya diri, dan kesulitan berkonsentrasi jangka panjang.
  3. Peserta didik dengan pencapaian tinggi: mencerna dan memahami dengan cepat, mampu mencapai keterampilan berfikir aras tinggi (HOTS), dan memiliki keterampilan memimpin.
  4. Model Pembelajaran yang digunakan

Merupakan model atau kerangka pembelajaran yang memberikan gambaran sistematis pelaksanaan pembelajaran.

Model pembelajaran dapat berupa model pembelajaran tatap muka, pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (PJJ Daring), pembelajaran jarak jauh luar jaringan (PJJ Luring), dan blended learning.

B. Komponen Inti

  1. Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran harus mencerminkan hal-hal penting dari pembelajaran dan harus bisa diuji dengan berbagai bentuk asesmen sebagai bentuk dari unjuk pemahaman.

Tujuan pembelajaran menentukan kegiatan belajar, sumber daya yang digunakan, kesesuaian dengan keberagaman murid, dan metode asesmen yang digunakan.


Tujuan pembelajaran bisa dari berbagai bentuk: pengetahuan yang berupa fakta dan informasi, dan juga prosedural, pemahaman konseptual, pemikiran dan penalaran keterampilan, dan kolaboratif dan strategi komunikasi.

  1. Pemahaman Bermakna

Pemahaman bermakna adalah informasi tentang manfaat yang akan peserta didik peroleh setelah mengikuti proses pembelajaran. Manfaat tersebut nantinya dapat peserta didik terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh kalimat pemahaman bermakna:

  • Manusia berorganisasi untuk memecahkan masalah dan mencapai suatu tujuan.
  • Makhluk hidup beradaptasi dengan perubahan habitat.

3. Pertanyaan Pemantik

Pertanyaan pemantik dibuat oleh guru untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis dalam diri peserta didik.

Pertanyaan pemantik memandu siswa untuk memperoleh pemahaman bermakna sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Contohnya pada pembelajaran menulis cerpen, guru dapat mendorong pertanyaan pemantik sebagai berikut.

  • Apa yang membuat sebuah cerpen menarik untuk dibaca?
  • Jika kamu diminta untuk membuat akhir cerita yang berbeda, apa yang akan kamu usulkan?

4. Kegiatan Pembelajaran

Urutan kegiatan pembelajaran inti dalam bentuk langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang dituangkan secara konkret, disertakan opsi/pembelajaran alternatif dan langkah untuk menyesuaikan dengan kebutuhan belajar siswa.


Langkah kegiatan pembelajaran ditulis secara berurutan sesuai dengan durasi waktu yang direncanakan, meliputi tiga tahap, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup berbasis metode pembelajaran aktif.

5. Asesmen

Asesmen digunakan untuk mengukur capaian pembelajaran di akhir kegiatan. Kriteria pencapaian harus ditentukan dengan jelas sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

Jenis asesmen:

  • Asesmen sebelum pembelajaran (diagnostik)
  • Asesmen selama proses pembelajaran (formatif)
  • Asesmen pada akhir proses pembelajaran (sumatif).

Bentuk asesmen yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut.

  • Sikap (Profil Pelajar Pancasila) dapat berupa: observasi, penilaian diri, penilaian teman sebaya, dan anekdotal.
  • Performa (presentasi, drama, pameran hasil karya, dan jurnal)
  • Tertulis (tes objektif: essay, pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah).
  • Pengayaan dan Remidial

Pengayaan adalah kegiatan pembelajaran yang diberikan pada peserta didik dengan capaian tinggi agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal.


Remedial diberikan kepada peserta didik yang membutuhkan bimbingan untuk memahami materi atau pembelajaran mengulang.

Saat merancang kegiatan pengayaan, perlu diperhatikan mengenai diferensiasi contohnya lembar belajar/kegiatan yang berbeda dengan kelas.

C. Lampiran

  1. Lembar Kerja Peserta Didik

Lembar kerja siswa ini ditujukan untuk peserta didik (bukan guru) dan dapat diperbanyak sesuai kebutuhan untuk diberikan kepada peserta didik termasuk peserta didik nonreguler.

  1. Bahan Bacaan Guru dan Peserta Didik

Bahan bacaan guru dan peserta didik digunakan sebagai pemantik sebelum kegiatan dimulai atau untuk memperdalam pemahaman materi pada saat atau akhir kegiatan pembelajaran.


