Warisan terbesar Guru adalah Buku, Fiksi, Non Fiksi, Atau satu huruf Alif sekalipun! Agar mengundang banyak tanya bagi anak-didik kita? Maka, Menulislah seperti orang jatuh cinta (Kata Kang Mashuri, Penyair Muda Jawa Timur an) Tanpa Cinta dengan profesi kita. Kita memang tak membuahkan apa-apa. Hanya getah dan busa tak bermakna Yang kita wariskan. Dan, itu racun bagi anak didik kita! Mengapa kita tak meracik anti virus (Buku) yang menyehatkan Dan membahagiakan anak-didik kita?
Senin, 13 Juli 2020
Rapat Er_Te
Minggu, 12 Juli 2020
Sampah
Sabtu, 11 Juli 2020
Ayam Kate
Surat Cintaku
Salah Kamar
Sabtu, 04 Juli 2020
Diseminasi, untuk apa?
Urgensinya Diseminasi Penelitian
Penelitian dan perguruan tinggi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Akademisi perguruan tinggi menggunakan penelitian sebagai cara untuk menjelaskan fenomena tertentu sesuai dengan bidang keahliannya. Penelitian
yang efektif mampu menghasilkan suatu temuan yang selain bermanfaat dalam memperluas khasanah ilmu juga dapat dipergunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia.Untuk menghasilkan dampak yang berarti, hasil temuan suatu penelitian harus diketahui oleh masyarakat, baik secara spesifik dalam kelompok tertentu maupun kepada kalangan umum. Hal ini mendorong kebutuhan akan diseminasi penelitian. Diseminasi dapat diartikan sebagai penyebarluasan ide atau gagasan kepada khalayak, biasanya kepada kelompok tertentu seperti sesama akademisi, pengamat, juga masyarakat yang membutuhkan.
Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh seorang peneliti untuk mendiseminasikan karya penelitiannya. Salah satunya adalah melalui presentasi hasil penelitian. Presentasi lazim dilakukan dalam kegiatan seminar dan konferensi baik di tingkat universitas hingga internasional. Kemudahan akses informasi melalui internet juga membuka peluang bagi peneliti untuk menyebarkan gagasannya dalam berbagai media seperti artikel daring, rekaman audio maupun video, infografis dan sebagainya.
Diseminasi, sesungguhnya__ test case __(disamping publikasi) via sidang terbuka (seminar) sehingga kebenaran ilmiah bisa teruji di hadapan publik (khususnya, para ahli yang membidangi).
Maka, di kalangan guru (level sekolah), seyogyanya menghirup iklim akademik di perguruan tinggi sehingga perlu dibudayakan sejak di jenjang Dikdas sekalipun.
Dalam hal ini, seminar penelitian perlu (wajib, menurut saya) dihadiri pengawas dan kepala sekolah, serta guru (juga, stakeholder yang lain, tentunya sehingga ditemukan inovasi dan formula baru untuk akselerasi kemajuan di dunia pendidikan.
Allahu A'lam
Rabu, 06 Mei 2020
Man Anta?
Mengambil palu-Ku
menghakimi sesama
engkau, siapa?
Mencuri selendang-Ku
mengibarkan angkuhnya jiwa
engkau, siapa?
Bertingkah makar di altar-Ku
Semau hawa
engkau, siapa?
Bertindak liar di singgasana-Ku
Menerbangkan sayap dusta
engkau, siapa?
Mengaku abdi
Memboyong pelana-Ku semaunya
engkau, siapa?
Mengobral wacana
Menguras laut-Ku tanpa asa
engkau, siapa?
Memutar lidah
Menghabiskan malam-Ku tanpa cinta
engkau, siapa?
Mengaum sepanjang siang
Merampas matahari-Ku dengan rakusnya
engkau, siapa?
Bermain logika
Menjadi berhala
engkau, siapa?
Melipat-gandakan busa
Tanpa aroma
engkau,
hanya berkata-kata
Tanpa makna
Juga, tanpa bukti nyata
***