  1. Glosarium

Glosarium merupakan kumpulan istilah-istilah dalam suatu bidang secara alfabetikal yang dilengkapi dengan definisi dan artinya. Glosarium diperlukan untuk kata atau istilah yang memerlukan penjelasan lebih mendalam.

  1. Daftar Pustaka

Daftar pustaka adalah sumber-sumber referensi yang digunakan dalam pengembangan modul ajar. Referensi yang dimaksud adalah semua sumber belajar (buku siswa, buku referensi, majalah, koran, situs internet, lingkungan sekitar, dan narasumber)

Sumber: naik pangkat. Com

Minggu, 17 Juli 2022

Branding Sekolah Kita, Bagaimana?

Apa saja produk unggulan di sekolah kita? Layanan hafalan Juz Amma, hafidz Al Qur'an, Baca Kitab Kuning, MTQ, Pramuka, OSN, O2SN, FLS2N,  English Conversation Club, Boso Jowo Sedino, bathik tulis, TIK, atau yang lain? 

Saat ini sekolah-sekolah berlomba menghadirkan fasilitas unggul untuk menarik lebih banyak pendaftar. Branding sekolah mulai diperhatikan untuk meningkatkan awareness di masyarakat. 

Sekolah ibarat suatu merek dagang. Brandingnya harus  dibentuk sedemikian rupa supaya menarik minat orang tua untuk mendaftarkan anaknya atau menarik minat anak-anak untuk masuk sekolah tersebut.

Branding adalah suatu usaha untuk menciptakan sebuah merek dengan karakteristik image yang unik dan spesifik. 

Dalam branding, ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan yaitu: nama merek, visi-misi, logo, jargon, media sosial, dan website.

Pembentukan unsur-unsur tersebut akan menjadi bahan untuk marketing. 


Proses branding yang baik harus bisa menghasilkan suatu image tertentu di masyarakat. Brand image sekolah adalah hal yang dipahami oleh masyarakat tentang sekolah tersebut.

Dengan image yang sudah terbentuk, proses marketing akan menjadi lebih mudah.

beberapa strategi branding yang bisa diterapkan untuk sekolah.


1. Membuat Seragam Sekolah yang Keren

Seragam adalah hal yang paling pertama dilihat oleh orang-orang. Untuk menarik perhatian, sekolah bisa mendesain seragam khusus yang punya ciri khas kuat, entah itu desain atau warnanya. 

Unik bukan berarti norak. Desain seragam harus dibuat tampak keren agar anak-anak merasa bangga saat memakainya.

2. Membentuk Suatu Ciri Khas Positif

Supaya bisa bersaing dengan banyak sekolah lainnya, harus ada suatu ciri khas positif yang diunggulkan. Ciri khas yang bisa menjadi identitas membanggakan. 

Ciri khas tersebut bisa berupa metode pembelajaran khusus atau sejumlah prestasi diberbagai bidang. Mendorong prestasi ekstrakurikuler bisa menjadi salah satu cara membentuk suatu ciri khas positif.

Contoh ciri khas yang bisa diunggulkan sekolah misalnya sekolah dengan pendidikan berbasis teknologi, pendidikan agama, pendidikan sains unggulan, sekolah dengan metode pembelajaran yang inovatif, sekolah dengan prestasi olahraga seperti basket atau sepak bola, sekolah dengan karakter seni, sekolah yang mendukung seni tradisi, dll.

Sekolah bisa fokus menonjolkan beberapa ciri khas. Terlalu berat jika harus mengejar semua nilai. 

Sekolah yang memiliki ciri khas akan lebih mudah untuk dikenal dan diingat.


3. Mengejar Prestasi

Ada banyak digelar kompetisi antar sekolah. Kompetisi semacam ini adalah salah satu sarana yang cukup efektif untuk membangun citra dan ciri khas sekolah.

Pihak sekolah bisa mendalami potensi anak-anak didiknya. Tentukan satu hal yang cukup menonjol dan cukup kuat untuk dikompetisikan. 

Hal tersebut bisa bersifat akademik maupun non akademik.

Jika sekolah sudah memiliki prestasi di suatu bidang, tradisi tersebut sebisa mungkin harus dipertahankan. Pihak sekolah bisa mendekati anak-anak atau melakukan upaya rekrutmen pada anak-anak yang berpotensi di bidang tersebut. 

Pihak sekolah bisa menawarkan beasiswa prestasi untuk menarik minat siswa tersebut.

Contohnya jika sekolah sudah terkenal dengan prestasi tim basketnya, pihak sekolah bisa merekrut siswa yang berpotensi di olahraga basket dengan memberi beasiswa prestasi.

4. Dokumentasi dan Publikasi Menarik

Pengelola sekolah harus sadar pentingnya dokumentasi menarik dan publikasi berstrategi. Kedua hal ini saling mempengaruhi satu sama lain.

Dokumentasi visual harus diseleksi sedemikian rupa dengan standar yang baik. 

Hal-hal yang bisa menghadirkan cerita bisa didokumentasikan. Misalnya, prestasi sekolah, guru dengan metode pembelajaran inovatif, murid yang meraih prestasi tertentu, kegiatan sekolah yang menarik, infrastruktur sekolah yang lengkap, dll.

Dokumentasi yang baik akan menjadi materi promosi yang baik pula.

Dokumentasi visual sebaiknya diiringi dengan dokumentasi tulisan. Dokumentasi tulisan bisa dibuat berupa story telling yang menarik. Keduanya bisa saling melengkapi dan menghasilkan suatu dokumentasi yang memiliki value.

Selain foto, dokumentasi visual harus disertai dengan branding design. Pihak sekolah bisa merumuskan font, pemilihan warna, dan corak yang menunjukan identitas sekolah.

Dokumentasi tersebut harus dipublikasi supaya diketahui khalayak. Manfaatkan berbagai platform digital untuk publikasi. Strategi digital melalui internet harus dioptimalkan supaya informasi tersebar dengan efektif.

Pihak sekolah bisa melakukan pendekatan ke jaringan jurnalis. 

Setiap kali sekolah mendapatkan prestasi yang cukup prestisius, atau ada anggota sekolah (siswa atau guru) yang berhasil menciptakan suatu inovasi, pihak sekolah bisa menghubungi jurnalis untuk memuat kisah tersebut.

Publikasi di media bisa menghasilkan impact yang cukup besar. Brand image akan terbentuk lebih kokoh di benak masyarakat.

5.  Pemanfaatan Teknologi 

Website dan sosmed adalah elemen digital yang wajib ada sebagai tempat publikasi dan sumber informasi.

Pembuatan website tidak bisa sembarangan. Website harus memiliki User Interface yang menarik dan mudah dipahami. 

Website juga akan menjadi pusat informasi. Jadi semua informasi yang butuh diketahui oleh publik, harus tersaji dengan baik.

Sosmed juga harus dikelola dengan baik. Konten sosmed didesain semenarik mungkin dengan template tertentu. Template tersebut harus memenuhi unsur warna dan bentuk yang sesuai dengan branding.


6. Membuat Slogan

Tagline atau slogan terkesan sepele. Tapi dalam branding, hal tersebut sangatlah krusial. 

Membuat tagline atau slogan adalah salah satu cara meningkatkan brand awareness. Tagline atau slogan yang baik bisa masuk dan tertanam di alam bawah sadar orang-orang. 

Contoh tagline yang cukup efektif dan bisa kuat menempel di benak masyarakat adalah milik BSI. “Kuliah? BSI Aja!” adalah tagline yang sangat kuat dan berpengaruh besar pada awareness masyarakat akan keberadaan perguruan tinggi BSI.

Membuat slogan tidak bisa sembarangan. Slogan harus bisa menekankan komitmen institusi dan mencerminkan kepribadian institusi. Kata-kata dalam slogan harus bisa menghasilkan irama yang menarik dengan susunan kata yang singkat namun powerful.

7. Menciptakan Alumni yang Memiliki Value

Berhasil menciptakan alumni yang bernilai adalah cara membangun brand yang kuat untuk sekolah. Masyarakat lebih terpukau pada institusi pendidikan yang alumninya terkenal dengan berbagai kapasitas, prestasi dan pencapaiannya. 

Satu-satunya cara untuk bisa mencapai hal tersebut adalah dengan menghadirkan pendidikan berkualitas. Pihak sekolah harus bisa mendidik dengan baik sehingga peserta didiknya tumbuh menjadi orang-orang yang memiliki value.

Nah, pihak sekolah bisa mendevelop value apa yang akan dijadikan output. 

Contohnya, alumni yang dikenal ahli mencipta, alumni yang ahli berbahasa asing, alumni yang ahli di bidang teknologi, alumni yang ahli di bidang olahraga, alumni yang berakhlak dan memahami agama, dll.

Branding sekolah adalah hal penting untuk dilakukan di era sekarang ini. Persaingan antar sekolah sudah semakin ketat. Jika tidak bisa membentuk image yang menarik minat, sekolah akan kekurangan peserta didik.


Sumber: Pintek. id

Kamis, 14 Juli 2022

Setrategi Pembelajaran Berdiferensiasi, bagaimana?

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang menyediaan kebutuhan belajar siswa yang beragam. Guru tidak bisa memberikan perlakuan yang sama pada siswa. Guru harus bisa memfasilitasi sesuai kebutuhan siswa yang mempunyai ragam karakteristik berbeda-beda.

Ciri-ciri atau karakteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain, lingkungan belajar yang membuat siswa ingin belajar, kurikulum dengan tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan, guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar siswa, dan manajemen kelas efektif.


Perlu pemikiran yang matang dan bijak untuk mengambil tindakan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Hal ini tidak berarti dalam pembelajaran berdiferensiasi memberikan perlakuan dan tindakan berbeda tiap siswa, ataupun pembelajaran yang membedakan antara siswa yang pintar dengan yang kurang pintar.

Harusnya, penerapan pembelajaran berdiferensiasi dilakukan oleh guru dengan menggunakan beragam cara dalam proses pembelajaran . Supaya siswa dapat lebih mudah mengeksploitasi isi kurikulum sesuai tahapan kemampuan siswa.

Dalam pembelajaran berdiferensiasi, beragam kegiatan pembelajaran harus memiliki maksud ataupun tujuan dan masuk akal untuk dilakukan oleh siswa. Supaya siswa dapat mengerti dan memiliki informasi mengapa siswa harus melakukan kegiatan tersebut. Serta, guru bisa memberikan beragam pilihan di mana siswa dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pelajari.


Lalu, strategi-strategi apa yang dapat dilakukan guru dalam penerapan pembelajaran diferensiasi?

Perlu diperhatikan ada tiga strategi pembelajaran yang harus dipelajari.

1. Diferensiasi konten

Diferensiasi Konten merupakan materi atau informasi apa yang akan diajarkan kepada siswa. Konten dapat dibedakan sebagai tanggapan terhadap kesiapan, minat, dan profil belajar siswa maupun kombinasi dari ketiganya. Guru perlu menyediakan bahan dan alat atau materi dan media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan belajar siswa.

2. Diferensiasi proses

Proses menekankan pada bagaimana siswa dapat memahami atau memaknai apa yang telah dipelajari. Diferensiasi proses bisa dilakukan dengan cara menggunakan kegiatan berjenjang atau bertahap, meyediakan pertanyaan pemandu atau challenge yang perlu diselesaikan di sudut-sudut minat, membuat agenda individual untuk siswa (daftar tugas, memberikan waktu lama atau durasi yang siswa dapat ambil untuk menyelesaikan tugas), mengembangkan kegiatan yang beragam dan tidak monoton.

3. Diferensiasi produk

Diferensiasi produk merupakan menampilkan dan mendemonstrasikan hasil pekerjaan siswa kepada guru (tugas berupa project). Produk yang diberikan meliputi 2 hal yitu memberikan challenge dan keragaman atau variasi. Serta memberikan siswa pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan.


Sumber: Naik pangkat. Com

Selasa, 12 Juli 2022

8 Skill Guru Di Era Kurikulum Merdeka

Apa saja skill bagi seseorang dalam memancing ikan? Ia memerlukan skill, antara lain: 

1. Ketepatan memilih lokasi. Jadi, perihal yang kontekstual perlu menjadi pertimbangan. 

2. Ketepatan memilih umpan. Ya, inilah yang disebut materi esensial. 

3.Ketepatan penggunaan media. Di sinilah Sang Pemancing membutuhkan variasi gaya memancing. 

Di ranah pembelajaran dalam Kurikulum merdeka, apa saja skill yang dibutuhkan Sang Guru hingga berhasil memancing dan meningkatkan minat, motivasi, aktifitas, dan prestasi belajar siswa? 

Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka terdiri dari tiga hal, diantaranya :

  • Pembelajaran Berbasis Proyek/Studi Kasus
  • Fokus pada Materi Esensial
  • Fleksibilitas Pengajaran bagi guru


  •  Singkatnya, Kurikulum Merdeka cenderung mengimplementasikan fleksibilitas dalam mengajar, berfokus pada cara materi-materi yang esensial pada murid, dan menggunakan contoh sehari-hari agar membangkitkan daya pikir siswa.
Dengan begitu siswa dapat dengan progresif mengalami peningkatan pemahaman sesuai dengan kebutuhan maupun perubahan zaman.

 Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nyoman, dkk pada tahun 2019, terdapat beberapa skills yang dibutuhkan oleh guru dalam kelas dan sesuai pada visi dari Kurikulum Merdeka:

1. Question Skill
Skill ini merupakan hal yang wajib dimiliki oleh guru untuk meningkatkan pemikiran kritis, problem solving skill, dan rasa kepercayaan diri. Hal ini dapat dilakukan di tengah kegiatan mengajar dengan maksud untuk tetap berekspresi, fokus, berdiskusi dan menyederhanakan pemahaman dari materi yang disampaikan.

2. Reinforcement Skill
Reinforcement disini berarti penguatan pemahaman dari apa yang disampaikan oleh guru di dalam kelas. Hal ini dapat berupa feedback atau tanggapan oleh siswa dalam kelas dan ekspresi, gestur, gerakan maupun aktivitas menyenangkan lainnya dalam proyek tugas yang diberikan.

3. Variation Skill
Kunci dari variasi disini bermaksud untuk menghilangkan rasa bosan siswa dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Variasi dapat berupa break untuk meluapkan emosi sejenak atau mengobrol bahkan bercerita bersama. Kegiatan semacam ini dapat kembali memfokuskan siswa kembali di dalam pembelajaran.

4. Explaining Skill
Pada dasarnya, dalam kegiatan belajar mengajar siswa memerlukan pemahaman konseptual dari materi yang diterimanya. Skill yang diperlukan guru dalam mempersiapkan dan menyampaikannya secara logis namun dengan gambaran tentang why, what, dan how sesuatu tersebut terjadi.
5. Opening and Closing Skill
Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, siswa biasanya memerlukan atmosfer khusus untuk menyenangkan mentalnya di kelas. Hal ini dapat pula berasal dari cara pembawaan dan pembukaan kalimat yang disampaikan guru.

  1. Small Group Discussion (SGD)

SGD adalah hal mendasar yang biasanya dilakukan di dalam kelas apabila terdapat isu yang membutuhkan interaksi face-to-face. Beberapa komponen dari SGD diantaranya adalah memfokuskan perhatian pada masalah, mengklasifikasi masalah, analisis sudut pandang siswa, mengembangkan deskripsi masalah, berdiskusi atas solusi, dan tentu menyampaikan kesimpulan berupa solusi.

  1. Classroom Management Skill

Manajemen kelas disini diartikan agar situasi belajar mengajar masih kondusif dan menyenangkan, materi yang disampaikan guru juga dapat diterima oleh siswa karena semua pihak dalam kelas terkondisikan dengan baik.

  1. Skill of Organizing Small Group and Individual Work

Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan diantaranya adalah pendekatan personal, manajemen diri, penerjemahan dan panduan pembelajaran, serta implementasi aktivitas belajar pada tiap bab yang disampaikan.


Sumber: naik pangkat. com

Senin, 07 Maret 2022

Sistematika Laporan PTK, Bagaimana?


Bagian Pembuka : halaman sampul, pengesahan, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar lampiran, daftar tabel 
Bagian Isi Laporan: (minimal 40 halaman, tidak termasuk bagian pembuka dan lampiran)
Bab I PENDAHULUAN 
Latar Belakang Masalah (dan alternatif tindakan.Jelaskan: kondisi ideal, kondisi riil selama ini- didukung data hasil refleksi awal- ,  penyebab munculnya masalah serta alternatif tindakan yang dipilih).
B. Rumusan Masalah (Sesuai dengan latar belakang dan judul penelitian)
C. Tujuan Penelitian  (Menjelaskan jawaban atas pertanyaan atau masalah pokok yang dirumuskan)
D. Manfaat Penelitian (1. Bagi Siswa; 2. Bagi Guru; 3. Bagi Sekolah; 4. Bagi Depdiknas)
Bab II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS 
Kajian Pustaka (kajian masalah dan alternatif tindakannya)
Teoritis (menurut keilmuan yang telah mapan)
Empiris (hasil peneitian terdahulu)
Implementasi model pembelajaran (di mapel guru yang bersangkutan)
B. Kerangka Berpikir  (Dengan Bagan, Jelaskan: relevansi antara:
-Kondisi awal (hasil refleksi awal)
-Tindakan  (Implementasi model pembelajaran yang dipilih)
-Kondisi Akhir (Hasil yang diharapkan)
C. Hipotesis Tindakan 
Bab III METODE PENELITIAN 
A. Tempat dan Waktu 
B. Subjek Penelitian 
C. Prosedur Penelitian (blue print / desain penelitian, minimal 2 siklus)
1. Siklus 1 (Penjelasan global tentang tahap Perencanaan, Pelaksanaan (Minim 3 Pertemuan), Pengamatan, dan Refleksi )
2. Siklus II (Penjelasan global tentang tahap Perencanaan, Pelaksanaan(Minim 3 Pertemuan), Pengamatan, dan Refleksi )
D. Pengumpulan Data 
E. Analisis Data 
F. Indikator Penelitian  ( Indikator  keberhasilan Tindakan )
Bab IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 
Deskripsi Hasil Tindakan Siklus I 
1. Perencanaan (Kegiatan Awal, Inti, Penutup)     
2. Pelaksanaan 
     *Tindakan guru sudah sesuai perencanaan awal?
     *Bagaimana  implementasi tindakan guru?
     *Dapat ditampilkan foto KBM beserta deskripsinya
3. Pengamatan 
    *Bagaimana proses  pelaksanaan tindakan guru ?
    *Bagaimana dampaknya bagi siswa?
    Jelaskan: PBM guru, Kondisi  siswa, situasi klas, hasil belajar (Tampilkan tabel / grafik disertai deskripsi)
 4. Refleksi (Jelaskan keberhasilan  dan kegagalan yang ditemui serta  upaya tindak lanjutnya)
B. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus II  (Lihat : sub bab Siklus I)
C. Deskripsi Peningkatan Hasil Tindakan 
D. Pembahasan Hasil Penelitian 
1. Perkembangan kinerja  guru (tindakan guru sejak Siklus I hingga Siklus II)
*Dapat berbentuk grafik disertai deskripsi atau narasi.
2. Perkembangan kualitas  proses maupun hasil belajar (Dampak tindakan guru  sejak Siklus I hingga Siklus II)
*Dapat berbentuk grafik disertai deskripsi  atau narasi.
3. Perkembangan hasil refleksi   sejak Siklus I hingga Siklus II (disertai pembahasan berbagai teori keilmuan dan hasil penelitian  yg relevan)
Bab V KESIMPULAN DAN SARAN 
Kesimpulan  (*Sintesis  yg menyeluruh dan terpadu) 
       1. Pelaksanaan tindakan guru (Implementasi model pembelajaran yang telah dilakukan guru)
       2. Dampak tindakan  guru bagi siswa
      B. Saran  (*operasional dan mudah dimengerti) 1. Bagi Siswa;2. Bagi Guru; 3. Bagi Sekolah;4. Bagi Depdiknas.
DAFTAR PUSTAKA 
LAMPIRAN 
Menurut Suhardjono (2013), Selaku Ketua TIM PAK PUSAT JAKARTA, harus dilampirkan dokumen kegiatan penelitian di tiap pertemuan pembelajaran atau tiap siklusnya (di setiap tahapan),  meliputi: Biodata; Jadwal Penelitian (hari, tanggal, jam tiap pertemuan di tiap siklusnya); RPP + skenario PBM; instrumen yang digunakan;  contoh isian instrumen; foto disertai narasinya tentang kegiatan guru, siswa dan observer; surat izin penelitian; rencana pembelajaran (RPP); Surat pernyataan Keaslian dari Kepala Sekolah; Surat Pernyataan guru mitra selaku observer;  Contoh hasil kerja bserver, Contoh hasil kerja guru seperti hasil koreksi guru, analisis hasil  belajar, dan jurnal pembelajaran (catatan lapangan); Contoh hasil kerja siswa (sekitar 10 anak ) selama proses hingga akhir pembelajaran; Lembar instrumen penelitian + contoh isiannya;    surat ijin penelitian,  foto-foto kegiatan, daftar hadir untuk semua pertemuan,  surat pernyataan dari kepala sekolah mengenai keaslian naskah, Dokumen seminar: berita acara, notulen, daftar hadir, kepanitiaan, makalah, bahan presentasi, surat keterangan dari KS dan Panitia seminar, foto kegiatan seminar, dan dokumen penelitian lainnya yang menunjang kelengkapan laporan.

 (* Penyunting tinggal di: www.tghbasuki.blogspot.com)

Kamis, 24 Februari 2022

PERENCANAAN, PELAKSANAAN, DAN EVALUASI PENDIDIKAN, BAGAIMANA?



A. PERENCANAAN PROGRAM 

1, Visi Sekolah 
Visi sekolah adalah cita-cita bersama warga sekolah dan segenap pihak yang berkepentingan, yang menggambarkan dan memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan untuk kepentingan masa mendatang
2. Misi Sekolah Misi adalah arah untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan, menjadi dasar program pokok sekolah dengan penekanan pada kualitas layanan pada peserta didik dan mutu lulusan yang diharapkan.Misi sekolahmemuat pernyataan umum dan khusus yang berkaitan dengan program sekolah, serta pengembangannya.

3. Tujuan Sekolah
Sekolah merumuskan dan menetapkan tujuan serta mengembangkannya, mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional serta relevan dengan kebutuhan masyarakat
4. Rencana Kerja SekolahRencana Kerja jangka menengah (empat tahun) : menggambarkan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu empat tahun berkaitan dengan mutu lulusan yang ingin dicapai , serta perbaikan komponen pendukungnya.


B. PELAKSANAAN RENCANA KERJA
1. Pedoman Sekolah1)kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP);2)kalender pendidikan/akademik;3)struktur organisasi sekolah;4)pembagian tugas di antara guru;5) pembagian tugas di antara tenaga kependidikan;6) peraturan akademik;7) tata tertib sekolah;8) kode etik sekolah;9) biaya operasional sekolah


 2. Struktur Organisasi Sekolah
Semua pimpinan, pendidik, dan tenaga kependidikan mempunyai uraian tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang jelas tentang keseluruhan penyelenggaraan dan administrasi sekolah/madrasah.
3. Pelaksanaan Kegiatan Sekolahdilaksanakan berdasarkan rencana kerja tahunan;dan dilaksanakan oleh penanggung jawab kegiatan yang didasarkan pada ketersediaan sumber daya yang ada.

 4. Bidang KesiswaanSekolah menyusun dan menetapkan petunjuk pelaksanaan operasional mengenai proses penerimaan peserta didik.Sekolah memberikan layanan konseling kepada peserta didik, melaksanakan kegiatan ekstra dan kokurikuler untuk para peserta didik, melakukan pembinaan prestasi unggulan, melakukan pelacakan terhadap alumni.

 5. Bidang Kurikulum dan Kegiatan Pembelajaran
a. Penyusunan KTSP1) Penyusunan KTSP memperhatikan Standar Isi, Skl, dan peraturan pelaksanaannya dikembangkan sesuai kondisi sekolah, potensi atau karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.2) silabus setiap mata pelajaran yang diampunya sesuai dengan Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan, dan Panduan Penyusunan KTSP.3. Penyusunan KTSP tingkat SMA di koordinasi, disupervisi dan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi


 b. Penyusunan Kalender Pendidikan
1) Sekolah menyusun kalender pendidikan/akademik yang meliputi jadwal pembelajaran, ulangan, ujian, kegiatan ekstrakurikuler, dan hari libur.2) didasarkan pada Standar Isi, berisi mengenai pelaksanaan aktivitas sekolah selama satu tahun dan dirinci secara semesteran, bulanan, dan mingguan;3) Sekolah menyusun jadwal penyusunan KTSP.4) Sekolah mata pelajaran yang dijadwalkan pada semester gasal, dan semester genap.

c. Program Pembelajaran
Sekolah menjamin mutu kegiatan pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dan program pendidikan tambahan yang dipilihnya dan kegiatan pembelajaran didasarkan pada Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, dan peraturan pelaksanaannya, serta Standar Proses dan Standar Penilaian.
d. Penilaian Hasil Belajar Peserta DidikPenilaian hasil belajar disesuaikan dgn Standar Penilaian Pendidikan.

e. Peraturan Akademika) persyaratan minimal kehadiran siswa untuk mengikutipelajaran dan tugas dari guru;b) ketentuan mengenai ulangan, remedial, ujian, kenaikankelas, dan kelulusan;c) ketentuan mengenai hak siswa menggunakan fasilitasbelajar, laboratorium, perpustakaan, penggunaan bukupelajaran, buku referensi, dan buku perpustakaan;d) ketentuan mengenai layanan konsultasi kepada gurumata pelajaran, wali kelas, dan konselor.Peraturan akademik diputuskan oleh rapat dewan pendidik dan ditetapkan oleh kepala sekolah.

6. Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Penyusunan program pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan memperhatikan Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan dikembangkan sesuai dengan kondisi sekolah,

Pendayagunaan PTK:1) asas kemanfaatan, kepatutan, dan profesionalisme;2) diidentifikasi secara sistematis sesuai dengan aspirasi individu, kebutuhan kurikulum dan sekolah;3)disesuaikan dengan kebutuhan baik jumlah maupun kualifikasinya dengan menetapkan prioritas;4) mutasi tenaga kependidikan dari satu posisi ke posisi lain didasarkan pada analisis jabatan dengan diikuti orientasi tugas oleh pimpinan tertinggi sekolah yang dilakukan setelah empat tahun, tetapi bisa diperpanjang berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, sedangkan untuk tenaga kependidikan tambahan tidak ada mutasi.

7. Bidang Sarana dan Prasarana
1)merencanakan, memenuhi dan mendayagunakan sarana dan prasarana pendidikan;2) mengevaluasi dan melakukan pemeliharaan sarana danprasarana agar tetap berfungsi mendukung prosespendidikan;3) melengkapi fasilitas pembelajaran pada setiap tingkatkelas di sekolah;4) menyusun skala prioritas pengembangan fasilitaspendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan dankurikulum masing-masing tingkat;5) pemeliharaan semua fasilitas fisik dan peralatandengan memperhatikan kesehatan dan keamananlingkungan.

8. Bidang Keuangan dan Pembiayaan
1)sumber pemasukan, pengeluaran dan jumlah dana yangdikelola;2) penyusunan dan pencairan anggaran, serta penggalangandana di luar dana investasi dan operasional;3) kewenangan dan tanggungjawab kepala sekolah/madrasahdalam membelanjakan anggaran pendidikan sesuai denganperuntukannya;4) pembukuan semua penerimaan dan pengeluaran sertapenggunaan anggaran, untuk dilaporkan kepada komitesekolah/madrasah, serta institusi di atasnya.

9. Budaya dan Lingkungan Sekolah
a. Sekolah menciptakan suasana, iklim, dan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk pembelajaran yang efisien dalam prosedur pelaksanaan.b. Adanya tata-tertib dan kode etik warga sekolahc. Adanya bimbingan dengan teladan, pembinaan , pengembangan kreativitas dari pendidik dan tenaga kependidikan.

10. Peran serta Masyarakat dan Kemitraan Sekolah
Sekolah melibatkan warga dan masyarakat pendukung sekolah/madrasah dalam mengelola pendidikan baik secara akademik dan non akademik.Keterlibatan peran serta warga sekolah dan masyarakat dalam pengelolaan dibatasi pada kegiatan tertentu yang ditetapkan.

C. PENGAWASAN DAN EVALUASI
Penyusunan program pengawasan di sekolah/madrasah didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan dan Program pengawasan disosialisasikan ke seluruh pendidik dan tenaga kependidikan.

  • Setiap pihak yang menerima laporan hasil pengawasan menindaklanjuti laporan hasil pengawasan tersebut dalam rangka meningkatkan mutu, termasuk memberikan sanksi atas penyimpangan yang ditemukan, mendokumentasikan dan menggunakan hasil pemantauan, supervisi, evaluasi, dan pelaporan serta catatan tindak lanjut untuk memperbaiki kinerja, dalam pengelolaan pembelajaran dan pengelolaan secara keseluruhan.